Black Tragedy

Lagi-lagi saya bingung. Mau nulis apa (dulu). Banyaaaaaaaaak sekali hal yang ingin saya tulis. Tapi saya (sok) sibuk kegiatan offline. Lagipula, menulis yang baik adalah tulisan yang bermanfaat bagi pembaca. Jangan sampai nulis tapi asbun macam pengasong sepilis yang asal njeplak bilang Quran itu dongeng, penemu komputer seorang gay, atau jilbab itu budaya Arab. Tapi mereka malah menuduh orang lain asal njeplak. Macam maling teriak maling gitu.

Tulisan adalah representasi pemikiran. Melalui media sosial, setiap orang bisa menyebarkan pemikiran-pemikiran mereka. Di sini, mungkin kita tidak melihat secara eksplisit korelasi antara penyebaran pemikiran dengan implikasinya terhadap kehidupan. Masalahnya, tindakan diawali dari pikiran dan pemikiran. Dari situlah, pemikiran-pemikiran yang menyimpang akan menjadi penyebab rusaknya tatanan sosial. Kalau tatanan sosial yang rusak, dampaknya jelas dirasakan individu bukan?

Maka dari itu, menulis menjadi salah satu pilihan ketika kita hendak meluruskan pemikiran yang menyimpang. Tak perlu muluk-muluk kita menuntut pemikiran orang-orang jadi lurus lantaran tulisan kita, tapi setidaknya kita telah beraksi melawan kemungkaran (penyimpangan pemikiran). Tidak diam berpangku tangan. Dan kemungkinan besar, setelah menulis hati lega. Itu poinnya! *Nah lho?

Itulah mengapa, ketika banyak hal yang ingin saya tulis tapi waktu seolah tidak berpihak kepada saya (gaya banget?), saya semakin malas dan kesulitan menulis! Bingung yang mana dulu yang ditulis. *alasan* Karena selain hal-hal yang berkaitan dengan pemikiran, banyak juga hal konyol yang terjadi yang saya lihat maupun saya alami sendiri. Dan hal itu juga tidak kalah menarik untuk dituliskan. Karena sekali lagi, menulis itu melegakan hati. Hahaha.

Seperti kejadian beberapa waktu yang lalu. Saya menjadi asisten Mr. C dalam sebuah acara. Datanglah Mr. I. Dalam waktu yang sama, saya dan Mr. I meracik kopi. Lalu kami menemui Mr. C di ruangannya.

Saya keluar terlebih dahulu. Lalu membawa secangkir kopi ke ruangan saya. Sekitar dua menit kemudian saya keluar ruangan dan mendapati Mr. I celingak-celinguk bingung mencari kopinya. Dan taukah Anda? Ternyata kopi Mr. I yang kebawa ke ruangan saya! Gubrakk! Untung saya tidak diteriakin pencuri kopi. 😁

Beberapa menit kemudian Mr. C keluar ruangannya. Saya dengan anggun dan sopan menawarkan kopi untuk Mr. C, “Bapak mau kopi?”

“Oh tentu.” jawab Mr. C.

Kebetulan ada orang lain lagi di sana. Lalu Mr. C dengan nada sedikit pamer bilang pada orang itu, “Begini lho enaknya punya anak perempuan.”

*untunglah orang lain tersebut tidak tahu perihal kopi tragedi. Dan Mr. I makin cekikikan. 😁

cheers ^_^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Intermezzo, Opini and tagged , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Black Tragedy

  1. Liberto Amin says:

    Makanya kluu update status difb ada bacaan: apa yang anda pikirkan yahh :’D

  2. jampang says:

    cieeee…. yang jagi bikin kopi

  3. Jauharry says:

    Mr.C bos nya james boon bukan yah

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s