Dampak Psikologis Pilpres yang Tak Terlirik

9 Juli telah berlalu. Momen pesta demokrasi telah kita rayakan. Meski menurut saya itu ironi sebab demokrasi hanya terrayakan dalam sekali coblos. Namun meski acara pencoblosan telah selesai, rangkaian acara pilpres ini belum berakhir hingga KPU menetapkan hasil rekapitulasi suara tanggal 22 Juli mendatang.

Mengamati jalannya pilpres tahun ini yang hanya terdiri dari dua kandidat, menurut saya, seperti memberi efek psikologi tersendiri bagi sebagian orang. Yaitu orang-orang yang memang kurang tertarik pada dunia politik. Momen pilpres kali ini menurut pengamatan saya, membuat orang-orang tersebut menjadi ‘kecewa’ dan semakin tidak tertarik.

Beberapa waktu sebelum pilpres saya sempat membuat kultwit di twitter saya (@dyahsuji) tentang penyebab kurang tertariknya (baca : apatis) masyarakat kepada kedua kandidat capres akibat media mainstream. Berikut rangkaiannya.

Tahukah anda tentang #media, fungsi, dan posisinya?

#media adalah alat utama untuk melakukan propaganda. Propaganda adalah rangkaian pesan guna mempengaruhi pikiran orang/sekelompok orang.

Jadi secara teknis, fungsi #media adalah sbg alat persuasi dan promosi. Media meliputi media cetak, media elektronik, maupun media sosial.

Dlm rangka pilpres ini, #media mainstream mendukung salah satu pasangan capres-cawapres yg memiliki barisan pendukung : sepilis dan LGBT.

Sehingga kali ini sy menyimpulkan ada 2 misi dr #media mainstream.
1. Membuat pemirsa mengikuti apa yg mereka mau.
2. Membuat pemirsa apatis

Cara #media menjalankan misinya melalui 2 cara.
1.Mengulang2 berita berdasar versi mereka.
2.Membuat kesan buruk atas kedua kandidat yg ada.

Cara 1 adalah utk menanamkan kebenaran versi mereka. Sebagai contoh:
Anda melihat si A mengambil mangga. Lalu karena si B bilang berulang2..

berulang2 bahwa A ambil nangka dan diamini tetangga2 Anda, lama2 Anda galau jg kan? Pdhal Anda lihat A tadi ambil mangga. You get my point?

Contoh cara 1 ini :
1a. Mengulang2 ‘blunder kebocoran anggaran yang mereka versikan APBN’ padahal yg dimaksud Prabowo adalah konteks luas.

1b. Soal TPID yang jelas2 itu tidak pada tempatnya tapi terus diberitakan dg versi : Prabowo tdk bisa jawab pertanyaan Jokowi.

1c. Heboh blusukan yang tidak menghasilkan apa-apa. Tapi diversikan seolah itu hal yg amat mendesak sehingga melupakan aspek penting lain.

Sedang cara k2 adalah dg membuat kesan orang yg menyampaikan fakta kinerja yang tdk sesuai harapan (baca: buruk) adalah menjatuhkan lawan.

Dr cara k2 ini, orang akan menilai bahwa kedua kandidat yg ada saling serang dan sama2 brambisi. Orang susah bedakan mana fakta mn rekayasa.

Lalu orang2 menjadi apatis. Mereka pikir pilih 1 atau 2 sama saja. Mereka akan golput. Akibat golput bisa baca >>

dyahsujiati.com/2014/04/05/mas…

Selain itu, #media mainstream juga lihai sekali memanfaatkan celah cara pikir massa. Mereka goreng isu murahan semacam cipika cipiki yang…

Chipiki yg tidak substansial. Efeknya:
1. Massa terbawa/terpengaruh
2. Massa semakin apatis.

Lalu kita harus bagaimana?

Mari buka mata hati n sedikit lebih cerdas dari biasanya. Lebih kritis pd berita dr #media mainstream. Open your mind! Remember your child.

Bandingkanlah berita dengan #media antimainstream. Sehingga kita lebih adil menilai.
Sehingga mau memilih calon terbaik dg sepenuh hati.

Sehingga kita tidak apatis terhadap negeri ini karena menganggap semua calon yang ada adalah buruk akibat pengaruh #media mainstream

Itu adalah yang terjadi sebelum pilpres. Bagaimana dengan setelah pilpres? Ada salah satu kubu memainkan opini ‘hanya kecurangan yang bisa mengalahkan mereka’. Ini adalah kubu yang masih sama dengan kubu di kultwit itu. Kubu inilah yang didukung oleh media mainstream.

Mereka melalui lembaga survei dan media mainstream terus menggoreng quick count dan mengklaim kemenangan di kubu mereka. Tujuannya adalah membentuk persepsi masyarakat bahwa kubu mereka betul-betul telah menang. Sehingga nanti jika hasil rekapitulasi suara KPU berbeda dengan versi quick count mereka akan berteriak ‘pemilu curang’. Sikap mereka yang terus menerus memainkan opini itu secara perlahan sebetulnya telah menekan instansi negara bernama KPU secara psikologis.

Itulah mengapa kubu yang satu lagi juga harus ‘ikut-ikutan mengklaim kemenangan’. Tujuannya adalah agar KPU tidak takut dan tidak tertekan sehingga tetap menyampaikan hasil rekapitulasi apa adanya.

Nah, di situ lah tidak sehatnya demokrasi pasca pilpres. Kedua kubu jadi terkesan ‘kanak-kanak’ semua. Analoginya sama dengan apatisnya masyarakat terhadap kedua kandidat sebelum pilpres. Orang-orang jadi menyamaratakan semua sama. Get my point?

Bagi orang yang memang sejak awal kurang tertarik dengan politik dan pemilihan presiden ini, mereka akan menilai kedua kubu kandidat adalah sama saja. Sehingga orang-orang ini juga akan semakin kecewa terhadap pelaksanaan demokrasi. Saya sendiri juga mengakui akan hal itu bahwa kita belum dewasa berdemokrasi. Seharusnya kalimat ‘hanya kecurangan yang bisa mengalahkan’ itu tidak perlu muncul jika memang kita sudah dewasa dalam berdemokrasi. Kalau memang menjunjung tinggi demokrasi, mestinya legowo dengan kekalahan karena kita menghargai pilihan orang. Bukan malah memaksakan kehendak dengan segala cara. Apalagi kalau sampai membuat negara chaos. Ffffhh

Secara tidak kasat mata, perilaku kurang dewasanya salah satu pihak membuat orang-orang akan menilai bahwa kubu yang lain juga demikian. Orang-orang yang melihat secara parsial akan kecewa pada semua kandidat beserta barisan pendukungnya. Sehingga menurut mereka yang kurang tertarik itu, kedua belah pihak sama saja. Itulah efek psikologis yang nampaknya tidak dilirik para aktivis demokrasi di negeri ini. Haha. Sok iya banget saiyah.

Begitu juga dengan media. Semua jadi terkesan berpihak pada salah satu pasangan kandidat. Padahal, bisa jadi yang sebagian itu hanya berusaha objektif dan netral serta jujur menyampaikan fakta. Tapi karena tidak sesuai dengan media yang mainstream atau salah satu capres, media yang berusaha menampilkan fakta itu dicap memihak rival media mainstream. Orang kan jadi susah bedakan mana yang fakta mana rekayasa. Orang juga jadi sporadis menyimpulkan media yang menyampaikan kinerja buruk salah satu kandidat disebut juga black campaign. Jadi serba repot. Intinya kembali pada pemirsa, secerdas apa menyikapi pemberitaan.

Oh ya. Sedikit curhat. Di dunia nyata saya bertemu dengan seorang yang sebegitunya menilai kedua kubu adalah jelek tanpa mempertimbangkan dan komparasi secara utuh. Idealnya memang kedua pasang kandidat adalah putra terbaik bangsa. Namun bagaimana lagi kalau ternyata ada kandidat yang justru dibacking kekuatan asing untuk semakin kuasai Indonesia? Bagaimana kalau ada kandidat yang antara pemberitaan dan kenyataan offside? Apakah kemudian kita mendiamkan dan berpura-pura tidak tahu? Kita memang masih dalam proses belajar berdemokrasi dan tidak ada sesuatu yang sempurna. Tapi bagi saya, sikap orang itu -yang di dunia nyata- juga mencederai proses belajar itu tadi. Sebab dia hanya menghujat. Bukankah lebih baik sumbang ide?

Baiklah, sebagai penutup tulisan ini saya berharap kita semakin dewasa dalam berdemokrasi khususnya dan dalam kehidupan berbangsa bernegara umumnya. Semoga akal sehat dan hati nurani kita peka dengan keadaan lalu tercermin dalam tingkah laku. Tak sebatas retorika.

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Kontemplasi and tagged . Bookmark the permalink.

8 Responses to Dampak Psikologis Pilpres yang Tak Terlirik

  1. jampang says:

    i get the points!

  2. media anti mainstream seperti apa, mbak? hehe.. kasih contohnya, dong..

  3. Rini says:

    Begitu juga dengan media. Semua jadi terkesan berpihak pada salah satu pasangan kandidat. Padahal, bisa jadi yang sebagian itu hanya berusaha objektif dan netral serta jujur menyampaikan fakta. Tapi karena tidak sesuai dengan media yang mainstream atau salah satu capres, media yang berusaha menampilkan fakta itu dicap memihak rival media mainstream. Orang kan jadi susah bedakan mana yang fakta mana rekayasa. Orang juga jadi sporadis menyimpulkan media yang menyampaikan kinerja buruk salah satu kandidat disebut juga black campaign. Jadi serba repot. Intinya kembali pada pemirsa, secerdas apa menyikapi pemberitaan. –>
    Ya, harus tetap cerdas dan menjaga agar kecerdasan kita digunakan untuk mencerdaskan orang lain juga, bukan malah membodohi orang.

  4. Toni says:

    Kalau berlangsung lama seperti ini dan harus menunggu hasil penghitungan hingga 22 Juli mendatang, bisa saja terjadi bentrokan antara pendukung kedua belah pihak tapi semoga saja tidak terjadi soalnya ini bulan ramadhan

  5. mmamir38 says:

    Kita harus sadar dulu siapa yang di balik masing-masing media.
    Saya pernah dapat e-mail dari kolega non muslim yang mengirim tulisan wartawan bernama Nairn yang mencaci maki maki salah satu capres.
    Kolega itu juga menambahkan bahwa yang mendukung capres tsb adalah kaum Islam radikal.
    Saya jawab bahwa sebagai seorang Muslim saya kagak bakalan pilih yang didukung oleh pembantai umat Islam.
    Aku kok mau diguruin.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s