Prajurit Berpangkat Pratu

Entah sejak kapan tepatnya, saya begitu menyukai naik bis. Melihat sawah terbentang, pohon-pohon bersisian, anak kecil berlarian, apalagi kalau hujan turun, semakin asyik untuk berkhayal. *Hiyaaa?* Dan tentu saja, ada banyak pengalaman menarik untuk diceritakan. Hampir setiap perjalanan, selalu ada kisah yang berbeda dan (menurut saya) pantas dituliskan. Tapi saya terlalu malas untuk menulisnya. 😁

Perjalanan tanggal 27 Oktober menjadi salah satu catatan menarik perjalanan naik bis. Waktu itu saya naik bus ber-AC. Tapi tiba-tiba ada yang merokok. Sekitar tiga bangku di belakang saya. Langsung saya tegur dengan sedikit berteriak karena jauh, “Mas. Ini bus ber-AC, tolong jangan merokok!”

Bukannya mematikan rokok, tapi perokok tadi malah sengaja mengece dan memainkan rokoknya. Bisa ditebak apa yang terjadi selanjutnya?

“Tolong ya Mas. Ini bus ber-AC! Matikan pokoknya! Tolong mas!” perintah saya sambil menunjuk-nunjuk. Pak kondektur sudah tua. Seperti beliau tidak paham larangan merokok di dalam bis. Kondektur mendekati perokok dan minta berhenti. Tapi si perokok malah pasang tampang tak peduli.

Saya? Makin menjadi-jadi. 😁 “Jangan ndeso Mas! Ini tahun 2015! Kampungan! Anak muda nggak tau aturan! Jangan kampungan ih!” entah kenapa saya bisa se-emosional itu. Dan penumpang se bis pada menengok ke arah saya. 😁

Si perokok pun malu dan mematikan rokoknya. Semoga dia tidak menyumpahi saya yang tidak-tidak. 😁

Lalu, ada lagi satu fenomena kekinian yang terjadi di bus yang membuat saya -mungkin juga anda- tercenung menyaksikannya. Yaitu tingkat apatisme orang-orang kini yang makin mengkhawatirkan. Banyak lelaki muda sehat wal afiat, duduk manis sambil ketawa-ketiwi menatap handphonenya, sementara banyak perempuan, orang tua, ibu hamil, ibu menggendong balita berdiri di bis. Atau kadang laki-laki itu pura-pura tidur. Astagfirullah. Justru yang lebih banyak mengalah pada orang tua atau ibu hamil adalah sesama perempuan. Laki-laki macam itu benar-benar tidak layak masuk kriteria suami idaman!

Tapi coba laki-laki macam itu ditanya secara teoritis, saya duga mereka ini akan retoris menjawab mengalah. Walaupun pada prakteknya nol besar!

Sepele sih, hanya soal tempat duduk di bis. Tapi dalam skala besar, ini soal kepedulian dan kemanusiaan. Menjadi PR besar kita semua untuk introspeksi diri.

Bagaimana dengan saya? Dulu saya mengalah setiap ada orang yang lebih membutuhkan daripada saya. Lalu seorang teman memberi tahu saya kurang lebih intinya begini: “Jika tidak genting, kamu lebih ahsan duduk daripada berdiri. Tempat duduk ibarat air wudhu yang terbatas, kamu harus mengutamakan dirimu. Sebab jika kamu berdiri, kamu akan dipepet orang. Belum lagi kamu akan menjadi objek untuk ditonton orang lain. Lebih baik berhati-hati.”

Ibarat air wudhu itu berlaku bagi kami perempuan tentu saja. Dan sejak saat itu, saya telah menemukan formulasi yang win-win solution. Hohoho!
Jika ada orang tua, ibu hamil, atau ibu menggendong balita, maka saya akan meminta laki-laki terdekat dengan saya untuk berbagi tempat duduk dengan penumpang yang berdiri itu. Okey kan?🙂

Giliran saya yang membutuhkan tempat duduk. Suatu hari bus yang penuh karena arus balik. Kondisi saya kurang sehat waktu itu. Tapi saya harus melakukan perjalanan.

Saya coba meminta kebaikan hati seorang bapak-bapak muda yang duduk dengan istri dan anaknya. Dia MENOLAK berbagi tempat duduk pada saya dengan alasan dia bawa anak kecil. Padahal anaknya dipangku si istri. Hufh.

Lalu saya lanjut pada bapak-bapak di belakang. Tiga lelaki duduk bertiga. Yang pinggir kaca langsung memejamkan mata, yang tengah melihat saya dan menggelengkan kepala, yang pinggir pura-pura tengok sana tengok sini mengalihkan. Hufh.

Padahal kaki saya sudah gemetar mau ambruk rasanya. Untung saya sabar, sabar menanti *eh. Saya maju lagi dan melihat seorang berseragam tentara yang sedang bermesraan dengan perempuan di sebelahnya. Dia prajurit berpangkat Pratu, dua balok merah di bahu. Saya minta kebaikan hatinya dan dia berbaik hati membagi kursi. Malu kali dengan seragamnya. 😁

Alhamdulillah saya bisa duduk. TAPI??? Perempuan di samping saya cemburut maksimal. Dari saya duduk sampai saya turun dia tak tersenyum sedikit pun. Nampak sekali kejengkelannya pada saya. Apakah karena saya telah memisahkan dia dengan pacarnya? Entahlah saya tidak tau jawabannya. Cuma saja tidak habis pikir saja, ternyata makhluk halus bernama wanita tidak semuanya berhati lembut dan peduli. Atau karena kemesraan yang terganggu? Ai don ting ebout ded.😄

Begitulah. Dan bagaimana pun, bagi saya, naik bus selalu membahagiakan.😄

cheers ^_^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged , . Bookmark the permalink.

16 Responses to Prajurit Berpangkat Pratu

  1. jampang says:

    kalau perempuan pakai baju seksi dan mini…. saya nggak akan kasih tempat duduk…. itu demi menjaga pandangan mata saya😀

  2. pitaloka89 says:

    Mira belum berani negor orang yang merokok di bis. Soalnya seringnya supirnya sendiri ngerokok…

  3. Galak ya ternyata sampeyan… aku pernah nabok copet di bus, bukannya lari tuh copet, dia malah ganti nabok😀

  4. Mbak, kita sama -_- aku paling kesel sama orang perokok -_- kalau liat yang ngerokok di bus ac sih belum pernah. AKu pernah liat orang ngerokok dijalan, kan resek mbak, tembako yg kena apinya itu terbang-terbang dan sering hampir kena mata -_-

    Aku dulu kalau naik transjogja lebih suka berdiri mbak, walaupun ada kursi kosong aku suka berdiri. nemenin mbak-mbak keneknya soalnya :p wkwkw

  5. Kang Darsono says:

    Itu si prajurit baik amat yaaaa…..
    xixiixixi….

  6. winnymarch says:

    pura2 gk lht aja dyah tu muka cembuerutnya😀

  7. Di dalam KRL juga sering terjadi kaya gitu. Yang laki-laki pura-pura ga lihat orang tua, wanita hamil yang butuh tempat duduk. Kadang suka miris liatnya😦

  8. Kalau saya pas di kereta mending Berdiri kalau penus , soalnya pasti ada Ibu2 & anak2 . biar mereka ja yang duduk . dari pada duduk merasa gak enak😀

  9. nats says:

    two thumbs up..untuk kepeduliannya.. moga bisa diteladani 🙂

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s