Bahagia itu Sederhana

Setelah perjalanan saya ke Malang via Jombang bulan Oktober tahun lalu, Sabtu pekan lalu akhirnya saya ke Malang melalui jalur Jombang. Banjir bandang awal tahun ini dan disusul meletusnya gunung Kelud, merubah sebagian view jalur ini. Beberapa ruas jalan longsor. Beberapa ruas sungai tambah lebar. Dan bagian yang paling saya suka adalah semua itu membuatnya nampak lebih eksotis.😀

Saya sangat bersyukur karena di bus saya duduk dengan seorang bapak yang hampir setiap minggu melintasi jalur tersebut. Selain itu, beliau juga berwawasan luas plus berpengetahuan tinggi. Kami bahkan sempat menghitung massa abu akibat letusan Kelud. Bukan berdasarkan data tapi berdasarkan rumus fisika yang dulu saya pelajari di bangku sekolah menengah. Haha. Untuk variabel independen kami buat berdasarkan perkiraan kami sendiri. Haha. Saya salut pada si bapak yang masih ingat.😀

Perbincangan kami di bus tidak semata soal Kelud. Tak ketinggalan kami membicarakan gambar-gambar orang (baca : caleg) yang begitu banyak menempel tiang listrik dan pohon. Oh jujur saya tidak suka karena membuat dekil suasana. Tapi justru karena itu, jangan sampai semakin mubazir. Do you know what i maen? Yap! Do not golput, okay?😉 Karena golput hanya akan memberi kesempatan orang-orang yang tidak berkompeten menjadi wakil rakyat. Mending suara Anda untuk yang baik. Jangan bilang tidak ada. Pasti ada! Setidaknya, kalau tidak tahu orangnya pasti tahu partainya lah. Track record partai itu mudah sekali didapat. Didapat dari mana? Ya dari kinerja yang telah dilakukan oleh kader-kadernya.

Koq jadi ngomongin pemilu? Itulah susahnya memiliki pola pikir yang divergen seperti saya.😯 Padahal kan saya mau cerita tentang acara di Malang. Oke, saya lanjutkan saja.

Saya berangkat dari rumah hampir jam 10. Sementara acara dijadwalkan mulai jam 15.00. Alhamdulillah saya datang sekitar setengah tiga. Lalu saya bisa ganti pakaian dan memasuki ruangan tepat saat acara hampir dimulai. Acara dimulai tepat jam 15.00. Ini adalah kebahagian. Benar-benar tepat waktu.😀

Acara sore itu selesai hampir pukul setengah enam. Saya menelpon teman dan berjanji untuk ketemuan. Kami terpisah jarak cukup jauh dan akhirnya kami putuskan untuk ketemu di UMM. Tempat kami bertemu untuk pertama.

Dari tempat saya mengikuti acara itu, saya akan naik angkot lalu oper naik bis jurusan Landungsari. Saya menunggu angkot cukup lama dan setelah yang ditunggu itu datang rasanya cukup menyenangkan.

Tepat saat angkot yang saya naiki masuk ke jalur bus, ada bus yang saya butuhkan. Pak sopir angkot melambaikan tangan pada kernet bus. Sayangnya sopir bus tidak ngeh. Jadilah saya hampir ditinggal. Akhirnya saya mengejar bus tersebut. Dan berhasil! Yihi! Yang ini benar-benar kebahagiaan yang sangat bagi saya. Kenapa? Karena itu mengingatkan saya pada masa SMA dan hampir selalu mengejar bus kalau ke sekolah. Dan juga, berlari mengejar bus itu seperti sedang main film dan saya adalah tokoh utamanya. Ahaha! *sadarlah nak!*

Saya lalu tiba di UMM dan tiga menit kemudian teman saya datang. Waktu itu malam Minggu. Jadi di UMM cukup ramai. Sedang ada konser. Namun entah apa. Kami berdua berkeliling. Naik sampai lantai tertinggi, yaitu lantai enam. Dan itu kami lalui dengan tangga. Itu rasanya sangat menyenangkan, menurut saya. Kebahagiaan saya bertambah.😀

Teman saya akhirnya memutuskan menginap di tempat saya mengikuti acara. Tempat saya mengikuti acara tersebut amat dekat dengan objek wisata Selekta. Hanya berjarak sekitar 2 kilometer.

Pagi itu, saya dan teman memutuskan untuk jalan-jalan ke Selekta. Dan kami jalan kaki ke sana. Pergi dan pulang! Yihi! Olahraga yang menyenangkan.😀 Dan jangan tanya soal suasana hati di Selekta. Itu jelas sangat membahagiakan.😀

Selanjutnya sore hari. Saya bersama teman sekamar saya, Ciprut namanya. Kami turun ke bawah guna membeli tambahan air minum dan memburu mie instan yang pernah kami makan bersama di pertemuan kami sebelumnya. Jaraknya sekitar satu kilo dari tempat kami berada. Dan kami pergi pulang jalan kaki! Wow! Dan perlu dicatat, bahwa jalan yang kami lewati ini bukan jalan datar, melainkan jalan miring. Dan itu yang membuat menyenangkan. Ciprut setidaknya jadi bisa mengira-ngira perjalanan pendaki gunung. #pish, Prut! ^-^v

Lalu hari ketiga, hari Senin. Sore hari kami memutuskan untuk turun lagi. Kali ini target kami lebih jauh. Kami mau ke daerah Purnama. Karena kata teman sekamar kami yang satu lagi, di dekat sana ada bakso. Oh, saya perlu tulis bahwa berada di tempat ‘asing’ itu amat berisiko rasa makanan tak sesuai selera. Bagi gadis original Jawa pedesaan seperti saya, lidah saya sudah terbiasa memakan makanan yang konvensional. Semewah dan semahal apapun makanan di tempat ‘asing’ itu, rasanya kurang pepek. Istilahnya kurang mantap lah. Kadang saya terpikir rela menukar apa pun demi bisa makan dengan sayur lodeh, ikan teri, dan sambal tomat. *norak*

Karena itulah, kami perlu sesuatu untuk menghibur lidah kami. Dan kami memutuskan untuk hunting bakso di daerah Purnama itu. Jaraknya sekitar dua kilo meter dari tempat kami. Jadi pulang pergi sekitar 4 km. Dan kami melaluinya dengan jalan kaki lagi! Ahaha! Kami menghitung estimasi waktu tempuh berdasarkan jarak yang kami perkirakan dan kecepatan langkah kami. Dan itu membuat kami bahagia. *eyaaa* Meskipun kami tidak ketemu dengan tukang bakso. Haha.

Begitulah, cerita saya di Malang kali ini. Lebih tepatnya di daerah Batu, sih. Jadi selama tiga hari berturut-turut saya dapat bahagia dengan cara yang tak biasa. Yaitu mengejar bis dan jalan kaki jauh. Ahaha.

Selain itu, pemandangan di tempat kami sangat indah. Sebuah lukisan alam yang maha sempurna. Dan malam hari, jutaan pendar lampu rumah-rumah penduduk bagai kilauan berlian yang paling indah. MasyaAllah. Lalu nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Jadi, kebahagian itu menurut hemat saya adalah sesuatu yang amat sederhana. Kalau dia adalah sebuah variabel independen, variabel dependennya adalah persepsi. Itu saja. Bagaimana kita bisa melihat apa-apa dari sisi menyenangkannya. Yo ra?
image

image

—**—
Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Bahagia itu Sederhana

  1. jampang says:

    keliatan koq bahagianya…. meski ditutup watermark😀

  2. Galuh Nindya says:

    Kebagian di De View ya?
    Bakso dekat purnama namanya kl ga salah bakso jamur, ada di kiri jalan. jualnya di rumah gitu. agak kecil warungnya, tapi baksonya emang enak.

    Ckck.. Sepertinya dirimu & ciprut makin soulmate ya!🙂

  3. rinisyuk24 says:

    wuihhh hebat yo…

  4. Minggu lalu saya juga ke Batu. Tiba-tiba dapet tugas critanya.

  5. hai , saya suka kata -kata yang ini ” Jadi, kebahagian itu menurut hemat saya adalah sesuatu yang amat sederhana. Kalau dia adalah sebuah variabel independen, variabel dependennya adalah persepsi. Itu saja. Bagaimana kita bisa melihat apa-apa dari sisi menyenangkannya. Yo ra?”
    cerdas., saya copas buat di status FB ya biar menjadi inspirasi bagi banyak orang

  6. Bahagia itu sederhana, misalnya sudah mempunyai pilihan di hari ini sehingga nanti tidak golput.

    *otak lagi divergen sampai 9 April*

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s