Rinai

Hari ini bercampur banyak rasa di dadaku. Membuatnya jadi terasa sesak. Hari ini, ada hal-hal yang membuatku merasa kelu. Rasa yang telah lama menghilang, tiba-tiba saja hadir kembali. Belum lagi, hal-hal yang kulihat dan mengoyak batinku.

Lelaki pangemis dengan pakaiannya yang kumal di simpang lampu merah. Tangan dan kakinya yang tidak berfungsi sebagaimana orang normal. Dan wajahnya yang kusut nampak tak pernah ‘bercanda’ dengan Tuhannya. Aku sedih sekali melihatnya. Bagaimana kah orang seperti beliau bisa merasakan kebahagiaan? Apakah ia bahagia dengan hidupnya saat ini? Bahkan jika benar dia tak berinteraksi dengan Tuhannya, bagaimana lah hidupnya di akhirat kelak? Sungguh dadaku terasa perih.😥

Dan lebih perih lagi, bahwa kenyataannya aku juga masih begini-begini saja.😥 Aku belum bisa melakukan sesuatu untuk orang itu. Andai saat itu aku beri dia uang 50 atau 100 ribu, apakah itu bisa menjadi perubahan baginya? Sebab aku tahu, memberi ikan tidak ada artinya dibanding memberi sebuah pancing. Lalu, pancing itu, sampai saat ini aku masih belum bisa memberinya.😥 Sedih sekali rasanya.

Lalu, ini tentang rasa yang kusebut tadi. Rasa yang telah lama hilang. Tiba-tiba saja hadir kembali. Rasa yang susah sekali kuterjemahkan dalam kata. Sehingga setidaknya, aku bisa menumpahkan dan tak lagi mengisi ruang dadaku. Tidak, ia masih tetap bersemayam dengan anggun.

Entah rasa jenis apa sejatinya. Membuatku ingin sekali menangis. Tapi mataku kelu. Tak mampu mengeluarkan air mata. Apakah kalian sudah tau, bahwa menangis itu melegakan dada yang sesak? Maka, saat aku tak mampu menangis, dadaku semakin sesak oleh rasa itu.

Apakah kalian pernah menunggu seseorang yang telah berjanji untuk datang, tapi ia tak juga datang? Bahkan ia tidak menitipkan pesan apa pun pada siapa pun sehingga tetap membiarkanmu menunggu? Hingga akhirnya dia menghilang bagai debu yang terbawa angin, lalu kau pulang dengan rasa yang tak terdefinisi itu. Atau, pernahkah kalian menanti sebuah jawaban atas sebuah pertanyaan yang sedang menggantung?

Lalu langit hari ini yang terus berwarna kelabu semakin menambah mendung suasana hatiku. Semakin sesak dirasa. Ini bukan soal cinta tapi ini tentang rasa. Rasa seumpama mendung yang tertahan, yang enggan menjadi rinai gerimis ataupun rintik hujan.

~Catatan suatu sore di bus AKAP-30/01/2015~

Idih, nampaknya tulisan ini terlalu melow. Sepertinya itu bukan saya. Haha.

cheers ^_^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Kontemplasi and tagged , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Rinai

  1. wapenk says:

    Cukup tajam jg perasaan anda😀

  2. jampang says:

    jadi ditinggalin sama yang bikin janji?

  3. lambangsarib says:

    Suka kalimaat ini –> Dan wajahnya yang kusut nampak tak pernah ‘bercanda’ dengan Tuhannya.

    Ada yg berkata, kebahagiaan hanyalah imajinasi. Benarkah ?

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s