Kau Yang Terbaik

Hari Sabtu yang lalu, keponakan saya wisuda kelulusan SMP. Sekolahnya mengadakan acara seremonial untuk ‘merayakan’ kelulusan murid-murid dengan mengundang wali murid. Dan saya lah yang datang mewakili kakak saya untuk menghadiri acara itu.

Di acara itu, ada banyak hal sebetulnya yang ingin saya tuliskan guna melegakan hati saya. Tapi karena, yeah begitulah. Anda tahu bagaimana saya selalu beralasan dan beralibi menyembunyikan kemal*asan saya dengan berdalih ini-itu yang membosankan. Maafkan saya. Jadi kali ini saya hanya ingin menumpahkan kepulan-kepulan imajinasi liar yang mengganggu ketenangan hari-hari saya beberapa waktu ini. Ya kita kembali pada pepatah sakti luar biasa : menulis itu melegakan hati. Mungkin agak berlebihan kedengarannya jika saya katakan bahwa menulis adalah salah satu terapi yang cukup ampuh meminimalisir stres.

Oke, lupakan soal alibi di atas. Kita kembali pada bahasan utama. Di acara wisuda itu, hadir seorang tamu undangan yang memberi sambutan setelah diumumkan 10 lulusan terbaik sekolah. Tamu itu adalah lulusan terbaik tahun 2004 silam. Tepat 10 tahun yang lalu. Sekarang dia telah lulus jurusan ilmu keperawatan Unibraw. Saat ini dia sedang menjadi dosen salah satu STIKES swasta di Jogja sambil menempuh S2 di UGM.

Saya sempat menyimak sambutannya. Dia mengatakan bahwa tepat 10 tahun lalu dia berdiri di panggung sebagai lulusan terbaik. Dia memuji habis 10 lulusan terbaik yang sedang berdiri di sana dan berulang-ulang. Selain ia juga menyarankan bahwa adik-adik kelasnya itu untuk mengikuti ekstra kurikuler sekolah agar menjadi pribadi yang ber-attitude.

Dari apa yang dia sampaikan dan dengan berdasarkan apa yang saya lihat saat ini, saya menangkap satu hal. Bahwa kian hari orang-orang kian mengukur keberhasilan dan kesuksesan seorang anak sekolah hanya dari angka di rapot. Dan lebih sempit lagi seorang anak dikatakan berprestasi jika bisa berdiri di panggung dengan gelar 10 terbaik. Seolah yang tak naik di panggung itu hanya penggembira. Orang-orang seperti melupakan sudut pandang lain dari sebuah prestasi.

Paradigma pendidikan saat ini menurut saya semakin tragis. Lihatlah betapa paniknya orang tua melihat anaknya yang berumur 5 tahun dan belum bisa membaca. Lihatlah tingkat kesulitan pelajaran tiap jenjang saat ini. Yang padahal tingkat pelajaran yang semakin sulit tidak memberi efek signifikan pada peningkatan kualitas seseorang.

Saya melihat di sekitar saya, orang-orang memandang anaknya berprestasi hanya dari capaian nilai rapot. Sehingga anak dipaksa les ini itu guna memperoleh nilai rapot setinggi-tingginya. Mereka seolah lupa bahwa setiap anak memiliki potensi dan kekhususan masing-masing. Bahwa setiap anak istimewa. Dan mereka kelak akan menempati ‘pos-pos penting’ dalam kehidupan sesuai bakat keahliannya.

Akan lebih baik seandainya dalam sambutannya itu, si Mbak tidak semakin membuat paradigma tersebut semakin diamini. Akan lebih adil seandainya dalam sambutan itu, si Mbak memuji seluruh adik kelasnya bahwa mereka semua hebat. Memuji yang 10 terbaik itu sebagai apresiasi agar meningkatkan prestasi yang sudah dicapai dengan tidak melupakan bahwa anak-anak yang lain juga perlu diapresiasi. Bahwa mereka bisa berprestasi dengan bakat masing-masing di manapun dan kapan pun. Sehingga paradigma mengukur prestasi dari sekedar angka tidak semakin menjadi-jadi di masyarakat. Sehingga setiap orang tua tidak lagi menuntut anaknya untuk giat belajar demi mengejar nilai semata. Sehingga dengan indah para orang tua akan berkata pada anak-anaknya, “kau yang terbaik!”

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Opini and tagged , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Kau Yang Terbaik

  1. Rini says:

    Betul! Mari terus memperbaiki diri untuk suatu hari dapat mengatakan “kau, yang terbaik” pada anak kita. #UUG

  2. nats says:

    sepakat bu…!!! buat idan juga aku aku berusaha untuk “begitu’😀

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s