Persimpangan Waktu

Kau datang di persimpangan waktu dan membuatnya harus memilih. Pilihan itu mungkin sangat keras dan menyakitkan meski batasnya amatlah jelas, karena ianya memang tipis. Sangat tipis.

Kau ada di persimpangan waktu dan menghentikan langkahnya. Bahkan bisa dikata, dia hendak menyamai langkahmu. Padahal seharusnya kau tahu, kalau perlu seluruh dunia pun harus tahu, bahwa dia telah memutuskan jalan mana yang ia pilih untuk ia tempuh. Tapi jika kau dan dia memutuskan jalan yang sama, kau dan dia tentu akan bersama. Namun bukan di persimpangan waktu itu kau dan dia memulai langkah bersama.

Kau yang datang pertama kali saat dia bahkan belum mengerti untuk apa ia hidup. Tapi baginya kaulah yang pertama. Meski itu tiada artinya.

Dan kau yang menemaninya dan ditertawakan olehnya di balok besi besar panjang dan berrongga yang beroda. Itu sungguh berkesan baginya. Namun sebatas kesan saja.

Kau yang datang pertama kali di batasan waktu yang baru. Hanya sejauh roda berputar tak lebih dari sejuta kali. Kau yang menampar hatinya. Membuatnya menyebut namamu dalam doa. Demi keselamatanmu di sana. Ah, tapi itu terlampau tak adil baginya. Menunggumu bukanlah sesuatu yang bisa diterima akal sehat. Jadi mudah saja, ini urusannya semata. Dan kau tak perlu risau. Waktu adalah obat mujarab untuk setiap luka. Termasuk lukanya. Kau tahu? Dia bahkan sangat suka dengan cara waktu menyembuhkan luka. Entah dengan membuatnya lupa atau menjadikan dia mengerti lalu dia hanya tertawa. Dan urusan yang rumit pun selesai.

Kau yang datang menghampiri.
Meski dia yang mengupayakan. Dan bukan sebuah kebetulan, di persimpangan waktu itu kau sedang berlari dan butuh sedikit jeda untuk beristirahat. Dia yang menawarimu ruang itu. Ya, kau harus tahu bahwa dia memang terlalu lugu dan naif. Dia terlalu ber-positif thinking. Meski akhirnya kau kembali pada masa lalumu. Namun kau juga harus tahu, bahwa karenamu dia belajar bebarapa hal. Bahkan dia juga berkarya. Dan sebuah karya itu sangat berarti kala ia berguna. Dan itulah yang terjadi. Ketahuilah itu.

Dia meneruskan hidupnya kembali. Lalu kau datang di persimpangan selanjutnya. Kali itu, kau yang benar-benar datang menghentikannya. Dan kau bahkan telah membuatnya jatuh. Karena kau begitu misterius. Ya, kau memang orang yang baik bahkan dari tolak ukur yang pertama. Itulah hal yang membuatnya terjatuh. Hingga dia memutuskan untuk bangkit. Dan tiba di ujung persimpangan, kau dan dia berpisah. Namun hingga kini, kau tetap seorang yang misterius.

Kau yang datang hampir bersamaan. Ah ini lucu sekali. Kau yang membuatnya mengira bahwa segala sesuatunya akan berakhir di sana. Membuatnya kehilangan beberapa kilogram berat badannya. Tapi hadirmu membuatnya menyadari jalan apa yang telah dia pilih. Dan kau juga demikian. Meski karenamu, ada yang harus dikorbankan. Kau juga membuatnya sedikit ketakutan. Ya bisa jadi karena Tuhan tahu tentang masa depan, kau hadir bersamaan. Tapi sekali lagi karena kau, dia jadi sadar betul jalan apa yang ia putuskan. Doa darinya, semoga Tuhan berikan yang terbaik untukmu karena kau dan dia berbeda jalan.

Dan juga kau. Sepenggal kisah yang manis. Sulit digambarkan dengan kata. Kemudahan itu dan pilihan sikap yang dia ambil. Mungkin kau dikirim oleh-Nya untuk memberinya pemahaman. Tentang jalan yang ia tentukan. Tentang hati dan tekad. Juga tentang perjuangan. Kepastian jalan itu, bukan hanya tentang dengan siapanya. Tapi lebih pada untuk apa.

Dan kau, yang datang di makan malam itu dan tidak melihatnya makan. Pertemuan itu membuat hatinya kacau. Dia berharap sangat kalau hatimu jauh lebih kacau dari pada hatinya. Lalu dia kembali menjadi begitu naif berharap kau akan datang dan selesailah kekacauan itu. Baik yang di hatimu maupun di hatinya.

Kini, dia sudah benar-benar lelah. Berulang kali bertemu dan (terpaksa) berhenti di persimpangan waktu. Kini, dia sudah benar-benar jemu. Berulang kali (terpaksa) menetes air matanya meski tak seorang pun tahu. Dia sudah bosan. Teramat bosan. Maaf jika tulisan ini kubuat untuknya lalu hatimu terluka. Karena dia sudah habis kata.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Others and tagged , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Persimpangan Waktu

  1. jampang says:

    bukankah hidup memang penuh dengan persimpangan a.k.a pilihan?

  2. Galuh Nindya says:

    ya, mungkin memang bukan tentang siapanya, tapi lebih kepada untuk apanya ia dipertemukan dalam sebuah persimpangan-persimpangan. dan kesemuanya, selalu ada garis Tuhan.🙂

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s