Bangsa Di Ujung Tanduk

Bismillah.

Negara Indonesia adalah negara kepulauan yang kaya dengan sumber daya alam dan kekayaan budaya bangsanya. Tanah, air, dan udara penuh dengan kekayaan yang melimpah-ruah. Katanya seperti surga. (Kayak ada yang sudah pernah pelesir ke sana.) Bahkan tongkat saja bisa jadi tanaman. Dogmatis. Sayangnya, sambil duduk manis menunggu sang tongkat berbuah, penduduk pribumi hanya bisa gigit jari melihat kekayaan alam negerinya dirampok. Dan bisa jadi sambil bengong terkagum-kagum, karena perampokan itu justru dibantu oleh saudara sebangsa sendiri. Inilah balada tragisnya menjadi penduduk negeri ini.

Hampir 70 tahun bangsa Indonesia merdeka. Kalau ibarat manusia, usia 70 tahun tak lagi usia muda. Seharusnya, bangsa ini telah dewasa dan telah belajar banyak dari pengalaman. Tapi harus berat diakui, di usia yang sudah senja, bangsa ini masih sibuk dengan yang remeh-temeh. Buang sampah pada tempatnya masih belum bisa. Mudah sekali diadu domba. Mudah sekali tersulut emosinya. Suka mentah-mentah menelan isu yang tak jelas kebenarannya. Mudah sekali terbawa euforia pencitraan. Kalau sudah menyukai sesuatu, tak bisa lagi berfikir logis. Bukankah itu adalah sikap kekanak-kanakan? Bahkan di sudut lain ada yang menumpahkan darah saudaranya sesantai menepuk nyamuk.😥

Bagaimana orang asing tidak senang gembira melihat kombinasi kekayaan alam negara kita dengan penduduknya yang hidup dalam dogma? Dan dengan amat terpaksa, anak-anak negeri ini hanya bisa meneteskan ludah melihat pengerukan emas di Mimika oleh Freeport dan di Sumbawa oleh Newmont. Mungkin ada sebagian yang menetes air matanya. Namun bisa jadi lebih banyak yang tidak meneteskan apa-apa karena merasa semua baik-baik saja. Lagi-lagi dogmatis. Dan inilah kondisi yang ingin terus dipelihara oleh perampok-perampok negara itu agar mereka bisa merampok dengan tenang.

Bagaimana cara mereka bisa merampok dengan tenang? Ialah dengan membuat aturan-aturan yang melonggarkan perampokan mereka. Bagaimana dan oleh siapa aturan-aturan itu dibuat? Ya oleh mereka yang membuat Undang-Undang. Mereka yang duduk di kursi Dewan Perwakilan, baik yang di daerah maupun di pusat. Itulah mengapa para perampok itu rela membiayai kampanye partai-partai yang mengantarkan wakil rakyat itu dengan dana triliunan. Karena pada dasarnya, mereka akan untung berkali-kali lipat.

Kita seharusnya masih ingat karena ini belum lama. Yaitu sekitar akhir tahun 2012, kepala negara kita memperoleh gelar ‘ ‘Knight Grand Cross in the Order of the Bath’. Gelar yang ditukar dengan beberapa perjanjian. Salah satunya adalah proyek pembangunan kilang LNG Tangguh kepada perusahaan Inggris, British Petroleum Plc. Perdana Menteri Inggris, David Cameron bergembira dengan ditandatanganinya proyek pembangunan LNG sebesar 12 miliar dolar di Indonesia (sumber : republika.co.id, 02 November 2012)

Lalu kasus tunggakan pajak Paulus Tumewu (Ramayana) senilai Rp 2 triliun? Sri Mulyani atas perintah SBY memutihkan pajak Paulus. Kemudian tunggakan pajak Indofood senilai Rp 1 triliun plus denda Rp 4 Triliun atau total Rp 5 triliun? Itu juga diloloskan oleh Sri Mulyani. Kemudian kasus tunggakan pajak Asian Agri (Sukanto Tanoto) Rp 2,6 Triliun? Disetop oleh SBY via Sri Mulyani. Sinarmas versus Greenpeace atas illegal logging? SBY bela dan pasang badan untuk bela Sinarmas. [sumber]

Lalu bagaimana bisa berita itu tidak begitu terdengar? Bahkan bisa jadi, yang mengatakan berita itu dianggap gila. Dianggap mengada-ada. Masyarakat terlanjur suka hanya pada yang terlihat sensasional. Masyarakat terlalu banyak makan makanan instan juga sehingga kemampuan berpikirnya hanya sepanjang instan. Media telah sukses mencuci otak. Kenapa begitu? Karena media-media itu adalah milik para perampok. Tugasnya adalah menjadi pembungkus rapat kebusukan para perampok itu dan menipu masyarakat dengan menampilkan/mencitrakan sosok yang humanis, padahal sejatinya sosok tersebut adalah jongos mereka. Inilah balada itu, negeri yang dijajah oleh anak-anaknya sendiri yang menghamba pada asing. Balada bangsa di ujung tanduk.

Dan pertanyaan selanjutnya adalah siapakah kira-kira sosok humanis yang menjadi pilihan para cukong itu untuk pemilu tahun ini? Kalau saya punya tips yang sangat sederhana. Karena media massa, online, maupun elektronik telah dikuasai oleh para perampok itu, maka berhati-hatilah dengan sosok yang tampil begitu wow di media. Yang dicitrakan sebegitunya. Tiap agendanya diliput. Apa yang dilakukannya sebetulnya biasa saja, tapi dikesankan ‘wow’. Bisa jadi, itulah orangnya. Siapa yang tahu?

Belakangan ini, muncul seseorang yang amat sangat didewakan sebegitunya. Tidak boleh dikritik. Apapun yang dilakukannya seolah menjadi benar. Padahal? Sudah jelas di depan mata kalau dia telah ingkar janji. Do you know who i mean, dont you? Yes, dia adalah Pak Jokowi. Dia diagung-agung dengan prestasi katanya. Padahal kenyataannya, ‘prestasi’ si bapak Anda baca di sini. Dan satu saja, dulu si bapak terangkat citranya lantaran berhasil memindahkan pedagang kaki lima tanpa kekerasan setelah mengajak para pedagang makan-makan sebanyak 54 kali. Wow! Tapi saya punya dua pertanyaan. Pertama, apakah selain dia tidak ada bupati atau walikota yang berhasil dalam hal itu? Kenapa yang lain tak ada kabarnya?🙂 Kedua, 54 kali makan-makan itu menghabiskan biaya berapa banyak? Wow! Apakah itu sesuatu yang cerdas dan solutif? Silahkan jawab sendiri.

Yang selanjutnya adalah pencitraan bertema blusukanisme. Lagi-lagi masyarakat kita memang lebih mengedepankan sensasi dari pada logika. Apakah walikota Surabaya, Bu Risma, tidak seperti itu? Tapi tidak sebegitu ‘wow’-nya. Oh iya! Saya jadi ingat juga. Bu Risma ini memang dulu diusung oleh partai yang sekarang mengusung pak Jokowi. Tapi perlu dipahami bahwa Bu Risma sama sekali bukan politisi melainkan seorang PNS tulen. Dan meskipun partai itu yang mengusung beliau, justru partai itulah yang pertama kali hendak memakzulkan Bu Risma. Dan lucunya, sepanjang saya jalan-jalan di Surabaya, ada beberapa poster caleg partai tersebut yang memakai background Bu Risma! Wo-o-o-o! Balada negeri di ujung tanduk.

Oh ya satu lagi. Di jaman negeri ini dipimpin oleh sesepuh partai ini, terjadilah penjualan aset negara ke asing besar-besaran. Dan kini seolah-olah bangsa telah lupa tentang hal itu. Oh, mungkin ini representasi bahwa kita adalah bangsa pemaaf? Balada negeri di ujung tanduk.

James Riady (pemilik Lippo grup) yang pada 2009 jadi tim koordinator dana SBY, kini  telah berhasil himpun hampir semua konglomerat cina untuk mendukung penuh Jokowi sebagai Gubernur DKI dan lanjut ke Presiden RI 2014. Peran besar lain adalah dari Jenderal Luhut Panjaitan yang sukses konsolidasikan kekuatan konglomerat-konglomerat etnis tionghoa Ex buronan BLBI di Singapore yang berjumlah sekitar 20-an konglomerat. Kebanyakan dari mereka adalah buronan kasus korupsi BLBI yang merugikan negara kita Rp. 187 triliun (hutang pokok) plus Rp. 600 T (bunga) sampai 2032! [sumber]

Saya sama sekali tidak peduli dengan si bapak. Tapi saya peduli pada bangsa dan anak cucu saya nanti. Bagaimana  jika dia nanti menjadi pemimpin negeri di ujung tanduk ini. Bukan saya bermaksud melukai hati siapa pun, tapi menyikapi keadaan ini saya memiliki dua pilihan. Diam atau bicara. Dan saya pilih menulis. Ahaha!:mrgreen:

Lalu kita mau bagaimana? Peraturan-peraturan itu dibuat oleh mereka yang duduk di kursi Dewan Perwakilan. Mereka yang terpilih melalui pemilu yang terselenggara lima tahun sekali. Kita, mau tidak mau, tahu ataupun tidak, sekalipun tidak mau tahu,  harus tetap ada yang menjadi perwakilan itu. Karenanya kita menjadi bertanggung jawab untuk mengantarkan orang-orang baik yang pantas duduk di sana. Jika kita memilih abstain, berapapun nilai yang sah, tetap itu yang akan menentukan nasib bangsa ke depan. Lebih baik, suara kita untuk mengantarkan orang yang baik.

So guys, jadilah pemilih cerdas! Jangan tertipu oleh media! Semangat untuk Indonesia BENAR-BENAR MERDEKA!

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Opini and tagged , , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Bangsa Di Ujung Tanduk

  1. Darahku mendidih…
    Jangan serahkan bangsa ini kepada oknum-oknum bermulut manis tapi penjual bangsa.

    fight for freedom!

  2. jampang says:

    waktu ada yang memuji jokowi di FB saya tanya ada nggak yang tahu link berita perkembangan mobil esemka dan penganugerahan jokowi sebagai lima walikota terbaik di dunia terus siapa aja lima walikota di tahun sebelum2nya

    dibilang saya responsif😀

    gara2nya yang bersnagkutan kagum dengan pembawaan jokowi yang kalem dan santun, nggak kaya politisi lain yang kasar, jelekin sana jelekin sini.

  3. rinisyuk24 says:

    Yup, sebagai pemilih cerdas pilihlah caleg dari partai yang bukan pencitraan belaka.

  4. intaniah says:

    SuJi,,,, udah q share lho😀
    jangan ngambek ya.
    #etdah sapa juga yg ngambek yo.

  5. j4uharry says:

    udah saya sebar di pesbuk heheheh

  6. nats says:

    seperti biasanya…🙂 selalu menginspirasi…. good jib dear..!!

  7. Pingback: Partai Keren Sekali, Partai Kita Semua | Life Fire

  8. Pingback: Giuseppe Zanotti Flip Flops

  9. kesatria kemuning mawan says:

    Kampanye hitam, silahkan aja ngomong kya gitunya di depan orangnya langsung ngga usah menghasut orang lain

  10. Enny says:

    Entahlah mbak.
    saya pun berpikir sama. nurani saya berontak melihat fenomena yang memuakkan ini. bingung sama pikiran banyak orang. kenapa ga bisa melihat dengan jelas??? apa yang ada di dalam pikiran mereka?
    saya bukan pendukung fanantik capres tertentu. tapi dibanding memilih capres yang cm bisa acting, saya pilih capres yang bisa diandalkan. yang memberi harapan lebih baik. dengan resiko, dianggap bodoh karena lebih memilih “tukang fitnah”.
    kadang saya merasa bodoh, untuk apa saya prihatin, bersedih, memikirkan masa depan bangsa? berusaha membuka mata hati mereka, toh saya cuma 1 dari ratusan juta jiwa. ga akan berpengaruh apa2.
    entahlah, saya hanya tidak rela bangsa dan negara saya diremehkan, diinjak2. nurani saya hanya inginkan kemakmuran bagi bangsa.
    ini ga mengada-ada, ketika merasa memiliki, jiwa patriot pasti muncul dalam diri. apalagi ketika didepan mata sudah jelas terlihat mana yang benar dan salah.
    cuma bisa berharap, bangsa ini benar2 memilih pemimpin yang tepat! bukan yang hanya bisa “acting”. aamiin.

  11. mmamir38 says:

    Karena negara kita kaya akan sumber daya alam, jangan heran kalo sejak dulu mau dicabik-cabik oleh konspirasi global untuk menguasai SDA kita.
    Terakhir adalah dengan pencalonan salah satu capres.
    Siapa yang di balok konspirasi global?
    Menurut @TM2000Back adalah Amerika via Clinton dan CIA, Israel via Mossad, RRC via James Ryadi, Australia, Singapura dan mungkin Inggris.
    Hancurlah negara kita!

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s