Gak Penting!

Dalam hidup, segala sesuatu ditakdirkan berpasangan. Berpasangan belum tentu berlawanan. Dalam hidup, ada sesuatu yang teramat luar biasa yang tidak akan pernah bisa dilepaskan darinya. Ialah waktu yang tertakdirkan seolah tak berpasangan. Namun sesungguhnya, justru berpasangan dengan banyak hal. Bahkan waktu ini adalah sesuatu yang amat sakti. Dia yang hampir bisa menjawab setiap ‘pertanyaan’. Kita sering mengatakan ‘biarlah waktu yang menjawab’, bukan? Luar biasa sang waktu. Dan satu lagi. Waktu adalah obat yang mujarab bagi beberapa jenis luka. Setidaknya dia punya dua cara : dengan membuat kita lupa atau mengubah cara pandang kita. Membuat kita merasa pantas bersyukur atau pantas untuk mentertawakannya.

Dalam hidup, selain waktu yang niscaya, ada sebuah keniscayaan satu lagi yang menjadi entitas kehidupan itu sendiri. Kebaikan dan keburukan akan selalu ada dalam waktu bersamaan meski tidak dalam kadar yang selalu berimbang. Keduanya telah tertakdirkan berpasangan. Keburukan dan kebaikan sama-sama akan mengalir dan menemukan jalan dan pasangannya sendiri. Jika kita tidak bersama kebaikan, bisa jadi kita sedang bersama keburukan. Tapi jika kebaikan tidak bersama kita, dia tentu akan bersama yang lain. Itulah sebabnya, dalam hidup, kita sering dengar bahwa ‘kebaikan pada akhirnya akan menang’.

Ah, Anda jangan terlalu serius membaca prolog di atas. Hehe. Saya hanya sedang kesulitan menguraikan beberapa hal yang semrawut di imajinasi saya. Jadi dari pada saya mikir, saya pilih menggeje saja. Peace!😛 #gak penting.

Baiklah, latar belakang tulisan ini adalah karena saya hendak mengabadikan suatu hari yang cukup berkesan bagi saya. Hari yang tak ingin saya lupakan. Yang pada hari itu telah terjadi secara beruntun tiga kejadian berkesan yang sebetulnya nggak penting.

1. Saya membeli screenguard di sebuah toko asesoris handphone. Di sana melayani harga pas. Pas saya tanya harga screenguard yang saya butuhkan, katanya 20 ribu IDR. Tapi saya tak mau langsung bayar. Saya tawar lah itu bapak. Dan kejadian itu berakhir dengan saya membayar 15 ribu IDR.🙂

2. Esoknya saya membeli kacamata. Di Kios itu telah diberi bandrol harga. Ketika saya tanya penjual tentang perlakuan harga, si bapak jawab kalau harga sesuai bandrol. Kacamata yang hendak saya beli bertuliskan 36 ribu IDR. Karena saya cukup sering membeli kacamata, saya tahu harga kacamata itu terlalu mahal. Kenapa saya sering membeli kacamata? Sama sekali bukan karena saya kolektor kacamata. Melainkan saya membutuhkannya untuk sehari-hari karena saya sering di jalan. Masalahnya, kacamata saya itu keseringan ketinggalan entah di mana.😥 Ya sudah lah, hitung-hitung berbagi rejeki dengan penjual kacamata *berapologi* Saya pun menawar harga kacamata yang saya pegang. Dan seperti sebelumnya, kisah ini berakhir bahagia. Saya membawa pergi kacamata seharga 20 ribu IDR. Yihi!

3. Untuk pertama kalinya saya mengendarai motor dari Gresik ke Bojonegoro seorang diri. Dan saya lapar, kawan. Akhirnya saya memutuskan berhenti di sebuah minimarket. Saya hendak membeli kacang hijau instan sebab ia yang mengandung vitamin guna pembentukan energi. Saya ambil sekotak instan itu. Sekali lagi, ini di minimarket. Sudah pasti harga pas. Minuman itu seharga 5.200 IDR. Saya keluarkan uang di saku jaket, beberapa lembar yang tergulung. Yang paling luar lembaran 5 ribuan. Diambil lah oleh pak kasir lembar terluar. Satu lembar. Masih kurang 200 IDR, kan? Saya hendak mencari uang receh di saku lagi. Eh si pak kasir bilang, “Udah Mbak, 5 ribu saja!”
Saya langsung berbinar. Senangnya! Bukan karena 200 IDR-nya, tapi perasaan semacam dua kejadian sebelumnya.🙂

Nggak penting banget, yak? Padahal sebetulnya, saya amat tidak suka pada tulisan bergenre curhat. Lalu kenapa saya malah curhat? Entahlah, biar waktu saja yang menjawab. Hahaha.

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Intermezzo and tagged , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Gak Penting!

  1. jampang says:

    tapi kalau ke bank, dan CS nyebutin biaya administrasi, jangan ditawar yak😛

  2. rachma23 says:

    Ngiri….soalnya saya paling gak bisa nawar😦

  3. Galuh Nindya says:

    menjadi penting untuk dibaca, karena judulnya “gak penting”😀
    pinter bikin judul nih suji! haha

  4. farizalfa says:

    Hahahahaha….
    kalau di daerah minang nih, kalau udah ada tulisan harga pas.. Gimana pun kita nawar, gak bakal turun dah.. <<< Pengalaman.

  5. rinisyuk24 says:

    Haha naluri perempuan.

  6. xrismantos says:

    Jadi inget ibu, barang yang sama selisih beberapa lembar ribuan aja dibelain beli ditempat yang lebih jauh demi dapatkan yang lebih murah😀

  7. asa says:

    hai dyah! hehe baru berkunjung ke blogmu nih😀
    super tenan kemampuan nawar barangnya , kapan2 kalo ke jakarta lagi, bisa ajak mba dyah ni ke thamrin city or tanah abang, bisa nawar2 baju dgn harga optimum :))

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s