DA Academy

Kalau melihat tulisan DA, imajinasi saya pasti tertuju pada salah satu film Korea yang saya suka. Film yang dibuat tahun 2003. Ya ampun, itu berarti sudah 10 tahun silam. Waktu cepat sekali berlalu. Oh ya apa tadi? DA. Itu nama salah satu tokoh utamanya. DA Lee.

Dan bukan soal DA Lee yang mau saya tulis melainkan DA Academy yang tayang di stasiun televisi swasta. Yang kemungkinan besar saat (menulis) ini juga masih tayang. Tapi saya akhir-akhir ini memang kesulitan membetahkan diri di depan televisi. Kalau pukul 19:00 Anda melihat saya khusuk menonton televisi, bisa jadi pukul 19:15 Anda melihat saya tidur pulas dengan wajah tidak berdosa. Sepertinya televisi mempunyai fungsi baru sebagai pengantar tidur. Tapi sayang ketika saya coba pada keponakan saya, fungsi itu tidak berjalan sesuai harapan. Cukup saya yang pindah alam.

Sampai mana tadi? Tu kan jadi tidak fokus. Kemungkinan besar ini akibat saya cukup lama menelantarkan lapak ini. Jadi kemampuan menulis saya yang tak seberapa pun menjadi semakin rendah indeksnya.

Oke, kita anggap saja semua baik dan tidak terjadi sesuatu. Selesai. Kembali soal DA Academy. Ini adalah ajang untuk menemukan penyanyi dangdut yang profesional. Acara dibuka dengan penampilan para juri yang menghibur penonton dengan sebuah lagu, yang saya lupa tak mencatat judulnya. Mereka adalah Saiful Jamil, Iis Dahlia, Inul Daratista, dan Beniqno. Mereka membawakan sebuah lagu dangdut yang kata saya enak didengar. Membuat ingatan saya sedikit berputar ke masa lampau. Mencari padanan lagu serupa yang pernah saya dengar. Kiranya kapankah itu?

Tak lama berselang setelah juri menempati tempat yang disediakan, segera disajikan performa dari peserta atau kontestan. Penampilan pertama dibawakan oleh peserta dari Banten bernama Adit. Dia menyanyikan lagu berjudul ‘Dua Dua’. Dan bingo! Perputaran ingatan di kepala saya menemukan jawaban rentang waktunya! Yihi!

Jadi kapankah saya mendengar lagu-lagu dangdut semacam itu? Yang saya ingat, saya sempat menikmati lagu-lagu dangdut yang diputar di tetangga yang sedang hajatan. Dangdut dengan penyanyi Rhoma Irama, Iis Dahlia, Evie Tamala, Meggi Z, Nia Daniati. Dangdut yang didominasi dengan seruling, tidak terlalu ber-gendang. Dangdut yang sopan dan bermartabat, baik penyanyi maupun kata-katanya. Dangdut tanpa teriakan dan desahan kampungan. Dangdut yang memang layak didengarkan dan dinyanyikan. Dan ternyata dangdut macam itu saya dengar waktu masih duduk di bangku SD. Berapa lama kah itu? Kalau saya tega mengatakan bahwa ingatan saya terakhir menunjuk pada kelas 2 SD (sekitar 6 tahun) berarti ya itu hampir 18 tahun yang lalu!

Jadi? Saya dengan berat hati akan mengatakan pantas saja dangdut jaman sekarang (yang saya dengar di bus, di pasar, di kondangan), teramat sangat berbeda dengan dangdut jaman dahulu. Lha wong terpisah jarak 18 tahun? Ibarat bayi dengan remaja. Mestinya sih tambah baik kualitasnya, bukan sebaliknya seperti sekarang.

Dan menurut hemat saya, daripada bertanya ini salah siapa, lebih baik kita harus bisa mengembalikan martabat dangdut seperti dulu. Jangan sampai musik dangdut kian rusak oleh bocah-bocah tengik yang kurang berpendidikan (pendidikan jangan hanya dilihat dari jajaran S-S-nya tapi dari moral dan mental) yang hanya mengejar materi. Caranya adalah dengan hanya membeli produk dangdut yang memang layak dibeli, yaitu dangdut yang bermartabat baik penyanyinya maupun kata-katanya. Lha yang bermartabat itu seperti apa? Pepatah Jawa berikut ini setidaknya bisa jadi acuan : ‘ajining diri dumenung soko lathi lan ajining rogo dumenung soko busono’. Kalau nggak ngerti coba googling aja yach.😉

Terakhir, karena saya tidak menonton DA Academy full episode, saya cuma berharap semoga acara tersebut benar-benar menampilkan dangdut yang bermartabat. Amin.

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Opini and tagged , . Bookmark the permalink.

9 Responses to DA Academy

  1. Haya Najma says:

    hihihi.. tarik maang

  2. xrismantos says:

    Buka sithik JOSSS😀

    Susah juga ya. Ga cuman dangdut, semua genre musik berevolusi mengikuti selera pasar. Seniman (dalam hal ini para pemusik dandut) juga perlu duit buat hidup. Seniman idealis kalo ga bener2 berbakat susah hidup di jaman ini…

  3. ayanapunya says:

    Kirain acara apa tadi. Tenyata dangdut to. Hehe. Tapi memang musik jaman dulu lebih baik dari musik jaman sekarang, terutama dari segi liriknya

  4. Apa yakin para penerusnya itu akan konsisten kembali ke khittah, ke masa 70-80an yang santun?

  5. rinisyuk24 says:

    Aku tak mengira dirimu menikmati lagu-lagu dangdut jadul. Melihat dua jurinya adalah Saipul Jamil dan Inul Daratista, pesimis uy dapat mengembalikan dangdut seperti yang dulu dirimu nikmati.

  6. lazione budy says:

    haha…,
    saat keluarga pada nonton ini acara saya langsung menyepi. bukannya ga menghormati kumpul keluarga, tapi acaranya itu lho.
    haduuh. sepintas pas ada juri yg jorokin sampai kena penonton ibu-ibu trus minta maaf, acara amatir!

  7. alfath says:

    DA film korea apaan ya?😀
    gatau soalnya hehe..

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s