Bagai Kayu Yang Diamplas

Di dunia ini, sebagian hal tercipta adalah berpasangan. Sebagaimana ada siang tentu ada malam. Ada hujan ada kemarau. Ada ‘Winter’ ada ‘spring’. Hehe. Ada polos ada berwarna. Ada baik ada buruk. Begitulah, karena itu fitrah.

Di dunia ini, dari awal ia diciptakan hingga kelak kiamat, ada satu hal yang abadi. Yaitu konflik. Pertarungan yang sekaligus kebersamaan antara antara yang baik dengan yang buruk/jahat. Pertentangan itu selalu ada karena ia tercipta sebagai sarana untuk dipilih manusia. Manusia yang memilih hal baik mendapat balasan pahala sebagai tiket menuju surga, sedangkan manusia yang memilih hal buruk akan mendapat balasan dosa sebagai tiket masuk neraka.

Selama manusia yang diberi akal itu hidup, selama itu pula, konflik terus ada. Jaman dulu, konflik itu berlangsung frontal. Artinya antara hitam dan putih itu nyata. Tapi kalau sekarang, konflik itu seperti abu-abu.

Mari beranalogi sebentar. Bayangkan sebuah balok kayu indah dan halus berukuran 1 m x 1 cm x 1 cm. Patahkan balok tersebut. Klek! Balok kayu patah menjadi dua bagian. Rusak. Tapi Anda menyadari dan merasakan saat pengrusakan itu terjadi, bukan? Itu pun terjadi dalam waktu yang singkat. Ketika Anda ingin balok kayu tadi utuh kembali, Anda tinggal menyatukan bagian yang patah dengan lem. Beres.

Lalu, dengan balok kayu indah yang sama. Anda mengamplas balok tersebut perlahan-lahan dari ujung. Tiga hari ke depan, balok kayu indah tadi tinggal separo. Bagaimana jika Anda ingin membuatnya utuh kembali? Bagaimana Anda bisa menyatukan serpihan-serpihan kayu yang telah menjadi bubuk?

Nah! Seperti itulah kiranya, konflik abu-abu yang terjadi jaman sekarang. Berbagai paham berkedok humanisme dan liberalisme sukses menjadi amplas yang mengikis mental generasi penerus. Sukses menjauhkan manusia dari sesuatu perbuatan yang menghasilkan pahala dan mendekatkan manusia pada sesuatu perbuatan yang menghasilkan dosa. Karena sejatinya, kehidupan manusia yang sesungguhnya adalah setelah kiamat. Dunia ini hanya tempat memperoleh tiket akan di mana nanti berada. Karena itu, sekali lagi, kebaikan dan kejahatan selalu bersama menjadi pilihan manusia.

Jaman sekarang banyak orang yang memilih apatis terhadap hal-hal abu-abu yang sebenarnya berbahaya. Hal-hal yang tidak nampak secara jelas memberi efek rusak pada moral dan mental manusia, namun pelan tapi pasti, efek hal-hal tersebut signifikan.

kalau menulis seperti ini, saya bisa saja dianggap seperti nenek-nenek yang sedang mengigau. Begitulah. Itu salah satu efek ‘kayu yang diamplas’. Membicarakan hal yang baik jadi tabu.

Jadi, mulai sekarang, peka lah pada ‘hal-hal’ itu. Jangan apatis. Jangan memandang hal itu dari ukuran ‘kecil’nya saja. Dan jangan menunggu menjadi ‘orang hebat’ dulu baru mulai bergerak. Memperbaiki diri sejalan dengan berkontribusi untuk manusia lain. Jangan mau jadi korban seperti kayu yang diamplas dan jangan biarkan orang lain menjadi korban penggantinya.

[bersambung]

cheers ^_^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Kontemplasi and tagged . Bookmark the permalink.

3 Responses to Bagai Kayu Yang Diamplas

  1. winnymarch says:

    ada kaos dan sepatu juga mbak e hhehhe:D

  2. jampang says:

    dulu waktu SMA analogi kayu itu saya terima berupa katak dalam bejana berisi air. Jika katak dimasukkan ke dalam bejana yang isinya air panas… bisa jadi di katak langusng lompat keluar bejana. tapi jika air di dalam bejana air biasa, lalu katak dimasukkan ke dalamnya… katak akan tenang. lalu air tersebut dipanaskan perlahan-lahan, katak mungkin tahu, tapi dia merasa nyaman-nyaman aja…. akhirnya, ketika airnya mendidih… itu sudah terlambat bagi katak untuk keluar dari bejana

  3. Rini says:

    Benar sekali, ketika berusaha baik atau membicarakan kebaikan dianggap sok alim bahkan aneh, kaum sekuler dan liberal bersorak gembira.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s