Terlambat

Kegalauanku belum juga reda sejak bertemu dengannya sebulan yang lalu. Ibu yang memperkenalkan kami. Dia seperti gadis pada umumnya. Tapi, kesan pertama bertemu dengannya sukses membuatku jadi andilau. Antara dilema dan galau.

Jujur saja aku belum siap menikah saat ini. Banyak alasan. Selain karena aku masih merasa belum cukup umur *dikasih panci oleh ibu*. Tapi perkenalan kami sudah jelas arahnya. Bukan sekedar berkenalan. Dan aku mengiyakan permintaan ibu. Dan sampai saat ini, aku belum angkat bicara sekalipun dengan ibu. Entah gadis itu sudah membicarakan apa saja dengan ibu, aku tak tau.

Sudah berkali-kali aku bicara dengan Jaka. Aku tidak tau bagaimana meyakinkan anakku akan keutamaan pernikahan. Sudah berapa kali aku menawarkan gadis baik-baik untuknya. Dia selalu begitu.

Dan gadis ini sepertinya telah berharap pada anakku. Tapi anakku, lagi-lagi dia menolak dengan caranya. Dan kini aku kembali harus menyampaikan penolakan pada perempuan baik-baik lagi. Sungguh, aku tak tega menyampaikannya. Karena sejak awal, akulah yang memaksa dia untuk berkenalan dengan Jaka.

“ibu, bagaimana kabar Putri?”

Tumben Jaka bertanya soal Putri. Senyum ibu langsung terkembang. Sepertinya hari ini akan sangat menyenangkan baginya.

“Coba kau hubungi dia. Pasti dia senang.” kata ibu dengan genit.

“ah ibu!” aku pura-pura manyun.

Hatiku tak karuan. Deg-degan. Ini sangat menyeramkan. Bismillah. Suara detak jantungku beradu dengan nada tunggu.

“Halo selamat siang.”

“Ini dengan siapa?” suara di seberang terdengar sangat asing. Berbeda dengan suara Putri saat kami bertemu. Ini suara laki-laki. Aku salah sambung?

“Saya Jaka. Ini dengan siapa ya?” tanyaku balik.

“Saya Eko…”

“Eko siapa? Apa saya bisa bicara dengan Putri?” aku memotong orang di seberang tak sabar. Eko! Laki-laki! Siapa dia!?

“Saya kakaknya Putri.”

Oh syukurlah. “Putri ada Pak?” aku segera memperbaiki ‘sikapku’ meski tak saling melihat dengan orang di seberang.

“Maaf Pak. Putri sudah pulang kemarin.”

“Pulang? Pulang kemana?” aku mendadak tak sabar menunggu.

“Putri sudah dipanggil Tuhan kemarin. Mohon dimaafkan jika dia ada salah pada Bapak.”

Huwaaa serem banget kan ini flashfiction? 😁 😁 😁 😁

cheers ^_^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Cerpen and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Terlambat

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s