Bukan Sinetron

Kalau sempat melihat sinetron yang selalu tayang menghiasi layar kaca, saya bisa memastikan satu hal. Bahwa tokoh protagonis adalah orang yang kelewat baik dan terlampau dianiaya sehingga dikasihani. Dan bahwa tokoh antagonis adalah orang yang kelewat jahat, tega, dan tak punya belas kasih. Sehingga apa yang nampak di sinetron adalah sesuatu yang tak mungkin ada di dunia nyata. Itu menurut saya. Namanya juga tontonan.

Di dunia nyata ini, saya bertemu dengan banyak orang. Karakter mereka berbeda-beda. Dan jika dibandingkan dengan sinetron, saya tidak bisa langsung temukan padanannya.

Akan tetapi, kejadian luar biasa yang saya temui siang tadi nampaknya melebihi tontonan sebuah sinetron. Bagaimana tidak? Baru kali ini saya melihat dengan kepala saya sendiri.

Menjelang makan siang, saya mampir di warung bakso di pinggir jalan. Betapa saya kaget, seorang lelaki muda bertubuh besar (lebih muda dari saya kelihatannya) tergeletak tak berdaya tepat di depan pintu masuk warung bakso tersebut. Banyak orang di TKP. Seorang bapak-bapak berusaha menyadarkan lelaki itu. Orang-orang yang lain sibuk menceracau meluapkan isi hati masing-masing. Dan dari mereka saya pahami bahwa lelaki itu tiba-tiba jatuh tersungkur dari jalan raya dan masuk di kolong meja. Lelaki itu kejang-kejang. Seorang ibu penjaga dengan susah payah melepas helm dan menyeretnya lalu memposisikan lelaki itu tepat di depan pintu.

Lelaki itu diam tak berdaya dan tergeletak di lantai warung yang setengah tanah. Dia masih belum begitu sadar.

Dan yang memilukan di antara semua itu adalah ibu pemilik warung yang super antagonis. Dengan kondisi lelaki yang tak berdaya itu, si ibu pemilik terus berteriak dan mengomel. Dia ribut menyuruh lelaki itu bangun. Menuduhnya berpura-pura. Memakinya dengan mengatakan lelaki itu tak tau aturan. Dia menyuruh bapak-bapak yang menolong itu untuk mencari KTP dan handphone. Lelaki tak berdaya itu diam tak merespon, dan malah dikatai si ibu bahwa ini tidak masuk akal. Ibu pemilik warung terus mengomel dan bahkan meminta si bapak untuk lapor polisi. Dia terus memaki lelaki yang tak bergerak sedikit pun itu. Dan setelah lelaki itu bisa duduk si ibu langsung ribut mengomel karena pintunya rusak dan mangkoknya pecah dua.

Saya menyaksikan adegan itu dengan mata kepala saya sendiri. Sungguh kelakuan seorang manusia yang di luar batas kewajaran. Persis tokoh antagonis yang tak rasional dalam sinetron. Tapi ini adalah nyata. Bukan sinetron.

Lelaki itu ternyata punya penyakit ayan dan tadi kambuh sehingga dia jatuh tersungkur. Masih untung dia tidak dilindas truk tronton yang berkeliaran di jalan itu.

Saya sama sekali tidak merasakan nikmatnya makan bakso. Karena berisik omelan pemilik warung dan kasihan pada lelaki itu. Dan mulai hari ini saya bertekad untuk tidak akan lagi membeli bakso di pemilik yang jahatnya seperti sinetron itu. Semoga Allah menjaga kita (khususnya saya) dari sifat dan sikap yang buruk. Aamin.

cheers ^_^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged . Bookmark the permalink.

6 Responses to Bukan Sinetron

  1. May the warung owner get a chronic epilepsy in her later life when no one cares to help her…

  2. jampang says:

    pasti warungnya nggak laku, makanya marah-marah ….. dan malah jadi tambah gak laku gara-gara satu pelanggan gak mau datang lagi

  3. Rini says:

    mungkin sinetron itu benar ya terinspirasi dari dunia nyata, walaupun yg diangkat itu yang jelek-jeleknya aja (terlampau jahat).

  4. aduh, tega nian ceritanyaa..😦

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s