Liberal yang Tertukar 

Libur di hari kerja terasa amat berbeda dengan libur di hari libur. Meskipun matahari yang bersinar adalah sama, tapi beda rasanya. Bunga-bunga ilalang yang mekar di hari kerja nampak lain dengan di hari libur. Begitu juga dengan rumput yang menari mengikuti irama angin. Mobil yang parkir di bawah pohon juga nampak berbeda. Bahkan rumah-rumah penduduk yang tidak mengalami renovasi pun terlihat beda! *Dyah, hellowwww! 😁*

Baiklah. Mari sedikit serius. Setiap negara pasti punya ibukota. Sebagaimana seorang manusia yang hidup karena ia memiliki jantung yang masih berdetak. Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Sehingga tepat sekali pernyataan Prof. Yusril bahwa bagus ibukota, bagus pula negaranya. Tetapi rusak ibukota, rusak pula negaranya!

Maka, pencaturan peta politik di ibukota secara langsung akan mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara. Eh Dyah, kamu koq ngomongin politik sih? SARA lho! Wakakakak.

Iya kan? Kayaknya kita muslim tu anti banget nyak ngomongin politik? Doktrin bahwa politik itu haram, politik itu kotor, dan begitu ada muslim religius prestatif yang baru akan hendak tampil jadi pemimpin, langsung dijudge jualan agama! Ya atau iya? Belum lagi di kalangan PNS, ada slogan ‘PNS harus netral’ (sementara di negara ini ada berapa banyak PNS?) yang sudah jadi momok bagi para PNS untuk sedikit saja bersuara. Sukseslah para kapitalis menjajah Indonesia melalui berbagai dimensi. Just like what Buya Natsir ever said: “Islam beribadah, dibiarkan. Islam berekonomi, akan diawasi. Islam berpolitik, akan dicabut sampai ke akar-akarnya”.

Just analogi. Kehidupan bernegara ibarat tinggal di sebuah kapal. Ketika ada yang melubangi kapal, apakah demi kata netral kita harus diam? Apakah melarang orang melubangi kapal merupakan tindakan tidak netral? Yelloww?

Kalau melarang orang melubangi kapal disebut tidak netral, maka melarang orang-yang-melarang-orang-melubangi kapal, juga merupakan ketidaknetralan. Kan, sama-sama melarang. Get my point? Ah, rumit! *takon dewek-jawab dewek 😂*

Gini deh. Soal kata larang-melarang menjalin hubungan gelap dengan kata liberal. Sebuah paham yang katanya mengusung kebebasan. Gak boleh itu ada larang-melarang. Salah satu tokoh liberal yang keche (huekk 😂) adalah Akhmad Sahal yang kuliah eS berapa gitu di Pennsylvania.😀

Melalui ketenarannya di jagad Twitter, pak Sahal ini sedang sangat semangat mengajak konstituen untuk memilih Ahok sebagai DKI1 pada 2017 mendatang. Nah kan, ini yang di Amerika aja ikut-ikutan meramaikan pilgub DKI? *perlune opo yo? *polos 😂*

Sampai-sampai doi bikin status seram-seram begini di akun Twitternya.

Nah lho? Katanya liberalis? Kok melarang-larang orang? Ini terang-benderang mencederai prinsip dasar kebebasan! Bukankah ini nyata-nyata liberal jadi-jadian? Cuma ngaku-ngaku liberal doank. Ini sih kata saya, liberal yang tertukar! Terus situ masih mau percaya sama pak Sahal dkk yang keche? Saya sih malas. Hohoho! 😂😂😂

Cheers ^_^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

11 Responses to Liberal yang Tertukar 

  1. kang nur says:

    Curhat ke langit…

  2. Haya Najma says:

    dok, mohon maaf lahir batinn.. smoga ibadah ramadhan diterima, aamiin

  3. wapenk says:

    Idenya ya tiada ide itu kakkk heuhue

  4. cumilebay says:

    hati mu masih jomblo yaaa mbak ??? hahaha

  5. Dyah Sujiati says:

    Karena aplikasi wordpress sy eror akhirnya postingan ini menimpa postingan sebelumnya. Sehingga postingan sebelumnya jadi hilang. Sementara komen2nya masih tertinggal. Maaf jika komen-komen yang ada tidak nyambung. 🙏

  6. Itu justru bukti ke-liberal-an beliau. Bebas untuk plin-plan, bebas untuk melarang seenaknya, dan bebas semaunya sendiri… liberal banget kan?

    >> betewe, habis baca ini terus main ke twitter sampeyan. Oalah ternyata intens banget ya sama bapak-bapak yg lg kuliah di AS itu… hati2 lho, diujung benci biasanya ada cinta *eh *peace*😀

    • Dyah Sujiati says:

      Jangan cemburu gitu! Bihihihihik 😆

      Kebetulan ya pas on di Twitter kok yang lagi rame di TL-ku twit seram tersebut. Jelas2 twit ajakan kemungkaran dan banyak yg mengikuti lho.

      Lha doa adalah selemah-lemahnya iman bila menyaksikan kemungkaran. Apalagi hanya diam? Jadi ya aku pilih mengomel! :p *ranger pink 😆

  7. Afrizalr says:

    Suka bangett tulisan ini ada blogger yg bicara politik. Karena para blogger bisa menyebarkan pengaruh dengan cepat. Two thumb up

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s