Jalan Kita Berbeda, Dik.

#flashfiction

Malam kian larut. Orang-orang tidur kian pulas. Nyanyian jangkrik kian keras terdengar. Sesekali dengkur burung hantu menyelisihi.

Kesibukanku akhir-akhir ini luar biasa. Bolehlah aku sedikit memamerkannya pada kalian. Aku sedang mengurus banyak hal terkait wisuda masterku. Sekaligus aku juga mengurus berbagai keperluanku untuk melanjutkan studiku ke luar negeri. Dan yang paling penting, aku juga mengurus hal ihwal pernikahanku bulan depan.

Ya, aku akan menikah dan akan ada yang menemaniku di perantauanku berikutnya. Ibu yang memilihkannya untukku. Tetangga kami di desa. Seorang dokter dan lulusan pondok pesantren. Parasnya cantik dan terlihat menyenangkan. Lulusan pondok pesantren menjadi garansi bagiku bahwa ia kelak akan menjadi ibu rumah tangga yang baik. Pondok pesantren telah ‘menggemblengnya’.

Malam ini, aku sempatkan membuka jejaring sosialku yang sudah lama mati suri. Sekalian aku juga menyelami status-status yang ditulis oleh calon istriku. Bukankah dari status-status seseorang di jejaring sosial miliknya dapat kita perkirakan gambaran tentangnya?

Rupanya dia aktif di dunia maya. Kulihat biodata umumnya. Dia pengagum bapak pluralisme. Dan aku tertegun.

“Betul, Mas. Saya memang mengidolakan beliau. Saya suka dengan pemikiran-pemikiran beliau. Beliau humanis dan sangat toleran. Saya ingin mengikuti jejak beliau dan memperjuangkan apa yang semasa hidup beliau perjuangkan.” jawabnya dengan anggun dan penuh wibawa yang memancarkan kecerdasannya.

“Termasuk memperjuangkan pluralisme, Dik?” aku bertanya polos.

“Tentu, Mas.” jawabnya dengan mantab dan bangga sambil melempar senyum sekali lagi. Aku pun membalas senyum manisnya.

Seorang gadis pejuang pluralisme. Mencintai bapak pluralisme. Pluralisme, sebuah paham yang terlihat humanis dan toleran yang berprinsip bahwa semua agama sama benarnya. Lantas bagaimana bisa manusia yang menyembah Allah disamakan dengan manusia yang menyembah patung? Padahal Allah sudah sangat jelas memerintahkan hamba-Nya untuk mengesakan-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun? Dan bukankah kelak di akhirat seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya?

Lalu bagaimana bisa bersama antara orang yang berbeda jalan? Dia mencintai bapak pluralisme. Dan dia memilih mengikuti jalan bapak pluralisme, jalan yang tidak sama dengan jalan yang sedang kutapaki, yaitu jalan yang menghargai pluralitas namun menolak pluralisme.

Cinta adalah tentang pilihan. Memilih sebuah keabadian ataukah kesenangan sementara.

“Baiklah, Dik. Jalan kita berbeda. Dan aku akan menyampaikannya padamu. Akan kurangkaikan kata agar kau tak terluka.” Hatiku mantap menjawab seiring dengan senyum kelegaan yang mengembang di wajahku.

cheers ^_^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Cerpen and tagged , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Jalan Kita Berbeda, Dik.

  1. Inspiratif sekali Mba Suci… cheers!🙂

  2. Rini says:

    jalanku bukan jalanmu ya,,🙂

  3. senoners says:

    Setuju,pesan moralnya mengena bgt nih..keren mbak.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s