Masa Lalu

Hari Sabtu lalu saya sempat mbolang sebentar di perbatasan Tuban-Lamongan. Melewati hamparan sawah yang membentang. Mencium aroma jerami yang basah dan yang terbakar. Menyaksikan beberapa petani masih syahdu memanen padi. Sesekali melihat sang surya menjingga dan beranjak ke cakrawala. Angin sore yang berhembus tak sepanas siang. Benar-benar nikmat Tuhan yang tak kan mampu dibayar.

Saya jadi teringat pada kejadian sekitar tiga tahun yang lalu. Ketika saya begitu kecewa karena dikecewakan. Ketika saya harus melepas harapan yang saya gantung teramat tinggi. Ketika saya masih begitu polos memaknai kata “peluang”. Dan semua itu tentu membuat saya terluka. Luka yang teramat perih. Dan lebih perih lagi bila saya sadar akan kebodohan yang juga berperan penting menambah sayatan luka di masa itu.

Kekecewaan itu terasa benar di hati saya, saya tak kuasa menahan kaca di mata agar tidak mencair. Saya “kabur”. Saya lari dari rumah dan melintasi jalan yang sama dengan saya lalui Sabtu itu sambil terisak menangis. Menumpahkan segala rasa. Memecah kaca-kaca di mata menjadi butiran air yang terus mengalir membasahi pipi.

Itu tiga tahun yang lalu. Sebuah masa lalu yang meninggalkan segaris warna dalam lembaran hidup saya. Saya tentu tidak melupakannya begitu saya. Walau saya juga telah memetik banyak hikmah dari pelajaran hidup yang telah berlalu itu. Ya, walau juga masih menyisakan sedikit tanya. Tapi bukankah dalam hidup memang harus ada sesuatu “yang tak pernah selesai”? Yang karenanya telah membiarkan kita terpekur dalam asumsi usai lihai mengandai. Hehe.

Dan mengenai luka yang pernah singgah, saya selalu suka pada cara waktu mengobatinya. Benar sekali, waktu adalah obat paling mujarab bagi setiap luka. Time heal every wounds. Setidaknya, ada dua cara yang saya tahu. Waktu membuat kita lupa atau mengubah cara pandang kita. Membuat kita menilai masa lalu sebagai sesuatu yang pantas disyukuri atau pantas ditertawakan. Dan mbolang Sabtu sore di perbatasan Tuban-Lamongan, akhirnya bisa membuat saya mentertawakan masa lalu itu.

*tulisan berisi curhatan tidak penting. Wakakak😄😄😄

cheers ^_^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Masa Lalu

  1. jampang says:

    masa lalu memang bijak, dia tidak akan mengekang diri di dalam luka
    kecuali jika diri yang tidak mau “kabur”

    • Masa Lalu tidak akan kembali, mbk. Rasa sakit pasti akan selalu ada obatnya. Luka akan kembali menganga jika terus-terusan menyalahkan diri atas perbuatan di masa lalu😀 Hal yang penting, ada proses perbaikan, kan?

  2. Rini says:

    Waktu membuat kita lupa atau mengubah cara pandang kita. Membuat kita menilai masa lalu sebagai sesuatu yang pantas disyukuri atau pantas ditertawakan. –> menyukurinya dengan tertawa sajalah hehe

  3. Time rewrites all the lines you’ve written.

  4. Galuh Nindya says:

    Sesekali, bolehlah ya menoleh ke masa lalu. Daaan.. pakai spion saja nolehnya. Kl kelamaan liat blkg, yg di depan bisa-bisa jadi tak terlihat🙂

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s