Menebar Kebaikan

Selama ini kita lebih sering mendengar petuah tentang kebaikan dan ajakan melakukannya daripada mendengar petuah akan keburukan sesuatu (kemungkaran) dan larangan melakukannya. Dan hampir tidak pernah dengar adalah ajakan melarang terjadinya kemungkaran. Padahal jika muslim, kita diperintahkan untuk amar makruf sekaligus nahi mungkar.

Kita sangat sering mendengar nasihat untuk berbuat dan menebar kebaikan. Kita juga sering diingatkan untuk menjaga lisan dan hati. Namun, tanpa kita sadari, kita malah abai ‘mencegah kemungkaran’.

Misal, saat ada yang berbuat dzalim lantas kita memilih diam dan beralibi “itu urusan masing-masing”. Lha kalau begitu kapan kita mengerjakan perintah ‘nahi mungkar’?

Saat ini, melalui media mainstream, masyarakat dibuat sesat logika. Media mainstream menjadi media yang justru mengamputasi nalar rakyat Indonesia.

Contoh:
Dulu kita dihebohkan dengan mobil esemka. Kini di mana rimbanya?

Kita pernah ditipu mentah-mentah oleh media Tempo yang mengabarkan seorang putra Indonesia berhasil menyabet juara ketiga walikota terbaik dunia. Ternyata ‘diluruskan’ to? [link]

Dulu waktu pilpres, kita dibuai dengan kesederhanaan yang dicemplungkan di got dan dinaikkan bajaj. Pertanyaannya, apakah hal itu yang dibutuhkan sebagai solusi atas permasalahan negeri yang tidak sedikit?

Dulu kita pernah dibuai dengan kartu ini kartu itu yang sejujurnya itu tidak realistis. Kalau kita mau berfikir, kira-kira bagaimana ya implementasinya? Di situ saja sudah terasa janggal. Hehe.

Contoh lagi. BBM didengungkan turun harga padahal justru naik dari harga awal dan dilepas pada mekanisme pasar. Sementara harga-harga sudah melambung.

Media tiada henti mematikan akal dengan sangat keterlaluan. Contoh saat menyebut perahu getek sebagai kapal. Lalu kini saat rupiah melemah, malah bilang negara untung. Hadeuh.

Saat ini media sedang getol mempropagandakan tokoh yang digadang-gadang antikorupsi. Seolah-olah antikorupsi adalah segalanya. Walau yang bersangkutan justru menabraki konstitusi. Walau yang bersangkutan justru arogan dan kasar. Tapi apa lacur, media mem-framing persepsi kita seolah dia dewa penyelamat yang dibutuhkan Indonesia. Padahal, belum tentu juga dia bebas korupsi.

Media juga tidak lupa mencitrakan seolah dia dekat muslim. Contoh : Ahok berangkatkan umroh dan Ahok zakat.

Kalau kita berpikir, demi apa itu?

Negara Indonesia adalah kombinasi mayoritas muslim dan kaya SDA & SDM. Sasaran empuk para asing, aseng, dan Islamphobia. Negeri ini akan terus dipaksa agar rakyatnya dungu dan kelahi dengan sesamanya. Sehingga rakyatnya mudah ditipu lalu kekayaan negaranya terus dirampok. Sementara, sekaligus sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, bisa terus diinjak-injak.

Intinya, kita harus tetap sadar dan waspada pencitraan. Kita harus mencegah wabah sesat logika yang dilakukan melalui media mainstream yang terus mengamputasi nalar.

Menyampaikan FAKTA keburukan pemimpin dan orang yang dicalonkan memimpin adalah termasuk menebar kebaikan karena itu mencegah bahaya yang besar. Itulah kenapa Quran kisahkan Firaun dan bagaimana menyikapi Firaun.

Percayalah, jika umat Islam hanya memahami bahwa ‘membicarakan keburukan seseorang jika salah adalah fitnah dan jika benar adalah ghibah’ tanpa melihat konteksnya, sampai kapan pun, umat ini tidak akan merdeka. Umat ini akan terus ditipu dan diinjak-injak. Umat ini akan menjadi mayoritas yang justru ditindas dan dikadali minoritas.

Bila terpaksa hanya bisa diam, paling tidak kita tidak nyinyir pada mereka yang berusaha mencegah kezaliman. Muslim tidak hanya wajib amar makruf, tetapi juga wajib nahi mungkar.

Menebar kebaikan sejatinya bukan sekedar mengajak pada  hal baik, tetapi juga mencegah kezaliman dan kemungkaran. Termasuk menebar kebaikan adalah mencegah orang lain jatuh pada hal-hal tersebut. Menebar kebaikan artinya MEMILIH TIDAK DIAM saat melihat kemungkaran dan atau kedzaliman terjadi.

Maka termasuk menebar kebaikan adalah tidak membiarkan negeri ini dipimpin atau akan dipimpin oleh orang yang zalim.

Dengan cara apa?

Yaitu menebar kebaikan di dunia nyata dengan menyampaikan info (yang dapat dipertanggungjawabkan) yang didapat dari sosmed sebagai  penyeimbang media mainstream.

Sekali lagi, mari tetap sadar dan jangan sesat logika. Dan jangan lupa menyadarkan orang-orang di sekitar kita. Setidaknya, biar akun sosmed dan gadget kita bermanfaat. Hehe.

Mungkin akan dicap membosankan saat menentang media mainstream. Justru di situlah ujian dalam menebar kebaikan.

Sekian! Salam semangat🙂

cheers ^_^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Kontemplasi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Menebar Kebaikan

  1. Amar ma’ruf nahi munkar itu ibarat 2 sisi mata uang bagi seorang muslim.
    Uang tidak akan ada nilainya bila wujudnya hanya satu sisi saja.
    Begitu juga dengan seorang muslim bila ingin bernilai dihadapan-Nya.

  2. jampang says:

    nahi munkar memang lebih berat dibanding amar ma’ruf

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s