Akankah Pertamina Bernasib Sama dengan Indosat atau Semen Indonesia?

Oh God, apa yang akan terjadi dengan Pertamina?
Mengapa Dwi Sucipto (DS) yang dijadikan Dirut Pertamina?
Apa korelasinya dengan kenaikan BBM Premium baru-baru ini?

DS dijadikan Dirut Pertamina u/ menjerat Pertamina dgn serangkaian Global Bond (Surat Utang Global) dan IPO.
Lho, memangnya Pertamina kekurangan uang? Kok sampai harus diagendakan terbitkan Global Bond dan dijadwalkan IPO?
Bukankah Pertamina adalah pemberi dividen terbesar dari seluruh BUMN ke APBN?

Setiap tahun, dari total dividen yg disetor ratusan BUMN ke APBN, setoran dividen Pertamina mengambil porsi 50% dari total dividen BUMN. Jika Pertamina mampu setor dividen besar ke APBN tiap tahunnya, kenapa tiba-tiba harus terbitkan Global Bond dan direncanakan IPO?

Jawabannya adalah Kenaikan harga BBM Premium akan membuat Pertamina kekurangan dana dan perlu terbitkan Global Bond dan siap-siap IPO.

Bagaimana korelasi antara [1] kenaikan BBM Premium; [2] DS jadi Dirut Pertamina; [3] Rencana penerbitan Global Bond dan siap-siap IPO?

Begini ceritanya,

Kemampuan Produksi Pertamina per tahun:
BBM Premium 12 juta kiloliter (KL) | BBM Pertamax 1 juta kiloliter (KL)

Sementara kebutuhan/konsumsi BBM Premium adalah 30 juta KL / tahun

Jadi,
Konsumsi BBM Premium 30 juta KL | Produksi BBM Premium 12 juta KL
Impor BBM Premium 18 juta KL

Nah, impor BBM Premium 18 juta KL dilakukan 1 pintu melalui Petral (Pertamina Internasional).

Kenapa 1 pintu? | Menghindari spekulan.

Sistem impor 1 pintu (via Petral) bertujuan agar impor BBM Premium oleh Pertamina tidak terjebak dalam permainan spekulan migas asing. Jadi, setiap tahunnya Pertamina menjual BBM Premium 30 juta KL:

Produksi 12 juta KL | Impor 18 juta KL
Pada harga Rp 6.500/liter, pendapatan Pertamina dari BBM Premium (30 juta KL), kurang lebih Rp 195 triliun.
Itulah kenapa Pertamina mampu sumbang dividen terbesar ke APBN, 50% dari total dividen ratusan BUMN.

Nah, apa yang akan terjadi jika harga BBM Premium naik ke Rp 8.500/liter?

Pertamina makin untung kah? | Tidak.

Ketika harga BBM Premium Rp 6.500/liter, Pertamax di harga Rp 10.000/liter, selisih Rp 3.500/liter. Bagi masyarakat kelas menengah, selisih Rp 3.500/liter masih besar, sehingga mereka cenderung pilih BBM Premium ketimbang Pertamax. Tapi, ketika harga BBM Premium naik jadi Rp 8.500/liter, sedangkan Pertamax Rp 9.800/liter, selisihnya hanya Rp 1.300/liter.

Dengan selisih hanya Rp 1.300/liter, masyarakat kelas menengah yg memikirkan mesin kendaraannya akan migrasi ke Pertamax. Karena hanya selisih Rp 1.300/liter, tapi bisa mendapat kualitas bensin lebih bagus, wajar akan terjadi migrasi massal ke BBM kelas Pertamax.

Masalahnya adalah kemampuan produksi Pertamina di BBM Pertamax hanya 1 juta KL / tahun. Dampaknya, migrasi BBM Premium ke BBM kelas Pertamax tak mampu dipasok Pertamina. Konsumen akan membeli BBM kelas Pertamax merek asing!

Mari kita lihat lagi, kebutuhan BBM Premium 30 juta KL: Produksi 12 juta KL | Impor 18 juta KL.

Apabila terjadi migrasi pengguna BBM Premium ke BBM kelas Pertamax sejumlah 18 juta KL. Siapa diuntungkan?

Jika migrasi ke BBM kelas Pertamax sebanyak 18 juta KL, sedangkan produksi Pertamax Pertamina hanya 1 juta KL. Siapa untung?

Tepat, sebanyak 17 juta KL yg semula memakai BBM Premium akan membeli BBM kelas Pertamax merek asing.

Silakan cek di berita-berita, 40 merek BBM asing sudah kantongi izin membangun masing-masing 20.000 SPBU asing. Total 800.000 SPBU asing. Dan semuanya menunggu gong dicabutnya subsidi BBM Premium, agar 800.000 SPBU kelas Pertamax merek asing ini punya pasar!

Dengan terjadinya migrasi 17 juta kiloliter ke BBM asing kelas Pertamax, artinya Pertamina kehilangan pembeli 17 juta kiloliter kan?

Apa dampaknya bagi keuangan Pertamina?
Mari berhitung🙂
Sebelum kenaikan BBM Premium:
Pertamina jual 30 juta KL | Harga Rp 6.500/liter
Pendapatan Pertamina Rp 195 triliun

Setelah kenaikan BBM Premium:
Pertamina jual 12 juta KL | Harga Rp 8.500/liter
Pendapatan Pertamina Rp 102 triliun

Pendapatan Pertamina dari BBM Premium:
Sebelum naik Rp 195 triliun
Setelah naik Rp 102 triliun
Anjlok Rp 93 triliun

Dengan pendapatan Pertamina dari BBM Premium berkurang Rp 93 T dari Rp 195 T jadi Rp 102 T, maka setoran dividen ke APBN juga merosot. Jadi, pencabutan subsidi BBM Premium memang mengurangi Belanja APBN. Tapi juga mengurangi Pendapatan APBN dari setoran dividen BUMN. Pendapatan Pertamina semula Rp 195 triliun dari jual 30 juta KL BBM Premium, Menurun ke Rp 102 triliun dari jual 12 juta KL.

Kemana perginya Rp 93 triliun yang biasanya membeli BBM Premium Pertamina?
Tentu saja, ke 800.000 SPBU asing itu!

Itulah kenapa sebelum kenaikan BBM Premium, kelihatannya asing begitu sibuk desak Jokowi naikkan BBM Premium. Ada konsumen SPBU mereka.

Dan lebih parah lagi, demi memanjakan asing dengan naikkan BBM Premium, keuangan Pertamina bakal merosot tajam.

BBM Premium naik >> SPBU asing dapat konsumen >> keuangan Pertamina merosot >> setoran dividen BUMN ke APBN merosot.

Lalu asing-asing berkata, “Jangan takut, kami siap membantu Pertamina”

Pemerintah RI bertanya, “Bagaimana caranya?”

Asing menjawab, “Pertamina harus bermain juga di BBM Kelas Pertamax, tingkatkan produksinya.”

Pemerintah RI tanya lagi, “Tingkatkan produksi Pertamax berarti harus ada investor,”
Asing bilang, “Jangan takut, dana kami siap,”

Lalu ditempatkanlah DS jadi Dirut Pertamina, untuk menjerat Pertamina dengan Global Bond (Surat Utang Global)

Saya yakin, dalam waktu dekat akan muncul wacana: Pertamina akan terbitkan Global Bond untuk investasi tingkatkan produksi Pertamax.

Melalui siapa aktor di balik akan diterbitkannya serangkaian Global Bond Pertamina?
Jawabnya : Dirut Pertamina DS, eks Dirut Semen Indonesia.

Dulu, Semen Indonesia bernama Semen Gresik. Di bawah pimpinan DS, Semen Indonesia kini berutang triliunan ke asing-asing. Bagaimana Semen Indonesia bisa berutang besar pada asing?

Penerbitan serangkaian Global Bond Semen Gresik/Semen Indonesia.
Siapakah tandem DS menjerat Semen Gresik/Semen Indonesia dengan utang pada asing?
Rudiantara, sekarang menjabat Menkominfo.
Rudiantara adalah salah satu kuncen dana-dana asing masuk ke perusahaan-perusahaan strategis di Indonesia, khususnya BUMN.
Terjeratnya Semen Gresik/Semen Indonesia pada utang (via Global Bond) akibat duet Dwi Sucipto dengan Rudiantara.
Ketika Singtel masuk membeli 30% saham Telkomsel, siapa kuncennya? | Rudiantara.
Ketika Singtel jual saham Indosat ke Qatar Telecom, siapa kuncennya? | Rudiantara.
Tak banyak yang tahu, due diligence penjualan Indosat ke Qatar Telecom dilakukan 2 tahun setelah akuisisi, peran siapa? | Rudiantara.
Seharusnya, proses pembelian perusahaan terbuka harus melalui Due Diligence, tapi karena asing begitu percaya pada Rudiantara menjadi tak perlu. Qatar Telecom baru mengaudit pembelian Indosat 2 tahun setelah akuisisi (pelanggaran aturan pasar modal).

Agar kamu semua tahu, Rudiantara juga menjadi kuncen terjeratnya PLN dalam rangkaian Global Bond. Dan kini, Rudiantara ada di Menkominfo.
Pertanyaannya kemudian, Apakah program Global Bond Pertamina oleh Dirut barunya DS, juga masih akan duet bareng Rudiantara?

Kita tunggu saja.
Yang jelas, setelah Pertamina terjerat dengan serangkaian Global Bond, ada potensi Pertamina kesulitan membayar cicilan.
Apalagi jika masyarakat yang migrasi ke BBM kelas Pertamax, terlanjur mencintai merek BBM asing.
Maka peningkatan produksi Pertamax tak guna.
Jika itu yang terjadi, maka Pertamina akan kesulitan mencicil Global Bond (Surat Utang Global) ke asing-asing ini.
Solusinya?
IPO, as usual.

IPO Pertamina otomatis akan disukai asing, karena akhirnya asing bisa membeli dan memiliki sebagian saham BUMN Migas RI.

Itulah kenapa asing sangat mengharapkan subsidi BBM dicabut agar:
1) BBM Asing dapat konsumen
2) Bunga dari Global Bond
3) Saham Pertamina (IPO)

Jadi kalau ada yang bilang bahwa pencabutan subsidi BBM Premium semata-mata menghemat APBN, jelas itu hanyalah bahasa pembohongan publik.

Faktanya, dampak kenaikan BBM :
– Berkurangnya belanja APBN
– Berkurangnya pendapatan APBN dari dividen BUMN
– Gembosnya keuangan Pertamina

Jangan lupa, selain 3 poin itu, ada :
– BBM Asing dapat konsumen
– Asing dapat bunga Global Bond Pertamina
– Asing punya saham Pertamina

Jadi kalau ada yang bilang, pencabutan subsidi BBM untuk menghantam Mafia Migas, Mafia Migas yang mana? Mafia Migas asing diuntungkan kok. Saya lebih melihat, kenaikan BBM hanyalah perpindahan dari Mafia Migas yang satu ke Mafia Migas yang lain, yakni Asing.

Sumber : http://iwanyuliyanto.co/2014/11/21/pengalihan-subsidi-bbm/#comment-14059

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Kontemplasi and tagged . Bookmark the permalink.

6 Responses to Akankah Pertamina Bernasib Sama dengan Indosat atau Semen Indonesia?

  1. jampang says:

    hiks… pelan-pelan bahtera ini akan karam

  2. Galuh Nindya says:

    Mari berdoa. Doa juga perjuangan kan?

  3. DPR Ingatkan Rezim Jokowi Agar Tak Menjual Pertamina
    http://kabarnet.in/2014/12/15/dpr-ingatkan-rezim-jokowi-agar-tak-menjual-pertamina/

    Wacana penjualan aset milik negara oleh pemerintah Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali membuat heboh. Kali ini, melalui Menteri BUMN, Rini Soemarno, pemerintah Jokowi berencana akan menerbitkan obligasi atau pencatatan utang PT Pertamina (Persero) di pasar modal, atau dalam bahasa sederhananya “menjual” kepemilikan PT Pertamina yang merupakan aset strategis milik negara.

    Terkait hal tersebut DPR meminta agar Menteri BUMN tidak seenaknya sendiri mengatur BUMN seperti Pertamina dengan melakukan penerbitan obligasi.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s