Jelajah Kaldera Tengger

Hi there! Long time no see. Long time sok-busy. Because everything was going crazy. Ahaha, kayak saya rajin nulis aja. Padahal blog sudah jadi anggur begini. 😁

Its okey, kali ini saya akan menuliskan tentang perjalanan ke subset dari Kaldera Tengger. Biar sedikit terdengar keren begitu. Sebetulnya sih kunjungan ke Bromo lagi. As we know, Bromo telah go internasional dan menjadi destinasi wisata populer baik turis lokal maupun mancanegara. Kabar buruknya adalah, kabar baik demikian menjadikan wisata Bromo sebagai sesuatu yang begitu mainstream. Menjelajahi Bromo terasa begitu mudah. Fasilitas lengkap. Ada ojek, ada hardtop. Infrastruktur juga memadai.

Hal-hal tersebut diatas, membuat saya mengunjungi Bromo pada awal tahun 2014 hanya untuk sekedar menggugurkan pertanyaan ‘sudah pernah ke Bromo?’. Sehingga saya cukup sekali saja ke Bromo. Foto-foto kecantikannya sudah melimpah ruah di internet. 😁

Tapi apa mau dikata. Teman saya dari Brebes sedang ada pekerjaan di Surabaya untuk beberapa bulan. Jadi, tidak afdhol kan kalo tidak ke Bromo? Jadilah saya menemaninya.

Sabtu, 20 Agustus 2016, perjalanan ini dimulai. Kabar baiknya, tanggal 13 Agustus 2016 (tepat seminggu sebelumnya) saya baru saja dari Bromo! 🙈 Waktu itu menemani rombongan, jadi saya tidak eksplore sama sekali. Dari perjalanan bersama rombongan yang naik hardtop inilah, saya membuat kesimpulan yang begitu luar biasa ngawur-nya. Bahwa kawasan wisata Bromo yang terdiri dari Penanjakan -tempat memburu sunrise-, kawah Bromo, pasir berbisik, dan padang savana, adalah kawasan yang luasnya hanya sekitar 4 km² sehingga dapat dijelajahi dengan berjalan kaki cukup dalam waktu siang sampai sore!

Maka, saya menyampaikan pada mbak Maya -teman dari Brebes itu tadi-, bahwa rencana kami adalah menjelajahi kawasan wisata Bromo dengan jalan kaki. Biar antimainstream. Mbak Maya setulus hati sepenuh jiwa percaya pada analisis wilayah yang saya sampaikan. Kami berangkat betul-betul modal dengkul. Tiada membawa persiapan apapun. Kombinasi kepercayaan diri yang berlebihan dan kebodohan yang nyata. Parahhh. Padahal? Jarak dari loket masuk kawasan wisata menuju Penanjakan adalah 21 km! Sedangkan ke padang savana adalah 6 kilometer!

Di sekitar loket masuk ada banyak tukang ojek yang menawarkan jasanya. Mereka terus merapat ke kami sambil memelas. Akhirnya luluh dan menerima tawaran mereka. Kami diantar tukang ojek sampai di padang savana dan pulangnya kami akan berjalan kaki kembali ke pemukiman. Sampailah kami di padang savana sekitar pukul 1 pm. Matahari bersinar terik. Tapi angin yang bertiup membawa udara dingin lembut membelai pipi. Pukul 2:48 PM kami memutuskan untuk kembali. Dengan keyakinan bahwa jarak yang kami tempuh tidak jauh sehingga sambil jalan kami pota-poto dulu.

Dan semua orang telah sepakat bahwa no foto adalah hoax, maka inilah foto-foto kami di padang savana. *alasan numpang narsis*

di padang savana (1)

di padang savana (2)

 

googling punya gooling nama bunga ini: Verbena Brasiliensis Vell. Semoga sih saya ga sotoy😀

Di tengah kesantaian kami dalam perjalanan pulang, saya mengajak mbak Maya untuk melewati track yang sedikit menanjak. Dan tiba-tiba, di belakang kami muncul tiga orang laki-laki macam teknisi pelistrikan (?). Saya dan Mbak Maya sempat was-was. Kami mempercepat langkah. Tapi tau-tau, mereka sudah di belakang kami! 😱😱😱

Mereka bukannya mendahului kami. Tapi malah membersamai kami. Mereka bertiga ternyata adalah petugas yang bekerja di BMKG (saya lupa tanya istilahnya). Seorang bertugas di Bromo, seorang bertugas di Kelud, dan seorang bertugas di Arjuna. Merekalah yang sebetulnya menjelajah. Mereka memulai penjelajahan dari jam 9 am. Dari mereka juga, saya tahu nama kawasan gunung Bromo dan gunung-gunung di sekitarnya disebut Kaldera Tengger. Kurang afdhol ke Bromo kalau belum jalan kaki, begitu katanya.

Setelah beberapa waktu mengobrol dengan mereka, saat itulah kami baru menyadari betapa nekad dan ngawur-nya kami. Pergi ke tempat sejauh dan seluas itu tanpa persiapan. Insane! (-_-)” Dan betapa kami harus berterima kasih pada mereka bertiga. Allah Maha Baik, Baik sekaliii. Mereka seolah dikirim Allah to save our journey. Di perjalanan sepanjang hampir 6 kilometer (total perjalanan saya dan Mbak Maya) sekitar 8 kilometer), kami ngobrol mengalir santai, we don’t need much effort to feel comfortable each other. Yeah, every journey has its -specially sweet- story. Love it!

gunung Batok dan Bromo.

You are never too far to your destination. Enjoy the journey and you will arrive eventually.😀

Cheers ^_^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in My Journey and tagged , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Jelajah Kaldera Tengger

  1. Nats says:

    Nekat….seperti biasanya…😃 memperbaharui…kesan terdahulu… keep going gals..😉

  2. jampang says:

    makanya harus ada lelaki yang menjaga😀

  3. dealchemist says:

    mbayangi sampeyan cerita langsung karo aku. hhhh… kangen jaman kuliah.

  4. Perjalanan yang sangat berkesan ya, Mbak. Justru nekatnya itu yang seru🙂

  5. winnymarlina says:

    Bromo memang selalu menarik dan cakep

  6. Pingback: Memorable | Life Fire

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s