Pelanggaran

Dalam keseharian, kita hidup tidak bisa lepas dari lalu lintas. Dalam berlalu lintas, ada peraturan-peraturan yang dibuat untuk ditaati. Kenapa? Yang jelas demi keselamatan dan kenyamanan bersama. Jadi kalau ada yang bilang bahwa peraturan dibuat untuk dilanggar, itu artinya yang bilang belum lulus Sekolah Dasar. Isn’t it?😉

Namun dalam kenyataannya, saya jauh lebih sering menemukan peraturan itu tidak ditaati. Bahkan saya sendiri juga melakukannya. Alamak! Hal yang paling umum saya jumpai adalah tidak memakai helm dan menerabas rambu lalu lintas seperti lampu bangjo dan verbodden. Kalau saya sih paling terpaksa tidak memakai helm.😀 Kalau soal menerabas lampu lalu lintas, saya malah akan mengomeli yang menerabas. *Eaaaaa

Ceritanya, tadi malam saya sedang bersama seorang teman. Biar mudah, kita panggil dia Ciprut. Kami hendak pergi ke suatu tempat yang berjarak kurang dari 5 km mengendarai motor. Si Ciprut ini tidak membawa helm dua. Jadi kami nekad pergi dengan saya tidak berhelm. Dan kami sedang berada di daerah kota Surabaya di kawasan tertib lalu lintas.

Kami tidak punya perasaan apa pun di jalan itu. Entah itu firasat buruk atau sejenisnya. Kami juga tidak bernegatif thinking atau was-was lantaran penumpang tak berhelm. Kami juga tidak berimajinasi liar dan berhitung estimasi peluang kejadian buruk yang bisa menimpa kami. Dan kabar tidak sedapnya, kami terlalu santai dan sama sekali tidak mempersiapkan strategi untuk mengantisipasi jika terjadi sesuatu yang buruk. Kami lupa, bahwa kami sedang melakukan pelanggaran. Tragis.

Kami berbincang santai di motor. Ternyata kurang dari 400 meter kami sampai tujuan, pak polisi lalu lintas telah siap sedia menegakkan disiplin berlalu lintas. Ciprut yang menyadari keberadaan mereka langsung menepi. Saya tak sempat bertanya, namun lampu sirine kendaraan mereka sudah menjawab. Saya langsung turun lalu balik kanan menuju halte yang baru saja kami lewati. Entah bagaimana perasaan Ciprut, saya meninggalkannya begitu saja sambil berdoa semoga semua baik-baik saja. Ahaha.

Ciprut pun mengambil langkah cerdas dengan langsung meluncur sebelum pak polisi datang menghampiri. Beberapa detik setelah itu, saya menelpon Ciprut,  saya harus menyusulnya ke mana. Dan dia pun baik hati. Dia menunggu saya di jarak sekitar 100 meter dari kerumunan pak polisi.

Berjalanlah saya dengan anggun dari halte itu menuju tempat Ciprut menunggu saya. Dan pak polisi yang tadi, terus melihat saya berjalan dengan tatapan entahlah. Mungkin mengagumi ketengilan kami. Ahaha.:mrgreen:

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Intermezzo and tagged , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Pelanggaran

  1. Rahmat_98 says:

    boleh juga di tiru triknya nich😀

  2. xrismantos says:

    Dasar tengil!! Pak polisinya naksir kali😀

  3. rinisyuk24 says:

    ckckck dirimu berani juga ternyata,

  4. jampang says:

    😀

    harusnya dikasih peringatan. perbuatan atau trik ini tidak boleh ditiru dan jangan dilakukan saat anda berkendaraan

  5. lazione budy says:

    operasi operasi operasi!

    pelanggaran yang sudah menjadi lumrah.

  6. Pingback: Bahagia itu Sederhana | Life Fire

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s