Masih Tetap Golput?

Bismillah

Dag-dig-dug menjelang 9 April, nih. Hehe. Tenang, tenang saya tidak sedang euforia kok. Biasa saja. Hanya saja, mau tidak mau, pemilu pada 9 April besok akan tetap mempengaruhi bahkan menentukan masa depan bangsa kita MINIMAL lima tahun yang akan datang. Saya, sebagai warga negara yang keren dan baik *hueekk* tentu ingin ikut mensukseskan acara ini. Apalagi, dana 16 triliun dipakai untuk mengadakan hajatan ini. Sayang sekali kan itu jadi mubadzir?

Bagi sebagian di antara panjenengan yang masih malas datang ke TPS karena galau belum bisa memutuskan akan memilih siapa, percayalah, masih ada sekelompok orang baik yang ingin melindungi bangsa dan negara kita. Masih ada sekelompok orang orang yang InsyaAllah siap menjadi otak-tulang punggung-dan hatinya Indonesia, InsyaAllah. Hanya saja, sekelompok orang itu memang ‘diupayakan TIADA’ oleh perampok negara melalui media mereka. Untuk versi panjangnya, kalau tidak malas, silahkan baca postingan saya sebelumnya tentang Partai Kita Semua.

Bagi panjenengan yang masih saja galau lalu memutuskan untuk tetap golput, saya katakan sekali lagi bahwa golput sejatinya memberi peluang yang lebar bagi jongos-jongos penghianat negara. Kenapa? Karena berapa pun suara yang sah dalam pemilu, tetap itulah yang akan mengisi kursi dewan. Tak akan ada pemilu ulang. Mereka-mereka yang berambisi merampok negara sudah bekerja keras dan membulatkan tekad untuk meraup suara. Lha kita yang mengaku cinta tanah air koq malah abstain? Mending suara kita untuk mengantarkan orang-orang baik yang InsyaAllah siap menjadi otak-hati-tulang punggung Indonesia. Memang tidak ada partai yang sempurna, tapi pilihlah partai yang paling sedikit pelanggarannya. Siap menjadi pemilih cerdas?😉

Lalu bagi panjenengan yang masih ngotot tidak mau ikut pemilu karena panjenengan bersikeras bahwa pemilu adalah produk haram dari demokrasi yang kufur, simak reportase berikut ini.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya sumber daya alam dan terdiri dari beragam suku, budaya, dan agama. Itu adalah kabar baik. Kabar buruknya, sampai saat ini kita masih hidup dalam kemiskinan mental dan finansial. Ekonomi dan sumber daya alam bangsa kita justru dikuasai asing dan penduduk pribumi hanya bisa mengais ceceran sisa remah-remah yang tertinggal. Tragis sekali, bukan? Lebih tragis lagi adalah kenyataan bahwa Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, hanya bisa bertekuk lutut ketika syariat agamanya diinjak-injak. Tidak percaya? Buktinya pornoaksi dan pornografi masih meraja lela. Aliran sesat Ahmadiah yang jelas-jelas menodai Islam masih ada.

Kalau panjenengan bersikeras menolak pemilu, sementara pemilu adalah JALAN SATU-SATUNYA mengantarkan wakil kita untuk turut duduk di kursi dewan guna membuat aturan perundang-undangan yang mengatur hajat hidup bangsa. Panjenegan mau apa? Apa solusi yang panjenengan tawarkan untuk menegakkan aturan yang berdasar syariat Islam? Back to sunatullah? Seperti apakah bentuk nyata tindakan tersebut? Maaf jika saya kasar, tapi percuma menurut saya ketika panjenengan berkontribusi banyak untuk hidup orang lain namun panjenengan justru mempersulit perjuangan menegakkan aturan Islam. Kita umat Islam harus cerdas, kita mesti bagi tugas!

Roda pembangunan jalan terus, roda pemerintahan jalan terus, roda perekonomian jalan terus. Pemerintah mengeluarkan perda-perda, undang-undang, dan lain-lain. Siapa yang pegang itu semua? Kalau kita keluar dari gelanggang, siapa yang pegang itu semua? APA SOLUSI-nya kalo umat Islam keluar dari gelanggang?

Kalau misal panjenengan seorang pegawai negeri. Dalam kepegawaian ada Undang-undang, perda, perwako, dan produk hukum lainnya yang mengikat. Apakah rela yang membuat itu semua orang non-muslim atau orang-orang korup dan kawan-kawannya? Bagaimana bisa jadi pegawai yang baik kalau ternyata ada undang-undang yang merugikan pegawai? Kalau di sekeliling kita banyak miras karena dilegalkan pemerintah, kalau di sekeliing kita banyak prostitusi karena dilindungi oleh perda, dan lain-lain. Panjenengan mau hidup dalam keadaan jahiliyah seperti itu?

Badan legislatif yang kita pilih adalah pembuat undang-undang. Mereka yang menentukan ke arah mana negara ini menuju, apakah menuju ke gerbang kemakmuran atau menuju ke jurang kehancuran. Kalau pembuat Undang-Undang sudah bisa dibeli oleh cukong-cukong yang punya bisnis maksiat, apa solusinya dalam situasi chaos seperti itu untuk bisa back to sunatullah?

Siapa yg memperjuangkan Undang-Undang Perkawinan?

Tanpa ada UU Perkawinan, maka laki-laki bisa seenaknya poligami tanpa izin istri pertama.

Lalu siapa yang memperjuangkan UU Perkawinan? Mereka adalah PPP saat itu di tahun 1974. Sementara PPP dilawan oleh partai-partai nasionalis saat itu (PDI dan Golkar). Alhamdulillah menang.

Kemudian siapa yg memperjuangkan UU Pornografi?

Tanpa UU Pornografi orang bisa seenaknya ngumbar syahwat dimana-mana tanpa dibenturkan oleh hukum. Bebas jual materi pronografi.

Siapa yang memperjuangkan? PKS di tahun 2008. Dan siapa yang paling menentang? PDIP dan fraksi—fraksinya. Bayangkan kalau senayan dikuasia oleh PDIP!

Siapa yang memperjuangkan UU Anti Miras? Fraksi PKS, F-PPP, FPAN. Sisanya MENOLAK.

Bayangkan kalau senayan dikuasai oleh partai penjahat, mau jadi apa negeri ini. Karena jongos-jongos penghianat perampok negara itu sudah dibeli oleh cukong-cukong industri miras.

Lantas kembali ke poin utama. Indonesia masih tertatih-tatih menuju kemakmuran dan kemslahatan. Kemudian, panjenengan ajak orang Islam meninggalkan gelanggang, sementara orang non-muslim berbondong-bondong masuk Senayan, membuat Undang-Undang, merubah Undang-Undang yang telah dibuat oleh orang Islam dengan berdarah-darah sebelumnya.

BBM naik terus. Coba lihat perjuangan PKS, Partai Islam. Berapa kali PKS menolak kenaikan BBM? Tiga kali di sejarah sidang parlemen. Tapi selalu gagal, karena kalah suara / kalah voting. Mengapa bisa kalah voting? Karena suaranya kecil, jumlahnya kalah dengan mereka yang telah dibeli suaranya oleh cukong-cukong. ‘BBM naik agar pemerintah gak subsidi’. Itu pendapat ngawur. Karena itu, PKS mempejuangkan pengembalian ratusan trilyun yang dibawa lari penjahat BLBI. Kalo uang tersebut bisa dikembalikan oleh perampok negara, maka itu bisa menutup subsidi pemerintah, sehingga BBM tak perlu naik, sehingga harga-harga sembako tak perlu naik.

Lalu bagaimana solusinya biar back to sunatullah?

Hadistnya, jika melihat kemungkaran, ubahlah dengan tanganmu, jika tidak bisa, ubahlah dengan lisanmu, jika tidak bisa juga maka dengan hatimu dan itu adalah selemah-lemahnya iman. Jelas Nabi mengajak kita ke parlemen, berkuasa, untuk meruntuhkan kemungkaran. Itulah mencegah kemungkaran dengan tangan. Kalau panjenengan golput, lalu ngajak yang lain untuk golput juga, maka itu sama dengan menentang hadits nabi itu. Sebab selemah-lemahnya iman adalah diam dalam hati. Bukan malah ngajak yang lain untuk diam.

Kalau kita tidak bisa menegakkan semua kebaikan, maka jangan tinggalkan semua. Mengerjakan sebagian juga adalah kebaikan. Jika tidak bisa menegakkan seluruh syariah, ya jangan semua syariah tidak diusahakan untuk ditegakkan.

Jika belum optimal mencegah Miras & Pornografi lewat dakwah, maka maksimalkan pencegahannya lewat UU demi masa depan generasi. Jika tidak bisa mencabut larangan jilbab dengan alasan ayat Al Qur’an, maka boleh dengan argumen UUD 45 dan hak asasi atau Undang-Undang. Di Bali ada larangan pemakaian jilbab karena jilbab belum diatur pemakaiannya dalam Undang-Undang. Polwan pun masih berjuang untuk izin memakai jilbab. So?

Mari kita buka sejarah setahun yg lalu [http://news.detik.com/read/2013/04/04/134948/2211477/10/pks-bersikukuh-tolak-asas-tunggal-pancasila-di-ruu-ormas]. Setahun yang lalu, di DPR diadakan sidang untuk membahas ormas-ormas yang tidak menggunakan Pancasila sebagai asas organisasinya WAJIB dibubarkan oleh pemerintah. Dari semua fraksi partai di DPR, hanya PKS yang berteriak lantang MENOLAK. PKS satu-satunya fraksi yang memberikan kebebasan pada semua organisasi untuk tidak mengkultuskan Pancasila. Sehingga boleh menggunakan asas Islam sebagai asas organisasi, seperti FPI, MUhammadiyah, NU, HTI, dan lain-lain. Alhamdulillah, wakil-wakil PKS bisa berargumen dengan cerdas di sidang DPR, sehingga mampu mengalahkan dan membatalkan UU pembubaran organisasi itu. Untungnya bukan dengan mekanisme voting, tapi argumen yang cerdas saat itu dan bisa diterima. Bayangkan kalau memakai mekanisme voting, akan bubar organisasi-organisasi Islam.

Nah, kenapa sekarang, sebagai umat Islam yang menginginkan tegaknya syariat Islam malah menggembosi perjuangan dengan golput? Apa solusinya kalau umat Islam meninggalkan gelanggang tempat pembuatan Undang-Undang? Jadi mau back to sunatullah gimana cara?

Sepertinya saya terlalu emosional. Haha. Oh ya saya teringat sesuatu! Seingat saya, yang mempopulerkan paham golput adalah Abdurrahman Wahid. Satu-satunya ulama yang membela Ahmadiah yang jelas-jelas menistai Islam dan mengatakan bahwa Al Qur’an adalah kitab paling porno. Sekali lagi, kita umat Islam harus cerdas, kita musti bagi tugas!

—**—
Cheers ^_^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Opini and tagged , . Bookmark the permalink.

15 Responses to Masih Tetap Golput?

  1. rinisyuk24 says:

    Semangat sekali mbak. Aku siap jadi pemilih cerdas! Mari berjuang lewat surat suara! Allahu Akbar!

  2. Selamat bagi yang sudah menentukan pilihan pemimpin dan partai nya. Sayang saya masih memilih untuk golput… Hehehe

  3. jampang says:

    punya link aturan pemilih bisa milih di mana aja, mbak?

    • Dyah Sujiati says:

      Tidak punya link, pak. May be di website resmi KPU ada penjelasan.
      Tapi sepemahaman sy : pemilih hanya bisa nyoblos di tempat yang sesuai dengan alamat KTPnya.

      • jampang says:

        soalnya bbrp waktu yang lalu, sebuah acara tv yng dihadiri oleh orang KPU bilang bisa… dipermudah… masa kudu pulang kampung dulu.

        kira2 begitu😀

  4. Kalau masih sesuai alamat KTP, ya maaf saja. Tetep kehilangan hak pilih. Kecuali ada sistem seperti WNI di luar negeri itu baru lebih baik.

  5. Pingback: Dampak Psikologis Pilpres yang Tak Terlirik | Life Fire

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s