Last Minute Person

Akhirnya, sampailah aku pada momen ini. Saat-saat saya ‘harus’ merasa sedih. Jika tidak, barangkali akan ada pertanyaan “Apakah saya masih normal?” (lho?)

People come and go, people stay and leave. And they always leave some memories. Yeah, finally Mbak Maya has leave (me) yesterday. Kemarin memang telah berlalu, berlalu seperti debu. Tapi kenangan-kenangan masih tersimpan rapi di angan. Tak kan lepas terlupakan. But live must go on and keep on moving forward. So, saya akan tuliskan salah satu kenangan itu. Yaitu cerita perjalanan kami dari Surabaya menuju Bojonegoro pada hari Sabtu 10/09/2016. Yang mana hari itu bertepatan long weekend akibat tanggal merah di hari Senin 12/09/2016.

Perjalanan hari Sabtu dimulai dari kost Mbak Maya. Kami memesan taksi jam 5 pm. Taksi sudah siap semenjak pukul 4.30 pm bersamaan dengan saya baru datang dengan santainya. Secepat kilat siap-siap. Masih jam 5 kurang taksi berangkat. Tujuan kami adalah terminal Bungurasih. Saya, dengan kepercayaan diri penuh, meminta pak sopir untuk lewat frontage yang berakhir di Pabrik Paku depan pintu keluar terminal, lalu memintanya belok kanan di bawah flyover dan masuk terminal lewat pintu masuk. Ternyata, mobil tidak bisa belok kanan di bawah flyover, melainkan hanya bisa putar balik. Akhirnya terpaksa kami turun di pintu keluar.

Jarak dari gerbang menuju bus stand by cukup jauh. Rencananya, Mbak May akan menunggu di pintu gerbang terminal. Saya akan berjalan ke dalam untuk naik bus dulu dan nge-cup tempat untuk Mbak May. Sayang sekali, terminal sudah dipenuhi orang macam semut. Setiap bus yang keluar terminal sudah penuh dengan orang. Jadi jangan harap bisa naik bus di pintu keluar. Sehingga kami harus berjalan menuju bus stad by. Dengan membawa barang mbak May sebanyak itu.

Qodarullah, ada tukang ojek yang menawarkan jasa dengan tarif 5 ribu rupiah. Short story (karena tidak bisa dijelaskan dengan detail), kami naik ojek. Tiba di tempat bus, tiada bus yang stand. Sementara ada puluhan orang yang menunggu. Hitung punya hitung, kami belum tentu berhasil naik bus dan dapat tempat duduk. Tidak jelas juga bisnya datang kapan. Ide baru langsung muncul. Kami harus ke terminal Wilangun. Saya, lagi-lagi dengan keyakinan penuh, bahwa di Wilangun ada bus yang melimpah ruah meski penumpang juga banyak. In this case, seharusnya saya tidak boleh terlalu yakin seperti ini. Sebab jika di Wilangun tidak ada bus, kami harus kembali lagi ke Bungurasih untuk naik bus jurusan Semarang.

Kami masuk tempat stand by bus kota. Ada bus P8 jurusan Wilangun viatol yang siap berangkat. Tapi sayang, sudah tiada tempat duduk. Saya lihat bus di belakangnya dengan pintu terbuka. Kami langsung naik. Padahal sebetulnya ‘belum dipersilahkan’. Berselang kurang dari satu menit, bus yang depan meluncur. Giliran bus yang kami naiki untuk stand by. Penumpang langsung masuk dan bus langsung penuh. Andai tadi kami tak naik ojek, dengan kondisi yang sama seperti ini, jelas kami tidak kebagian tempat duduk. Dan taukah kalian? Ini adalah bus yang terakhir! Yes, kami adalah ‘the last minute person’ tersebut!

Lalu tiba di terminal Wilangun, saya santai telpon teman dulu. Kuatir kalau telpon nanti sesampai di rumah, teman yang mau ditelpon sudah ilang di dunia mimpi. -menyamakan orang lain dengan diri sendiri adalah hal yang tidak terpuji-. Saya telpon cukup lama. Baru kami masuk tempat bus. Saya agak shock meski tetap anggun tanpa panik. *huek* Tiada bus stand by, Sodara-sodara! Dengan hati tak karuan, saya terus melangkah. Alhamdulillah masih ada satu bis! Saya langsung lari. Dan?! Tepat tinggal tersisa satu bangku! 😱😱😱

Akhirnya mbak May duduk di bangku tersebut dan saya duduk di bangku tambahan di atas mesin. Dan setelah saya duduk, puluhan orang masuk bis, sehingga tiada ruang sama sekali! Again, we are the last minute person!😦

Dalam hal ini, seharusnya saya berintrospeksi diri, sebab saya terlalu yakin dan percaya diri. Sebagai seorang yang hobi mbolang tak jelas, seolah alam telah mendidik saya menjadi orang yang sporadis dalam membuat keputusan. Bahkan perjalanan yang ‘serius’ suka berubah menjadi sebuah pembolangan. 🙈 Karena sering nggak perhitungan, sukanya modal dengkul. Cuma modal sebuah keyakinan bahwa; we are never too far to our destination. Enjoy the journey and will arrive eventually. Haha. Dan pada tahap ini saya telah menemukan tiga kategori teman pembolangan:

  1. Totally enjoy travelling,
  2. Totally enjoy travelling bonus brainstorming,
  3. Every journey has its -specially sweet- story.

Perjalanan dengan Mbak Maya masuk kategori ketiga. Hihihi. Dia begitu mengerti dan tidak pernah protes pada saya yang termasuk kategori ‘last minute person‘. See you for next trip, Mbak May! Entah kapan. May Allah bless you wherever you are, my ‘elder sister’.😥

When we let something –or someone– go, it doesn’t mean we lose it. Its mean we give space for something –or someone– better to come filling the hole.🙂

Cheers, ^_^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Others and tagged , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Last Minute Person

  1. kang nur says:

    Lama tidak merasakan lari-lari rebutan bus…

  2. mysukmana says:

    Paling seru kalau udah rebutan bus gt..tp kalo ketinggalan ya gelo, apa lg naik kendaraan umum it tak bs d prediksi

  3. maya says:

    Kalimatnya enak buat dibaca.
    Terharu bgt….syukron jazakillah (big huge).
    Aamiin utk do’a2nya.

  4. jampang says:

    untuk masih rejeki dapat duduk😀

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s