(Mungkin) Tak Bisa Berbahasa Jawa

Awalnya, tulisan ini mau saya beri judul: Antara. Karena isinya tentang komparasi antara tiga hal. Tapi sepertinya judul yang sekarang saya pakai lebih bagus. Haha.

Beberapa waktu yang lalu, ada tulisan seseorang yang sampai membuat saya terjatuh dan begitu susah untuk bangkit lagi. Bagaimana tidak, tulisannya yang seolah ditujukan pada saya dan saya dijudge sebagai tukang debat kusir, huh? Padahal ya, di ranah Twiter saya jarang membalas mention. Apalagi di blog. Tidak ada perdebatan sama sekali. Blog ini sangat damai dan hanya penuh dengan kegejean saya.😛 Sepele sangat sih tapi betul-betul menjatuhkan mental saya sampai sebegitu lebaynya.😐

Okey, it was not matter again since I get it over and I can stand up. Hohoho.

Nah sekarang, saya mau kasih tau nih, contoh bagaimana saya menyikapi mention di Twitter. Sebab tidak semua mention saya balas. Mangkanya rasanya gimana gitu pas dijudge debat kusir. Hiks. Dan banyak sekali sebetulnya yang menarik untuk ditulis karena sedikit banyak mengandung manfaat, *sok iya* haha. Saya merespon mention dari orang lain hanya yang ‘menarik’ untuk saya balas saja. Tidak semua, apalagi yang memancing debat tak berkesudahan. It is wasting my time.

1. Rada gokil.
image

image

2. Terkait pembakaran masjid di kabupaten Tolikara.

image

image

Nah kalau sudah begitu, sudah jelas bakal debat kusir. Jadi tidak akan saya lanjutkan. (Bukan karena habis dijudge sampe jatuh itu lho yaaa, memang sejak dulu saya begitu. Mangkanya sakitnya tuh di sini waktu saya dijudge debat kusir.) Dan …….. Saya jawab dengan ini!😉 Lalu dia membalas lagi tapi tidak saya tanggapi.😛

3. Tentang islam nusantara yang merupakan “baju baru” pengasong sepilis.

Prolog. Sejak saya main Twitter, sudah puluhan kali dikata-katain oleh orang yang tak sependapat dengan saya dengan kata-kata menyakitkan. Tapi saya tidak pernah tersinggung. Biasa aja. Kecuali kemarin itu. Jujur, saya rada tersinggung ketika ada orang menyuruh saya ganti nama. Enak betul? Sembarangan banget dia? Siapa lah dia berani-beraninya menyuruh saya ganti nama? Nama itu amanah, nama itu penghargaan dan penghormatan orang tua pada anaknya. Seenak jidatnya aja nyuruh orang ganti nama?😐

image

Gubrakk! Ternyata dia mengira saya menyuruhnya ganti nama! Padahal saya tidak pernah mengatakan begitu.

Twit saya, “Suk nek duwe anak dijenengi Paimen, Paijo, Paini ngono lho yoo ben nusantara temenan.😀 @ssirah @26_Abdul_Rahman @bundasafira_ @mat_condet” artinya “kelak jika punya anak, beri saja nama Paijo, Paimen, Paini biar mantap ber-nusantara.”

Bisa jadi karena mungkin dia tidak bisa berbahasa Jawa, jadilah ia gagal paham dengan twit saya.
Dan karena saya sudah tersinggung lantaran disuruh ganti nama olehnya, maka bisa jadi, dia juga tersinggung karena salah paham baca twit saya.😐

Akhirnya saya minta maaf padanya. Dan happy ending. Yihi!
image

cheers ^_^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Intermezzo and tagged . Bookmark the permalink.

3 Responses to (Mungkin) Tak Bisa Berbahasa Jawa

  1. adienesia says:

    hindari debat walaupun kamu benar, ah saya pernah baca dimana yak…lupa, hehe

  2. Rini says:

    Dan aku memang tak bisa berbahasa Jawa hehe

  3. jampang says:

    saya juga nggak ngerti bahasa jawa😀

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s