Menolak Harapan

Hari Sabtu pekan lalu saya datang di acara lamaran seorang teman. Sepulang dari acara itu, saya dibawain makanan. [ya jelas lah!] Ibu teman bertanya, “Mbak sudah menikah belum?” Lalu saya jawab dengan santai ‘belum’. Ibu itu lalu cepat-cepat ke dalam lagi mengambilkan untuk saya pisang hantaran atau pisang lamaran gitu. Sambil berpesan kepada saya, “Nanti segera dimakan yaa. Biar segera menyusul.”

Saya sih iya-iya saja. Tidak etis kan kalau saya menolak dan berargumen bla bla bla. Dan akhirnya saya bawa pulang tuh pisang lamaran.

Barang kali, percaya memakan makanan lamaran akan segera menyusul analog dengan mencuri melati pengantin. Keduanya sama-sama jadi membuat subjek pelaku jadi lebih yakin kalau jodohnya akan lebih cepat mendekat. Dengan kata lain, ‘ritual’ itu hanya menimbulkan semangat dan keyakinan yang lebih pada pelakunya. Si pelaku akan lebih optimis lantaran sugesti yang ia ciptakan sendiri. Karena secara logika, bagaimana mungkin hal itu bisa menular?

Kembali pada pisang lamaran yang diberikan pada saya. Saya akan tetap membela diri bahwa sangat wajar kalau saya bicara soal pernikahan. Haha.😛 Secara usia saya sudah hampir 24,5 tahun. Sudah menyandang gelar S.Si empat tahun pula! Jadi wajar donk kalau saya menanti gelar yang lain?😀

Dengan diberinya saya pisang tersebut, mungkin akan menimbulkan energi optimis baru bagi saya. Semacam ada harapan lebih. Betul tak? Namun harapan itu menurut saya adalah harapan yang naif. Karena sekali lagi, itu tidak masuk akal. Maka, daripada saya terjebak dengan harapan semu nan palsu itu, saya memilih menolaknya. Saya terima pisang itu namun tidak saya makan. Entah siapa yang makan saya juga tak ingat.

Sebetulnya memang kembali pada pribadi masing-masing. Saya makan pisang tersebut dan saya tidak percaya mitos itu merupakan hal yang paling baik. Tapi, dari pada nanti tiba-tiba muncul sendiri di hati saya soal sugesti itu dan saya tidak bisa kendalikan, bagaimana? Jadi biar aman, ya tidak saya makan. Toh urusan jodoh itu adalah urusan Allah. Kita memang harus berusaha. Tapi tetap dengan cara dan jalur yang semestinya, sesuai yang Dia ajarkan. Is not it?

Oh iya. Saya jadi teringat sesuatu. Ini sudah out of topic, sih. Saya pernah dengar dari seorang teman pendaki. Menurutnya dan beberapa pendaki yang lain, ada pantangan (mitos) saat mendaki gunung. Yaitu ketika perempuan menstruasi dilarang naik gunung karena resiko tersesat. Nah, hari Selasa kemarin saya naik gunung Sakub dengan Dianne. Kami berdua berhalangan! Dan kami tidak tersasar.🙂 Karena kami memang tidak percaya pada mitos itu. Malah enak lho, jadi nggak bingung tempat sholat. Hehehe.

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Menolak Harapan

  1. Eka Azzahra says:

    Pisangnya dimakan, alhamdulillah rezeki dan jadi asupan nutrisi untuk tubuh,
    Soal iya atau nggak-nya bakal cepet “nyusul” diaminkan aja ya mbak… Allah know the best🙂

  2. Rini says:

    Betul. Ini cocok:
    Bahwa urusan cinta tidak sekedar soal waktu, tapi soal keimanan dan ketaqwaan
    Bahwa urusan hidup kita sungguh tidak sesulit orang lain diluar sana
    Bahwa menjaga diri itu jauh lebih mulia dari mengumbar-umbar perasaan.
    Bahwa Tuhan sungguh tidak pernah tinggal diam, Dia selalu ikut campur dalam hidup kita. Lantas, masihkah kita semua enggan mengikutsertakan-Nya dalam setiap urusan kita
    Enggan mengakui aturan-aturan yang telah dia ciptakan. Terang-terangan melanggarnya. Terang-terangan bermaksiat kepadanya.
    Jagalah diri kita, perasaan kita, dan orang-orang yang kita cintai dari ketidakmampuan kita menjaga diri. (http://kurniawangunadi.tumblr.com/)

  3. Galuh Nindya says:

    horee akhirnya Suji nulis lagi setelah sekian lama.. hehe

  4. Nek aku ya maem aja pisangnya. Asal niat bukan biar cepet nikah….

  5. jampang says:

    kalau dikasih ya makan aja😀

  6. Makan aja dyah, mana tau dijalan bisa ketemu sama yang suka makan pisang…. Hahahaja

  7. pinkvnie says:

    Saya sering makan kue lamaran tp sama aja mba …😀
    Intinya semua dengan do’a dan ikhtiar …🙂

  8. nats says:

    heeehh..makan aja..enak juga..itu mah rezki….

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s