Tanpa Syarat

Pagi itu, beliau lewat depan rumah seperti biasa. Memikul cangkul sambil menyetir motor dengan teramat pelan. Sempat bercanda dengan ibu yang sedang memipil jagung. Bahkan ibu menggodanya, “senjatane kanthil terus” (senjata(cangkul)nya nempel terus). Senyumnya masih tetap mengembang.

Siapa yang sangka, DUA JAM kemudian beliau telah pergi untuk selama-lamanya? Beliau pulang. Beliau adalah adik sepupu tiri ayah saya. Yang sudah seperti adik sendiri. Semoga amal beliau diterima Allah dan diampuni setiap dosanya. Amin. Selamat jalan Paman Urip. Allahummaghfirlahum wa’afihiwa’fuanhum.

Beliau adalah petani sekaligus penambang batu kapur. Sebongkah batu besar tiba-tiba ambruk dan menimpa beliau. Seluruh tubuhnya utuh dan tak terluka sedikit pun. Hanya kaki kirinya patah. Selain itu tak ada luka secuil pun. Sampai dokter yang memeriksa pun bertanya-tanya apa yang menyebabkan kematian beliau.

Istrinya, Bulek Mi, tidak meneteskan air mata setetes pun. Mengiring kepergian suami tercinta dengan cinta dalam pemaknaan sebenarnya. Setiap orang datang, bulek Mi memintakan maaf untuk Paman Urip. Bulek Mi yang justru berusaha menenangkan orang yang menangis. Terutama, Salma, cucu mereka yang belum mengerti. Inilah sikap benar yang sangat perlu diteladani. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya untuk bulek Mi. Amin.

Kata ibu, orang yang datang melayat bagai semut. Saya yang menerima kabar kepulangan beliau dari telepon dan sms hanya bisa menangis.

Kepulangan Paman Urip yang ‘mendadak’ sungguh memberi pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Tentang persiapan untuk itu. Ternyata, untuk pulang itu sama sekali tidak meminta syarat. Tidak perlu tua untuk mati. Dan tak perlu sakit untuk mati. Tidak perlu alert atau notifikasi apa pun. Mati itu niscaya dan ia akan menjemput kita, tanpa syarat apa pun yang bisa kita ajukan.

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged . Bookmark the permalink.

8 Responses to Tanpa Syarat

  1. lazione budy says:

    hidup ini singkat.
    Tak tahu kita akan menghadap padaNya.
    Makanya mari kita manfaatkan sebaik mungkin, ingat 5 perkara sebelum 5 perkara.
    RIP

  2. pinkvnie says:

    turut berduka cita mba …

  3. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un.
    Allahummaghfirlahum waafihiwa’fuanhum.

  4. Kata-katanya dalam, mbak.
    Mati itu niscaya dan ia akan menjemput kita. Tanpa syarat apapun yang kita ajukan

  5. rinisyuk24 says:

    Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Ya benar, tak ada syarat apa-apa.

  6. jampang says:

    Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun.
    turut berduka cita
    allaahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu

  7. angkasa13 says:

    Subhanallah… Allahumagfirlahuu

  8. ysalma says:

    turut belasungkawa mbak,
    beliau sudah pulang, kita masih diperantauan.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s