Meracau-lagi-

Cukup lama sepertinya saya menganaktirikan lapak ini. Padahal bukan berarti ada yang tidak-dianak-tirikan.

Di sore yang cerah, di perjalanan menuju Bojonegoro yang disuguhi bentangan sawah dengan padi  yang mulai menunduk dan menguning, mendadak suasana hati saya jadi kacau. Mungkin saya karena terlalu dramatis dan suka berimajinasi liar. Melihat padi yang terbentang itu saya teringat kejadian tadi pagi. Ketika pagi saya menghitung tingkat produktivitas padi bersama bapak-bapak gapoktan. Mereka begitu bersemangat. Usianya tidaklah muda, hampir 70 tahun. Rambut di kepala mereka hampir semua sudah memutih. Kumisnya juga sudah tak ada yang hitam. Bahkan gigi mereka sudah banyak yang tanggal. Tapi semangat mereka membuat saya juga bersemangat. Bagaimana tidak, seorang bapak yang pasti tua begitu antusias menghitung. Padahal saya membawa metode baru. Beliau bilang, “Bagaimana Mbak? Ini metode baru ya? Tolong saya dijelaskan, saya ingin tahu juga.” Ah bapak, kau membuat saya malu. Bagaimana bisa, semangat belajar saya tak bisa sepertimu. Padahal usia saya kan hanya sepertiga usia bapak? T,T

Tapi anehnya, saya malah berimajinasi dan terbayang yang lain, lalu menanyakan hal yang mungkin sebaiknya tidak saya tanyakan. Para petani yang bersama saya pagi itu semua telah berusia senja. Di manakah orang-orang yang masih muda? Setidaknya mereka yang ‘life began at fourty’? Bukankah negeri tempatku menginjakkan kaki dikenal sebagai negara agraris? Lalu, di mana penerusnya?

“Pak, orang-orang yang muda pada kerja di mana?” tanya saya tak kuasa menyimpan isi hati *sok-dramatis. Padahal pas tanya juga seingat saya sih sambil senyum-senyum*

“Yang muda pada di pabrik, Mbak.”

“Lha tanah-tanah ini masih punya warga sini kan Pak?” tukas saya.

“Iya. Tapi nanti kalau kami mati bakal dijual, Mbak!”

“Eh?” saya speachless.

Lalu di bis ini dan sore ini. Sepanjang Gresik-Babat, sudah berapa kali ada pengamen naik. Itu hal biasa sebetulnya di negara agraris Indonesia. Tapi kali ini ada yang sedikit berbeda dan mengusik hati saya. Menambah kekacauan yang terjadi. Bagaimana tidak? Pengamen yang naik itu semua adalah perempuan! Dan mereka pasti menggendong anak!

Ah, anak-anak! Saya memang bukan orang yang bersikap dramatis pada anak-anak. Tapi percayalah, saya mencintai mereka. Saya sebetulnya menyukai mereka. Saya suka setiap kali melintas sekolah yang sedang bubar dan melihat anak-anak itu berlarian saling mengejar. Dengan pakaian mereka yang tak lagi rapi, ada noda di sana-sini, bahkan yang terlihat kekecilan. Saya suka melihat semua itu. Saya suka mendengar tawa mereka. Dan juga saya amat suka melihat wajah polos mereka berkombinasi dengan ingus yang tersisa. Ahaha. Bagian itulah yang sejujurnya paling saya suka.:mrgreen: Itu membuat mereka betul-betul terlihat anak-anak.

Lalu, kenapa setelah mereka beranjak dewasa, mereka menjadi makhluk yang tak lagi menyenangkan? Meski jelas bukan semua. Dan bagaimana dengan anak yang di gendongan ibu pengamen itu? Ah, imajinasi saya makin liar yang bahkan saya sendiri pusing dibuatnya. Pun, saya juga masih begini-begini saja sampai saat (menulis) ini. Ya Allah, ampunilah saya.

Ya, dan karena ini ceracauan senja maka biarlah. Tak perlu dirisaukan. Saya hanya mengikuti sebuah kalimat bijak, “Menulis itu melegakan hati”.

Dalam bis, 27022014

Dan sekarang saya harus mencatat ucapan Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur, bapak M. Sairi, MA. Bahwa,

Hidup itu hanya seperti sajadah panjang, dari buaian kaki ke tepian. Karenanya, dalam hidup yang teramat singkat, kita hanya perlu mengisi kehidupan ini untuk bermanfaat bagi banyak orang. Dalam hidup, kita tidak bermakna kecuali kita dimaknai dan dipakai oleh banyak orang.

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Meracau-lagi-

  1. Nggih leres sanget, Pak Sairi. Matur nuwun pikantuk wejanganipun.

    Saya sedih, orang Malaysia, Cina, Thailand, dan Korea sudah mempunyai berhektar-hektar sawah di sini, sementara tuan rumahnya menjadi buruh tani. Anak-anak mudanya enggan belajar ilmu pertanian, yang kaya enggan berinvestasi di bidang agrobisnis. Sedih.

  2. jampang says:

    dulu masih kecil pasti ingusan kaya anak pengamen itu yah😀

    *pisssss*

  3. rinisyuk24 says:

    Aku pernah dengar ada gerakan wakaf sawah, karena sawah banyak yang sudah beralih fungsi menjadi perumahan atau pabrik. Semoga semangat bapak petani itu masih ada yang meneruskan ya.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s