Belajar Konsisten(si)

Bismillahirrohmanirrohim. Kali ini saya akan menulis sedikit serius. (jadi selama ini apa?!😄 ). Kali ini mari kita sama-sama belajar tentang konsistensi. Kalau orang Jawa bilang: ojo mencla-mencle.

Sebelumnya, mari bernostalgila. Mari mengingat-ingat lagi beberapa definisi.

1. minoritas /mi·no·ri·tas/ n golongan sosial yg jumlah warganya jauh lebih kecil jika dibandingkan dng golongan lain dl suatu masyarakat

2. mayoritas /ma·yo·ri·tas/ n jumlah orang terbanyak yg memperlihatkan ciri tertentu menurut suatu patokan dibandingkan dng jumlah yg lain yg tidak memperlihatkan ciri itu

3. konsisten /kon·sis·ten/ /konsistén/ a 1 tetap (tidak berubah-ubah); taat asas; ajek; 2 selaras; sesuai

4. Demokrasi. Ada banyak sekali definisi mengenai demokrasi. Tapi yang paling terkenal dan paling umum digunakan adalah definisi dari Abraham Lincoln. Dia mendefinisikan bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan yang diselenggarakan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Sederhananya, demokrasi berarti mewakili suara mayoritas (suara terbanyak).

Berawal dari tulisan yang diunggah oleh sebuah media nasional, berjudul : “HASIL SURVEI: Publik Tak Masalah Pemimpin dari Kelompok Minoritas” http://t.co/OsQ3nCbNoS. Publik yang dimaksud dalam surve adalah masyarakat di negara Indonesia. (Catatan: saya tidak sedang membahas surve yang dimaksud. Pakai metode apa. Berapa jumlah jumlah sampel yang disurve. Berapa angka randomnya. Berapa persen galatnya. Serta pernak pernik pertanyaan lain seputar surve ini, tidak sedang saya bahas.)

Saya lalu komentar mempertanyakan posisi Indonesia yang konon katanya menggunakan sistem demokrasi. Demokrasi identik dengan suara terbanyak. Kalau minoritas memimpin mayoritas, apakah itu tidak offside dengan sistem demokrasi.

Secara kasar saja, kalau demokrasi adalah suara terbanyak, maka suara terbanyak dari siapa? Minoritas punya suara terbanyak? Orang buta huruf sekalipun tau, jawabannya adalah mayoritas. Ini bukan soal hak dan kewajiban warga negara. Ini hanya soal jumlah. Suara terbanyak. Suara terbanyak  berasal dari suara mayoritas. Gampang dan terang.

Lalu ada seorang anonim entah lelaki atau waria, eh wanita😀 , mengomentari komentar saya. Bahkan dia memberi saya contoh hitung-hitungan. Okey, saya apresiasi usahanya. Tapi sayang, ada prinsip konsisten yang dia langgar sendiri. Seperti apakah itu? Mari kita kupas.

Perhatikan twit yang dia tulis.

image

Di rangkaian twit yang dia tulis tersebut, ada satu hal yang sangat konyol dan dua hal yang inkonsisten. Kekonyolan itu adalah surve dengan sampel (30 % persen mayoritas + 20 persen minoritas) atau (40 persen minoritas + 30 persen minoritas)? Metode apakah gerangan? 😁

Inkonsisten pertama adalah ketika berubah jumlah sampel. Dari (30 % persen mayoritas + 20 persen minoritas) menjadi (40 persen minoritas + 30 persen minoritas). Hihihi, kalau ini sih sebetulnya tidak perlu dipermasalahkan. Wong dia ngasih contoh juga dari metode yang gak jelas. Cuman dia nggak konsisten saja. 😅

Inkonsisten kedua, perhatikan garis merah.

image

Sebelumnya, dia ngetwit kalau mayoritas belum  tentu 100 % setuju dengan hal yang sama. Kemudian dia menjustifikasi kalau minoritas bisa setuju 100 %. 40 % dari yang dicontohkan semuanya setuju. Nah, ini inkonsisten kan? Bagaimana bisa menjamin nilai 40 % minoritas itu semua setuju dengan hal yang sama?

Artinya, dia membantah twit dia sendiri sebelumnya. Alias inkonsisten. Atau mencla-mencle. 😅 Atau bisa juga disebut standar ganda. Karena dia tidak membuat perlakuan yang sama untuk kasus yang sama. 😅 Kalau mayoritas tidak boleh 100% tapi yang minoritas boleh 100%. Hehe.

Di situ lah perlunya kita kritis. Hitung-hitung mengasah otak. Biar tidak tumpul. Agar tidak membebek begitu saja. Agar kita tidak mudah diombang-ambing. Sebab hidup bukan hanya tentang hal-hal yang terlihat independen. Hidup ini tentang kumpulan berbagai dimensi yang saling terhubung. 

Rangkaian twit di atas sebenarnya hanya contoh kecil tentang inkonsisten. Masih banyak kejadian yang lain. Semoga tulisan ini bermanfaat. (Tidak seperti tulisan-tulisan saya sebelumnya yang penuh dengan kegejean, huehehe.) Semoga kita bisa belajar dari kekeliruan seseorang, sehingga kita tak perlu melakukan kekeliruan serupa.

cheers ^_^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

3 Responses to Belajar Konsisten(si)

  1. Hati-hati … inkonsistensi itu bisa menular. Oleh karena itu jangan menjadi juru bicara orang-orang yang inkonsisten. Jokowi-JK yang inkonsisten .. menular ke pemujanya.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s