Dosa Dibayar Tunai

Entah kenapa, saya merasa waktu melesat cepat sekali. Rasanya seperti baru bangun tidur, lalu baru sejenak terhenti, tiba-tiba langit sudah gelap dan kembali di atas kasur lagi. Seharian seperti tak berarti apa pun. Hanya mengerjakan hal-hal yang menjadi rutinitas untuk memenuhi sebuah tuntutan. Entahlah saya bingung dibuatnya. Puluhan judul buku berjajar rapi di meja dan rak, menanti untuk bersua dengan empunya. Belum lagi, belasan judul dan kejadian yang ingin sekali dituliskan. Entah untuk menyimpan kenangan atau sekedar mengurai benang kusut yang semrawut di labirin imajinasi. Belum juga jika berbicara pada ‘kewajiban’ menulis sebagai tindakan paling sederhana sebagai respon manusia terhadap alam tempatnya bergerak. Kemanakah waktu? Kapan ia berlalu bersamaku?

Baiklah, saya tak ingin bertele-tele panjang lebar. Percuma, keluh kesah tak kan merubah apa-apa kecuali membuat waktu semakin terbuang sia-sia. Bagiamana pun, selama nyawa masih dikandung badan, saya tetap harus move and keep on moving forward.🙂

Okay, saya sebetulnya hanya ingin menceritakan kejadian yang saya alami kemarin. Hari Sabtu, saya masih di kantor menyelesaikan tugas saya. Secara normal, hari Sabtu adalah hari libur. Tapi karena masih ada yang belum selesai, ya mau bagaimana lagi?

Sekitar jam 2 pm, tugas saya masih nampak banyak yang tersisa. Kepala saya mungkin sudah menolak diajak berfikir. Saya betul betul memaksakan diri agar tetap bisa konsentrasi dengan maksimal. Tiba-tiba ibu saya menelepon. Bertanya kapankah kiranya saya pulang. Dan saya merespon pertanyaan ibu dengan jawaban kesal. “Kalau sudah  selesai saya pasti pulang kok-ibu jangan memburu saya”, Begitulah jawaban saya. Dan ibu menjawab agar hati-hati saat pulang.

Jam 6 pm pekerjaan saya selesai. Saya kembali ke kost sebelum pulang. Pukul 6:35 pm saya keluar kost. Sekitar jam 6:42 pm saya sudah di terminal. Manusia di terminal bagai semut. Setiap bus jurusan Bojonegoro yang datang selalu sudah penuh penumpang bahkan sudah sekitar 10 penumpang yang berdiri. Begitu terus. Tak ada bus jurusan Tuban yang bisa jadi alternatif. Sebab biasanya bus jurusan Tuban jarang penuh. Bus jurusan Semarang apa lagi. Nyaris tak lagi bisa menaikkan penumpang dari Gresik.

Jam 7 pm sudah lewat. Penumpang bukannya berkurang tapi malah membludak. Saya lupa ini malam Minggu. Saya menunggu bus patas Widji Semarang yang biasanya saya bajak (?). Ternyata tak ada melintas juga.😦

Sampai jam setengah 9 pm belum juga saya dapat bus. Hingga jam 9 kurang seperempat ada bus patas Mawar jurusan Jakarta. Saya bajaklah bus itu. Dan berhasil! Yihi! Tapi sayang, tidak ada bangku. Saya terpaksa mengemper di anak tangga sebelah supir. Inilah penderitaan kedua setelah 2 jam menunggu di terminal.

Seorang teman menelpon saya. Baru beberapa patah kata, saya kena macet mulai dari perbatasan Gresik dan Lamongan. Ya salam! Lengkaplah hukuman saya. Saya baru bisa sampai rumah hampir jam setengah 12 pm. Padahal saya keluar kost dari jam 6:35 pm. Perjalanan hampir 5 jam! Padahal kalau normal hanya perlu 1 jam 15 menit.

Kepada teman itu saya katakan bahwa mungkin inilah hukuman bagi saya karena tadi saya tidak sopan pada ibu. Sebuah dosa yang langsung dibayar tunai! Bahkan berkali-kali lipat! Mantapks!😀

Semoga bermanfaat,

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Dosa Dibayar Tunai

  1. Untung dibayat tunai ya, kalau dibayar nanti bisa lupa krn gak ada yg ngingetin..

  2. pinkvnie says:

    Jd harus hati-hati berkata n bersikap ma ortu bs kuwalat ….🙂

  3. jampang says:

    saya pernah dengar, dosa yang dibayar tunai di dunia ya dosa kepada orang tua. cuma belum tahu ada dalilnya atau nggak

  4. Rini says:

    Hikmah lain, dengan dosa dibayar tunai ini, ‘terpaksa’ menulis kan? Itu akhirannya teuteup ya🙂

  5. Mother is the name of God in the lips and hearts of the children. Always remember that.

  6. nats says:

    hihihi..dibayar tunai…enak..utangnya g nambah banyak..

  7. judulnya mantap, mbak🙂

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s