(Belum) Tegak Sempurna

Antara iya dan tidak saya mau memposting tulisan ini. Antara malu tapi ingin yang berbeda begitu tipis. Yaelah? Dan saya putuskan untuk tetap menulis. Bihiihihihk.

Pernah suatu hari ada peristiwa. Saya sedang menyampaikan sesuatu pada teman. Namun tidak direspon dengan baik alias saya dicuekin. Kejadian sepele waktu itu sangat membekas buat saya. Entah kenapa, saya seperti berubah menjadi orang lain. Saya begitu tersinggung dan jadi merasa hectic seharian. Astagfirullah., terlalu!

Sampai ketika saya mau makan makanan pemberian si teman beberapa hari lalu, barulah hectic saya memudar. Buat apa coba saya sampai sebegitunya? Benar-benar seperti bukan saya. Lalu saya pun seperti mendapat pelajaran lagi. Jangan-jangan perbuatan sepele saya bisa juga menyebabkan orang lain hectic seharian? Astagfirullah, semoga jika itu sudah terjadi, yang menjadi korban bisa memaafkan saya dan saya bisa menghindari semaksimal mungkin di masa yang akan datang. Aaminn ya Rabb!

Begitu juga dengan kejadian beberapa waktu lalu.

Ketika ada tulisan seorang teman yang bisa membuat mental saya jatuh dan terluka. Tidak biasanya saya lemah begini. Biasanya saya ‘bebal’ dan kuat. Tapi entah kenapa saya jatuh sebegininya dan agak susah untuk tegak lagi.

Saya sangat setuju dengan kata-kata mbak Sari Puspita Ayu. Bahwa mau sebaik apa pun kita, mau jadi diri sendiri atau jadi orang lain, pasti tidak semua orang bisa menerima dan menyukai kita. Maka, prinsip itu bisa dibuat padanannya: sejelek apa pun kita, pasti masih ada yang mau menerima dan menyukai kita.😄 bener kan?

Maksud saya begini. Jujur sih bukan gadis yang lembut dan aduhai. (akhirnya jujur juga😛 ) Memang udah bawaan lahir begini. Kalau ada yang protes kata-kata saya (di blog atau twiter) adalah kasar, ya mau gimana lagi. Saya sudah mencoba untuk lembut maksimal. Tapi kalau hasilnya begitu? Mau gimana lagi? Sehingga mau tak mau saya harus memakai prinsip negasi (padanan) atas prinsip mbak Sari di atas.😉

Karena sudah berpegang pada prinsip negasi tersebut, biasanya, saya sangat kuat menghadapi badai ketidaksukaan [lebay!] orang pada saya, asalkan saya yakin bahwa saya tidak sedang melanggar norma dan aturan yang berlaku. Tapi kemarin, mental saya benar-benar jatuh Saudara-saudara! Dan ternyata susaaaah sekali untuk berdiri tegak sempurna seperti sedia kala.

Saya jadi takut mau nulis di media sosial. Takut dihukumi debat kusir. Eh bukan, tepatnya takut apa yang akan saya tulis tidak bermanfaat dan hanya menjadi debat kusir. Saya mencoba cuek dengan tetap nyetatus ber-genre curhat, tapi rasanya tetap gimana gitu. #:-S
Sampai saya putuskan untuk uninstall Twitter untuk sementara. Hehe, sebegitunya ya?

Mangkanya, sekarang saya bener-bener mau berusaha kalau nulis jangan sampe tulisan saya bikin orang jatuh kayak saya begini. Semoga saya bisa. Aaminn.

Oh ya satu lagi sekalian. Kalau dibuat analogi dengan orang yang jatuh secara harfiah. Bisa jadi kita yang jatuh memang butuh uluran tangan orang lain. Setidaknya, membantu kita berdiri. Syukur-syukur mau memegangi sampai yang jatuh tadi betul-betul sudah bisa berjalan dengan tegak sempurna. Walaupun bisa jadi, orang yang jatuh sebenarnya salah karena sengaja menginjak kulit pisang misalnya. Akan tetapi alangkah elok bila kita tak menyalahkannya saat itu juga. Atau kita malah meninggalkannya begitu saja. Tanpa menafikan variabel yang lain lho. Misalnya kita sendiri lagi lemah, ya malah bisa jatuh berbarengan tuh. Hehe.

Saya merasakan sendiri kemarin. Saat jatuh. Sendiri. Benar-benar susah untuk bangkit dan tegak lagi. Untunglah masih ada sahabat yang mau memegangi saya. Dan peristiwa ini juga memberi saya pelajaran untuk berposisi di area komplemen. Untuk kemudian saya bisa saling menguatkan, khususnya dengan sahabat-sahabat dipertemukan oleh Allah dan bersaudara karena Allah. Mudah-mudahan dua kejadian tersebut bisa menjadi pelajaran bagi saya ke depan. Aaminn.

Postingan ini curhat bangat yak? Hihihi. Biarin ah😛

cheers ^_^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged , . Bookmark the permalink.

6 Responses to (Belum) Tegak Sempurna

  1. Faris says:

    tiati.. Baper.. haha

  2. jampang says:

    mungkin sudah dekat waktunya untuk ……

  3. Rini says:

    Puk puk, ayo kembali tegak!

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s