Saat Diam Tak Semahal Emas

Pada saat tertentu, misal sedang tidak ada yang perlu dikerjakan, pikiran saya kadang suka mengembara entah ke mana. Kadang bisa teringat pada kejadian yang telah lalu. Atau kadang bisa terpikir pada hal lain. Atau kalau sedang baik hati, saya malah kepikiran negara Indonesia tercinta. *sok iya*

Saya pernah membaca tulisan yang mengibaratkan negara saya tercinta ini dengan sebuah kapal. Tepatnya kapal yang hampir karam dan nahkodanya pun entah kemana. Jadi tinggal menunggu waktu untuk karam. Banyak penumpang dengan sadar atau tak sadar pelan-pelan melubangi kapal. Ada juga penumpang yang melarang. Namun lebih banyak yang tidak peduli. Dan yang tak bisa dinalar, ada yang melarang penumpang yang melarang penumpang lain melubangi kapal. Walau saya juga optimis masih ada beberapa penumpang yang berusaha menambal lubang.

Negara Indonesia adalah negara kepulauan yang kaya dengan sumber daya alam dan kekayaan budaya bangsanya. Tanah, air, dan udara penuh dengan kekayaan yang melimpah-ruah. Katanya seperti surga. (Kayak ada yang sudah pernah pelesir ke sana.) Bahkan tongkat saja bisa jadi tanaman. Dogmatis. Sayangnya, sambil duduk manis menunggu sang tongkat berbuah, penduduk pribumi hanya bisa gigit jari melihat kekayaan alam negerinya dirampok. Dan bisa jadi sambil bengong terkagum-kagum, karena perampokan itu justru dibantu oleh saudara sebangsa sendiri. Inilah balada tragisnya menjadi penduduk negeri ini.

Hampir 70 tahun bangsa Indonesia merdeka. Kalau ibarat manusia, usia 70 tahun tak lagi usia muda. Seharusnya, bangsa ini telah dewasa dan telah belajar banyak dari pengalaman. Tapi harus berat diakui, di usia yang sudah senja, bangsa ini masih sibuk dengan yang remeh-temeh. Buang sampah pada tempatnya masih belum bisa. Mudah sekali diadu domba. Mudah sekali tersulut emosinya. Suka mentah-mentah menelan isu yang tak jelas kebenarannya. Kalau sudah menyukai sesuatu, tak bisa lagi berfikir logis. Bukankah itu adalah sikap kekanak-kanakan? Bahkan di sudut lain ada yang menumpahkan darah saudaranya sesantai menepuk nyamuk.😥

Bagaimana orang asing tidak senang gembira melihat kombinasi kekayaan alam negara kita dengan penduduknya yang hidup dalam dogma? Dan dengan amat terpaksa, anak-anak negeri ini hanya bisa meneteskan ludah melihat pengerukan emas di Mimika oleh Freeport dan di Sumbawa oleh Newmont. Blok Natuna di sekitar Laut Cina Selatan sudah mulai ada yang mengklaim. Mungkin ada sebagian yang menetes air matanya. Namun bisa jadi lebih banyak yang tidak meneteskan apa-apa karena merasa semua baik-baik saja. Lagi-lagi dogmatis. Dan inilah kondisi yang ingin terus dipelihara oleh perampok-perampok negara itu agar mereka bisa merampok dengan tenang.

Bagaimana cara mereka merampok dengan tenang? Setidaknya ada 3, yaitu :

1. Melemahkan mental dan moral anak bangsa melalui pornografi, paham LGBT, paham sekularisme, pluralisme, dan liberalisme. Paham-paham tersebut ujungnya adalah sikap apatis. Sehingga anak bangsa tak lagi peduli pada negerinya maka dengan mudah pemindahan kekayaan negara itu terjadi.

2. Membuat konflik dan perang saudara sementara para perampok itu merampok tanah kita. Anda tahu Raja Ampat? Pulau terindah itu apakah masih milik pemerintah kita? No! Not Again! Jadi sekarang Anda bisa pikir kenapa di Papua sana sering terjadi konflik?

3. Menciptakan  pemimpin negeri ini yang bisa mereka kendalikan. Dengan pemimpin yang patuh pada perampok itu, mereka akan dengan mudah mengeruk kekayaan negara kita sementara kita hidup miskin dan terus dibodohi.

Sedang dalam waktu dekat ini kita akan memilih presiden yang akan menentukan kebijakan negara kita selama lima tahun ke depan. Jangan katakan ‘siapa pun presidennya, akan sama saja.’ Itu tidak benar. Jika kita dipimpin orang yang amanah dan berkompeten, masalah-masalah yang ada dicoba untuk diatasi. Hidup kita tidak semakin susah. Sementara jika dipimpin oleh yang tidak berkompeten, percayalah hidup kita akan semakin susah lebih susah dari sekarang.

Lalu bagaimana kita harus memilih pemimpin di pilpres esok? Pertama, pakai akal sehat dan hati nurani. Jangan tertipu pencitraan. Pencitraan itu hanya akting. Acting itu berpura-pura. Jadi jangan mau dibohongi. Kedua, lihatlah orang-orang di sekeliling capres tersebut atau para pendukungnya. Lihatlah siapa saja partai pengusungnya. Lihatlah bagaimana track record partai-partai pengusung capres. Dan ketiga, lihat apa yang akan mereka rencanakan ke depan.

Tidak ada manusia yang sempurna memang. Tapi pilihlah yang sedikit keburukannya. Dua capres yang ada, sungguh sangat jelas komparasinya. Anda bisa melihat sendiri bagaimana Pak Jokowi sebagai salah satu capres tidak paham soal Laut Cina Selatan. Itu satu. Anda juga seharusnya tahu bagaimana Pak Jokowi berbohong soal penjualan indosat dan keberhasilan beliau mengurus jakarta ternyata justru terindikasi merugikan negara 1,5 triliun. Bagaimana mungkin kita serahkan tampuk kepemimpinan itu kepada orang yang tidak jujur dan tidak amanah?

Anda pun sebetulnya bisa melihat bagaimana sikap pak Jokowi saat Debat Capres yang dielu-elukan santun nyatanya suka menyerang, menyudutkan, dan menjatuhkan orang lain. Belum lagi barisan pendukung utama Pak Jokowi adalah partai paling korup sepanjang tahun 2002-2014 dan orang-orang di dalamnya adalah para pengasong paham LGBT juga sepilis yang bahayanya sudah saya tulis di atas.

Jadi, sesungguhnya sudah jelas di depan mata kita. Saat ini bukan lagi saatnya kita sok netral. Bukan lagi saatnya kita diam dengan dalih diam itu emas. Saat ini, justru upaya menjaga keutuhan dan kedaulatan negara dari cengkeraman para pembuat makar ada di pelupuk mata. Jadi sebagaimana kapal yang akan karam. Lalu kita adalah penumpangnya. Pilihan ada di tangan dan hati kita masing-masing. Mau menjadi siapa di kapal itu?

Bulan Ramadhan adalah bulan perjuangan dan bulan pencerahan. Semoga usaha kita, sekecil apa pun itu, menjadi pahala istimewa di Ramadhan tahun ini. Amin.

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Others. Bookmark the permalink.

10 Responses to Saat Diam Tak Semahal Emas

  1. Salam dua jari… Hahaha

  2. “Kedzoliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat. Tapi karena “diam”nya orang-orang baik.” (Ali bin Abi Thalib ra)

  3. Haya Najma says:

    dyyyyy…. kapan ke pwt lagih?😀

    OOT banget

  4. jampang says:

    Indonesia akan tidak akan hancur karena banyak orang bodoh yang bicara, tetapi karena banyaknya orang pintar yang diam

    *quote dari mana, saya lupa*

  5. Rini says:

    Baiklah, jangan sok netral kan? Mari pilih nomor satu! *kampanye mode on🙂

  6. Prabowo and his brother killed my uncle. I’ll be damned if I ever vote for that asshole.

    • Dyah Sujiati says:

      I’am sorry to hear that, Sir.

      But, just and only for this case, i guest its better to apologize them. I know its too much hard, but please forgive them for better Indonesia future. I do sorry.

  7. anto says:

    saya setuju dengan artikel diatas, namun ketika saya mencoba untuk mempublish pilihan saya, saya harus berfikir 2 kali dikarenakan saya mempunyai teman dari 2 kubu yang berbeda ini (di FB, Twiiter) dikarenakan belum terbiasa berargumen di dunmay, sy jd berfikir apakah mereka bs menangkap maksud saya., yang bisa saya lakukan hanya di real life aja..berdiskusi dengan orang yang berseberangan, jd biar bs liat langsung ekspresinya..dan yang pasti saya akan tetap berteman walaupun tdk bs meyakinkan teman saya..thx

  8. nats says:

    ehm…timses neh😀

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s