Dypptha

Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun setiap elemen adalah subsistem keteraturan dari desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima bahwa tak ada sekecil apapun terjadi secara kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan.-Edensor, Andrea Hirata

Tak terbantahkan, kalimat di atas amat sangat saya sukai. Menyadari bahwa diri ini adalah elemen dari subsistem yang merupakan bagian dari desain holistik yang sempurna adalah menyadari bahwa kita tak sendiri. Kita hanya bagian dari rangkaian takdir dalam kehidupan diri sendiri maupun orang lain. Tidak mengeluh dan ridho atas apapun yang Allah tetapkan pada diri ini adalah bentuk manifestasinya. Tentu, setelah berusaha untuk melakukan hal-hal yang baik dan mendatangkan manfaat. Bukan sekedar berkipas-kipas lalu berkata, “saya dedang menunggu takdir.” No, it was not.

Terkadang kita mengalami hari yang terasa begitu berat dan melelahkan. Segalanya berjalan di luar apa yang kita rencanakan. Menjengkelkan sekali memang. Akan tetapi, percayalah, bahwa semua itu hanya bagian dari sebuah desain holistik di mana kita hanya sebuah elemen dari sebuah subsistem. Ada banyak rangkaian takdir di balik semua itu. Pernahkah terjadi suatu ketika kita hendak menuju suatu tempat. Lalu dengan ribetnya kita tertahan sehingga tidak segera sampai tujuan? Ternyata yang terjadi selanjutnya adalah kita jadi bersyukur karena terhindar dari musibah yang besar? Betapa hal itu seharusnya membuat kita merasa betapa bersyukur?

Seorang ‘kakak’ saya saat di Gresik dulu seharusnya hari ini pergi ke Jakarta untuk mengikuti semacam seminar khusus untuk kepala sekolah. Semuanya sudah siap. Tinggal menunggu waktu untuk berangkat. Ternyata Allah punya rencana lain. Kemarin pagi Mbak kecelakaan bersama anaknya yang berumur enam tahun. Lumayan bikin bengkak dan kaku. Sehingga ke Jakarta pun batal. Terdengar mengecewakan bukan? Tetapi Mbak yakin bahwa semua ini adalah bagian dari rangkaian takdir yang terbaik baginya. Bisa jadi Allah justru menyelamatkannya dari  musibah yang lebih besar. Atau ketidak-berangkatan-nya menjadi bagian dari rangkaian takdir baik bagi orang lain.

Dulu saya pernah mengalami kejadian. Saya dari Lamongan dan tidak bisa naik bus untuk pulang karena waktu itu bus selalu penuh. FYI, di Lamongan tidak ada taksi. Kecuali taksi dari Surabaya yang mengantar penumpang sampai Lamongan. Ndilalah ada taksi yang datang. Saya dengan nekad naik taksi jam 10 malam. Saya tidak punya ide lain selain naik itu taksi. Gila kan? Ngeri-ngeri sedap pokoknya. Saya waspada maksimal. Tinggal lima menit saya turun, ada kecelakaan besar. Macet tengah malam. Hampir satu jam. Tepat saat saya turun, ternyata ada sekeluarga yang sedang bingung mencari moda transportasi. Pasti bukan hal yang remeh temeh sehingga sekeluarga itu tengah malam bersafari. Dan? Taksi yang saya naiki itu akhirnya membawa keluarga tersebut. Dan sungguh sebuah keajaiban ada taksi di perbatasan kabupaten macam itu. Bisa jadi, saya yang tidak bisa naik bus lalu memutuskan naik taksi, kecelakaan yang menyebabkan macet, bahkan orang yang naik taksi sebelum saya menjadi bagian dari rangkain takdir bagaimana Allah memberikan pertolongan-Nya pada sekeluarga tadi.

Beberapa hari yang lalu saya sangat berharap bisa naik bus. Betapa sederhana dan gejenya keinginan saya! Tapi kalau tanpa tujuan, kan tak mungkin saya naik bus terus turun lagi? Itu namanya sakit gila nomor 57. Dan tetiba kemarin saya mendapat kabar kalau Mbak di Gresik kecelakaan. Saya pun meluncur ke Gresik naik bis. Dan melewati rute yang ingin saya lewati. Mbak yang kecelakaan, terlepas dari rangkaian takdirnya sendiri, juga menjadi bagian dari rangkaian takdir orang lain. Inilah contoh keteraturan dalam desain holistik nan komprehensif yang begitu sempurna.

Lalu siapa itu Dypptha? Oh itu adalah nama anak kedua Mbak yang kecelakaan tadi. Usianya 3 tahun. Agak pilih-pilih orang, jarang mau ikut orang. Saya sudah sangat lama tidak bertemu dengannya. Waktu saya datang dia lagi menangis. Eh tetiba diam begitu lihat saya dan dengan sabar menunggu saya menerima uluran tangannya. Lalu dengan betapa nurutnya dia saya cium sampai puas dan mau saya gendong. Penulisan namanya juga bukan begitu sih. Ini hanya untuk mendramatisir saja. (?) >,<

Dan satu hal lagi, bahwa Allah mengabulkan doa dengan cara-Nya. Indah sekali. Lalu saya merasa semakin jatuh cinta. *lho kok?*

Cheers ^_^,
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Dypptha

  1. jampang says:

    nama panjangnya paradypptha yah😀

  2. winnymarlina says:

    desain holistik nan komprehensif itu emang penuh lika liku ya dyah

  3. Nuhid says:

    Jadi terharu…

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s