Adegan

Ada hal-hal sederhana, sangat sederhana malah, namun bisa berasa penuh makna. Apalagi kalau itu diiringi dengan nada-nada yang pas. Sayangnya, alunan nada yang berkombinasi dengan adegan sederhana tadi hanya ada di dunia film. Di dunia nyata tidak mungkin ada. Kecuali sedang di dekat orang yang punya gawe/hajatan.

Kita (biasanya sih saya) bisa mendramatisir keadaan atau sebuah aktivitas kecil dengan penuh penghayatan. Seperti sedang melakukan adegan yang terjadi di film-film.

Misalnya begini,
Menatap orang yang baru saja pamit dari rumah. Memandang hingga punggungnya hilang. Seakan dia akan pergi untuk waktu yang sangat lama dan tidak ada jaminan bisa bertemu lagi.

Atau sebaliknya. Saat berpamitan meninggalkan rumah teman atau sanak saudara. Kita (biasanya sih saya) bisa melihat mereka dari balik kaca spion kendaraan. Seolah pertemuan tadi penuh makna atau baru saja membuat keputusan yang sangat besar. Keputusan yang sangat penting, penuh pertimbangan.

Dramatis sekali, bukan?😄

Atau lagi begini. Memperlihatkan layar telepon kepada kawan yang menanyakan nomer handphone kawan yang lain. Kita (biasanya sih saya) melakukannya dengan sepenuh jiwa dan penuh penghayatan. Tiap gerakan dan perputaran handphone, memiliki makna tersendiri. Seolah kita (?) akan menunjukkan sesuatu yang sangat berharga atau sesuatu yang sangat rahasia. Yang bahkan menyangkut kelangsungan kebahagiaan seseorang.

Kalau itu lebay sekali. Haha.

Ada lagi seperti ini. Dengan penuh perasaan, kita (biasanya sih saya) membuka genggaman tangan penuh perasaan. Seperti sedang membuka sesuatu yang amat sangat penting. Sesuatu yang sangat berarti. Sesuatu yang sangat berharga. Atau bisa jadi, sesuatu yang akan membuatkan kita(?) berada di ujung dilema. Atau justru semacam petuah yang akan menyelamatkan dari suatu hal yang mengerikan. Pokoknya, sesuatu yang kita (?) genggam adalah sesuatu yang nilainya tiada tara.

Dan sesuatu itu adalah peniti yang baru saja dipungut. Kalau ini sudah pada taraf tidak waras.😄

Tulisan ini murni geje alias tidak jelas. Jadi harap maklum. Tadinya, saya ingin menulis cerita pendek yang memuat adegan-adegan seperti yang sudah saya tulis di atas. Tapi saya sedang tidak ingin berfikir (atau berkhayal?). Dari pada, imajinasi liar itu hilang begitu saja, lebih baik sy amankan di sini. Betul, tidak? :p

Saya jadi teringat pada si ‘saya'(?). Terkadang orang perlu ditampar biar sadar. Tidak harus ditampar pipinya dengan benda padat, tapi dengan kisah yang berhikmah.

Misal si ‘saya’ ini punya cita-cita. Punya harapan. Bahkan sudah punya plan A, plan B, plan C, dan seterusnya untuk mencapai cita-citanya. Namun sayang, si ‘saya’ ini pemalas. Maka si ‘saya’ ini harus ditampar biar berubah. Si ‘saya’ harus berusaha memantaskan diri agar cita-citanya memang layak dikabulkan oleh Tuhan.

*Dan tulisan ini semakin tidak fokus. Pfffh*

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Intermezzo. Bookmark the permalink.

One Response to Adegan

  1. jampang says:

    bisanya saya nggak bingung…. tapi ini koq jadi bingung bacanya😀

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s