Memaknai Debat Kusir

Perdebatan adalah suatu keniscayaan dalam hubungan antarmanusia. Sederhananya, perdebatan adalah percakapan (baik secara lisan maupun tulisan) yang dikarenakan perbedaan pandangan. Ada debat yang menghasilkan sesuatu yang positif namun ada juga yang disebut debat kusir. Debat kusir adalah debat tak berujung yang tidak menghasilkan kesepakatan apa pun antara pihak yang berdebat. Debat kusir biasanya disebabkan oleh ego masing-masing orang yang tidak mau kalah.

Sekilas, debat kusir nampak seperti sesuatu yang tidak bermanfaat. Namun, ada dimensi lain dalam perdebatan. Yaitu gagasan yang dipaparkan oleh yang sedang berdebat dan  ‘penonton’ perdebatan. Jika yang diperdebatkan adalah sesuatu yang bersifat krusial (contoh masalah akidah dan pemikiran), maka sebenarnya tidak ada yang namanya debat kusir.

Apalagi kalau kita muslim, kita diperintahkan untuk beramar makruf dan bernahi mungkar. Para pembangkang perintah Allah yang terdiri dari kafir dan munafik, mereka akan terus menyebarkan pemikiran mereka, mengajak manusia pada yang mungkar. Sedangkan kaum muslimin wajib menghentikan kemungkaran itu semaksimal yang dia mampu. Maka, lewat apakah muslimin melawan pemikiran para pembangkang tersebut kalau bukan (salah satunya) melalui perdebatan?

Sebagai muslim, harus kuat menyampaikan argumen yang berdasar (bukan asbun). Sementara para kafir dan munafik juga kuat menyampaikan pemikiran mereka. Jika keduanya bertemu dalam perdebatan, pasti nampak seperti debat kusir. Tidak akan ada yang mau mengalah. Lalu jika perdebatan dihentikan, maka pemikiran kafir dan munafik tadi akan menyebar dengan mudah. Sehingga perdebatan menjadi perlu bahkan urgent, sebab muslimin wajib menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Allah.

Ajaran Islam meliputi segala aspek. Termasuk dalam bernegara atau sebut saja dalam ber-ipoleksosbudhankam. Kaum kafir dan munafik berusaha memisahkan urusan agama dengan bernegara yang biasa kita kenal dengan sebutan kaum sekuler. Mereka secara pelan dan halus mengiring muslim untuk mengikuti pemikiran mereka. Salah satu caranya adalah menghindari perdebatan dengan muslim melalui propaganda menghindari debat kusir. Ini yang tidak kita sadari.

Barangkali ada di antara kita yang sebel pada saudara muslimnya lantaran ia sering berdebat dalam rangka meluruskan wabah sesat logika atau karena dia sering ‘nyinyir’. Barangkali ada di antara kita yang memilih diam daripada capek berdebat dengan orang lain. Boleh saja karena itu preferensi masing-masing. Tapi terkadang, tanpa kita sadari, alih-alih kita tidak menyukai perdebatan, kita malah menghentikan nahi mungkar.

Misalkan ada kawan kita yang menulis status di sosmed miliknya atau malah tulisan panjang lebar di blognya. Ternyata untaian kata yang dirangkainya sukses menyayatkan luka di hati kita. Nah, bagaimana jika kondisinya dibalik? Bagaimana kalau tulisan kita yang berisi justifikasi pada debat kusir, ternyata melukai saudara kita juga? Bagaimana jika setelah membaca tulisan itu lantas dia jadi takut menyampaikan apa yang seharusnya disampaikan? Sebab ia takut jika tergolong orang yang debat kusir.

Hampir segala sesuatu berpotensi diperdebatkan. Apalagi soal preferensi. Termasuk preferensi bagaimana menyampaikan kebenaran. Kalau kita berprinsip “memilih diam daripada berdebat kusir” ya monggo. Tapi hargai juga orang yang mau meluangkan waktu untuk meluruskan pemikiran-pemikiran yang menyimpang. Dasarnya sudah jelas : Al Qur’an dan hadits. Itu saja. Para kaum pembangkang menyebarkan pemikiran lewat media sosial mereka. Maka muslim pun semaksimal mungkin memanfaatkan media sosial untuk meluruskan penyimpangan mereka. Atau untuk meluruskan kebaikan yang tidak dieksekusi dengan cara yang benar. Misalnya sedekah tapi salah sasaran.

Bagi yang suka berdebat atau nyinyir, selama dalam rangka meluruskan penyimpangan pemikiran kaum pembangkang, selama meluruskan sesat logika, jangan menyerah dan jangan takut dianggap debat kusir. Segala sesuatu berisiko. Termasuk disebelin sesama muslim dan dianggap debat kusir. Hehe. Namun, wajib menjadi catatan, debat bukan berarti kasar. Debat tetap dengan santun dan menjaga adab.

Memang, tidak semua hal perlu diperdebatkan. Tergantung konteksnya. Ada ranah yang tidak perlu diperdebatkan sama sekali, tapi ada yang harus kita perdebatkan. Dan selayaknya kita tidak terburu-buru dan mudah menjustifikasi perdebatan tak berujung adalah debat kusir. Jika kaum muslim memilih diam karena takut dianggap debat kusir, lantas siapa yang akan melawan pemikiran menyimpang dari kaum pembangkang?

Semoga Allah selalu memberi petunjuk kepada kita agar tau kapan waktunya berdebat, kapan waktunya diam, kapan saatnya menghentikan perdebatan, dan kapan saatnya menghargai perdebatan. Agar tidak terbolak-balik. Aamin. Sebab sebagai muslim, kewajiban kita adalah dua sekaligus: amar makruf dan nahi mungkar.

cheers ^_^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Opini and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to Memaknai Debat Kusir

  1. jampang says:

    hmmm… saya termasuk yang kurang suka nih berdebat😦

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s