Idealisme Pudar?

Dalam memperlakukan sesuatu, menyikapi masalah, atau memperlakukan seseorang, saya melakukannya dengan berbeda-beda. Ada hal-hal yang saya perlakuan “sudahlah dibikin simpel saja, gitu aja kok repot?”. Namun ada juga hal-hal yang akan saya akan “bikin repot” sebegitunya. Tergantung sikon dan konteks seperti apa. Mudah-mudahan sih eksekusinya nggak kebolak-balik, hehehe.

Sebagai komparasi seperti ini:
Ketika di bis ada orang yang jualan buku, walaupun saya tak begitu butuh (bahkan tidak sama sekali) saya akan tetap membelinya dan tanpa menawar. Sedangkan bila belanja di minimarket, saya tidak akan mau mendonasikan seratus rupiah sisa kembalian.

Begitu juga ketika ada pelanggaran kecil atau dinilai lumrah oleh kebanyakan orang, saya akan memilih menjadi bagian dari sedikit orang yang tidak menerima pelanggaran itu. Oke lah, sebuah pelanggaran kecil bolehlah dimaklumi jika dilihat dari dimensi individu. Tapi bagaimana jika dilihat dari dimensi sosialnya? Atau dilihat dari dampak jangka panjang-nya?

Contohnya begini. Ketika saya naik bis dan kondektur menaikkan tarif seenak jidatnya, tidak sesuai dengan aturan, saya pasti akan protes. Walaupun cuma di naikkan seribu rupiah. Bagi saya, bukan masalah keberatan pada uang seribu rupiah. Sama sekali tidak. Akan tetapi, jika saya diam dan tidak protes, artinya saya menerima (membiarkan) pelanggaran terjadi. Dengan kata lain saya mendiamkan kemungkaran.

Itu baru dilihat dari dimensi si saya. Dari dimensi sosial, jika perbuatan kondektur itu dibiarkan, dia akan merasa benar dan tuman (Jawa: menjadi kebiasaan). Kasihan donk penumpang lain yang akan dia tarik tarif seenaknya? Ya kalau cuma seribu? Kalau lebih?

Bagaimana kalau dilihat dari dimensi kondektur itu sendiri? Ketika dia menarik tarif tidak sesuai aturan artinya dia mengambil yang bukan menjadi haknya. Lantas, apakah itu tidak mempengaruhi keberkahan rejeki yang ia kais? Rejeki yang tidak berkah tidak hanya berdampak pada diri kondektur sendiri lho, tapi juga pada istri, anak, dan keluarganya. Nah, panjang kan rentetannya?🙂

Artinya, ketika kita protes pelanggaran tarif seribu rupiah oleh kondektur, kita menjadi bagian dari rangkaian menyelamatkan banyak orang.🙂

Itulah alasan mengapa saya begitu idealis sehingga berani protes pada kondektur. TAPI??? Itu dulu! Sekarang sudah tidak lagi. Sekarang, bagaimana saya tega mau protes? BBM naik, harga-harga kebutuhan naik, sedangkan jumlam penumpang menurun! Saya jadi nggak tega kalau mau protes.😥

Apakah berarti idealisme saya memudar? Wallahu’alam. Yang jelas, tugas pemerintah di bawah kemudi kepala negara adalah mensejahterakan rakyatnya dan tidak membuat rakyatnya hidup dalam kebingungan. Tugas rakyat yang waras juga untuk terus bersuara menyampaikan fakta lapangan.

Kalau yang waras memilih diam artinya kita menerima dan membiarkan itu terjadi. Ruang rakyat adalah bersuara, menyampaikan fakta, mendukung kebijakan pemerintah yang benar, dan mengkritisi kebijakan pemerintah yang menyengsarakan. Dan ruang solusi, sudah seharusnya menjadi milik pemerintah di bawah kendali kepala negara. Kepala negara yang dipilih oleh rakyat kala pemilu lantaran janji-janji menggiurkan yang telah diucapkan.

Sekali lagi, tugas rakyat yang waras adalah bersuara! Lewat media apa pun!

#20Mei2015

cheers ^_^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Kontemplasi and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Idealisme Pudar?

  1. jampang says:

    idealis tapi logis dan realistis dengan cara yang manis
    😀

  2. Negara menciptakan kondisi …
    Kondektur berantem dengan penumpang.
    Penumpang berantem dengan istrinya di rumah, (jatah belanja berkurang)
    Istrinya di rumah berantem dengan tetangganya yang punya warung, (gara-gara hutang belanja macet).
    Tetangganya yang punya warung berantem dengan suaminya yang kondektur.
    Kondektur berantem dengan penumpang.
    Begitu seterusnya … siklus benturan antara warga dengan warga.
    Maka ini bukan soal idealisme, tapi rantai sebab akibat.

    Bila bicara idealisme, maka tetaplah berjuang meluruskan pemerintah agar mau mengembalikan ke kondisi semula yang kondusif.
    Idealisme tidak bisa dibenturkan antara warga dengan warga.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s