Jatuh dan Terluka

Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun setiap elemen adalah subsistem keteraturan dari desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima bahwa tak ada sekecil apapun terjadi secara kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan.  (Andrea Hirata dalam Edensor)

Tidak ada sesuatu di dunia yang terjadi tanpa sepengetahuan Allah SWT. Bahkan daun gugur pun tercatat dengan baik. Maka, ketika ada kejadian yang menimpa seorang manusia pastilah merupakan bagian dari rangkaian kejadian dan takdir lainnya.

Suatu hari, pernah terjadi peristiwa. Seorang kawan saya, sebut saja namanya Bunga. Saya melihat handphone Bunga tergeletak di meja ketika saya melintas. Handphone itu menampilkan percakapan dengan seseorang. Qodarullah, saya ingin melihat lebih dekat sebab sekilas ada nama saya. Saya pun melihat dengan detail. Benar, Bunga sedang membicarakan saya dengan teman kami yang lain (sebut saja namanya Kembang). Mereka membicarakan kejelekan-kejelekan saya rupanya.

Di antara yang mereka bicarakan ada hal yang sifatnya benar sehingga bisa saya jadikan bahan evaluasi saya ke depan. Di bagian yang lain, ada yang disebabkan miskomunikasi sehingga Bunga salah paham terhadap saya. Dan di bagian yang lain, juga ada hal yang merupakan penilaian subjektif Bunga terhadap saya sehingga isinya pun bisa disebut fitnah. Dan itu merugikan saya secara nonmaterial.

Peristiwa tersebut sangat memukul hati saya. Saya sedih apakah saya sebegitu hina di mata Bunga dan Kembang. Dan saya juga heran Bunga yang nampak baik-baik saja di depan saya, ternyata bersikap sebaliknya di belakang.

AKAN TETAPI (sampe dibold😛 ) peristiwa yang saya ceritakan tadi, sama sekali tidak sampai membuat saya menangis. Tak sebutir pun air mata saya menetes, seterpukul apa pun saya saat itu.

Lain sekali ceritanya dengan yang akan saya tuliskan.

Saya memiliki tiga akun jejaring sosial yang masih aktif. Google+, Twitter, dan Blog Life Fire. Selain Google+ yang berfungsi untuk ‘nyampah’, tujuan saya membuat akun sosmed adalah untuk berbagi cerita, peristiwa, pengalaman, dan ilmu yang saya dapat. Ya walaupun nyatanya saya masih banyak geje di blog. Haha.

Secara khusus, saya bertujuan untuk turut berpartisipasi menghadang penyebaran virus sesat logika yang penyebarannya juga melalui sosial media. Saya sadar betul, saya ini cuma siapa. Pergaulan saya terbatas. Dan pengaruh yang saya ciptakan pun terbatas. Sehingga menulis menjadi pilihan.

Beberapa waktu lalu ada seorang teman yang menulis status di sosmed miliknya. No mention sih, tapi kok merasa tersindir alias seperti ditujukan untuk saya ya? Dan tulisannya sukses membuat saya menangis! Tulisannya sempat membuat saya jatuh dan terluka. Hehe lebay. Tapi beneran koq.

Dalam tulisannya, dia menghukumi orang yang dia tulis sebagai debat kusir. Entah kenapa, bisa jadi karena bertepatan dengan moment kejadian yang lain, sehingga saya merasa ditujukan untuk saya. Padahal belum tentu itu saya. Bukan karena apa, tapi saya jadi merasa seperti orang yang tidak berguna. Bahkan hina.😥

Membaca tulisan teman saya tentang debat kusir, benar-benar membuat hati saya terluka. Mental saya jatuh. Saya meratapi apa yang telah saya lakukan dengan media sosial saya selama ini jika ternyata cuma debat kusir. Astagfirullah, sedihnyaa.😥

Saya tidak berharap pembelaan dan pembenaran. Tapi saya benar-benar merasa sedih dan jatuh. Saya cuma butuh dikuatkan.  Akhirnya, setelah beberapa hari saya berusaha untuk bangkit, Alhamdulillah kini saya bisa. Walaupun masih belum seperti semula. Masih ada ketakutan-ketakutan yang tak terdefinisi. Takut jatuh lagi juga. Hehe.

Kejadian ini memberi saya pelajaran untuk lebih berhati-hati lagi dalam menulis. Bisa jadi, di saat yang sama, saya menulis bahwa saya pernah terluka karena status orang, ada orang lain yang terluka karena tulisan yang saya tulis itu. Kadang, untuk satu pelajaran saja, harus diperoleh dengan rasa sakit.

Dan karena saya pernah jatuh, maka saya ingin sekali membantu orang yang jatuh untuk bangkit. Pasti ada orang lain yang punya cerita serupa. Tak mungkin kan pemilik kisah seperti ini hanya saya? (emang elu siapa Dy?😄 )

Demikianlah curhat saya sambil menunggu waktu magrib tiba. Bihiihihihk

cheers ^_^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged . Bookmark the permalink.

8 Responses to Jatuh dan Terluka

  1. jampang says:

    jangan GR dulu kalau debat kusir itu yang dimaksud adalah….😀

  2. hmm… ini merasa daat pencerahan, apa merasa kehina nih?! :p wkwk

  3. winnymarch says:

    tp harus bangkit lg🙂

  4. Kalau aku nulis dengan niat berbagi kebaikkan dan ilmu. Males nyinggung2 orang lain. Nambah2 dosa aja. cmiiw😀

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s