Benarkah Islam Nusantara Adalah “Baju” Baru Islam Liberal?

Bismillah.

Beberapa waktu yang lalu publik sempat heboh dengan munculnya istilah “Islam Nusantara”. Meski saat ini istilah tersebut tak lagi se-ngepop ketika tahun lalu muncul.

Islam Nusantara hadir dengan keinginan untuk mensinkronkan (baca: mencampuradukkan) Islam dengan budaya dan kultur Indonesia. Pengusung Islam Nusantara mengajak umat untuk mengakui dan menerima berbagai budaya sekalipun budaya tersebut kufur, seperti doa bersama antaragama, pernikahan beda agama, menjaga Gereja, merayakan Imlek, Natalan dst. Mereka juga ingin menghidupkan kembali budaya-budaya kaum abangan seperti nyekar, ruwatan, sesajen, blangkonan, sedekah laut dan sedekah bumi (yang dahulu bernama nyadran). Dalam anggapan mereka, Islam di Indonesia adalah agama pendatang yang harus patuh dan tunduk terhadap budaya-budaya Nusantara. Tujuannya agar umat Islam di Indonesia terkesan ramah. Munculnya Islam Nusantara telah menimbulkan konflik, pendangkalan akidah serta menambah perpecahan di tengah-tengah umat.

Ucapan selamat berupa karangan bunga dari Pondok Pesantren Al-Qodir Tanjung Wukirsari Cangkringan Sleman atas peresmian gereja Katholik Santo Fransiskus Xaverius Cangkringan dan keikutsertaan santri pondok tersebut bermain hadroh di gereja tersebut pada acara yang sama pada tanggal 10 Juli 2015, semakin menambah bukti corak Islam Nusantara yang mereka kehendaki.

Pegiat Islam Nusantara mencoba menginterpretasi ulang agama Islam sesuai kemauan hawa nafsu dan syahwat duniawi mereka untuk diselaraskan dengan dunia modern, agar umat Islam bisa menjaga dan berpidato di gereja, dan sebaliknya para pendeta, pastor dan biksu bisa berpidato dan berkhutbah di masjid. Sebagai contoh seorang kiai NU, Gus Nuril Arifin, pengasuh Pondok Pesantren Multi Agama bernama Soko Tunggaldi Semarang dan Soko Tunggal Abdurrahman Wahid di Rawamangun Jakarta Timur, memberikan ceramah agama di Gereja Bethany Tayu Pati dan beberapa gereja lainnya.

Salah satu pengamalan dan syi’ar Islam Nusantara yang paling fenomenal adalah pembacaan al-Qur’an dengan langgam jawa pada acara peringatan Isra’ Mi’raj di Istana negara, tanggal 15 Mei 2015 dan dilanjutkan “Ngaji al-Qur’an Langgam Jawa dan Pribumisasi Islam” yang digelar oleh Majlis Sholawat Gusdurian di Pendopo Hijau Yayasan LkiS di Sorowajan, Bantul, Yogjakarta Rabu 27 Mei 2015.

Tokoh-tokoh yang mempromosikan sekaligus mempopulerkan Islam Nusantara diantaranya adalah Azyumardi Azra, Ahmad Baso, Ahmad Sahal, dan Uli Abshar Abdalla. Mereka yang gencar menyebarkan ajaran Islam Nusantara tak lain adalah orang-orang yang selama ini mengaku sebagai pengusung Islam liberal. Mereka adalah orang-orang yang selama ini mendukung pernikahan sesama jenis, pernikahan beda agama, mendukung pelegalan miras, memaksa-maksa muslim mengikuti dan memberi ucapan selamat pada nonmuslim, mengusung feminisme yang tak lain justru merendahkan harkat dan martabat perempuan, membela pornografi atas dasar seni dan kebebasan, dll. Dengan demikian, akan sangat mudah disimpulkan bahwa Islam Nusantara hanyalah sekedar ‘baju baru’ para pengusung Islam Liberal.

cheers ^_^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

6 Responses to Benarkah Islam Nusantara Adalah “Baju” Baru Islam Liberal?

  1. jejakandi says:

    Sangat menyentuh.

    Tetapi ada banyak hal yang tidak saya pahami…

    Seperti kedudukan kita untuk menghakimi, wajib? Berhak? Boleh?

    Dan sejauh mana kajian tulisan ini dibuat, satu sudut pandang? Multi sudut pandang? Pernah ada panel kajian bersama?

    Maaf saya benar-benar tidak mengerti.

    • Dyah Sujiati says:

      Sudah sangat banyak Pak Andi kajian tentang Islam Liberal. Banyak juga buku cetaknya.
      Poin yang ingin saya sampaikan di sini adalah bahwa Islam Nusantara adalah kemasan (nama) baru yang dibawa oleh para pengusung paham islam liberal. Orang-orang yang menjadi promotornya sama, itu itu aja. Ajaran2 Isnus juga sama dengan ajaran dengan Islib.

      Kedudukan menghakimi maksudnya bagaimana Pak? Dalam hal apa?

  2. kang nur says:

    Males ngikuti mereka mbak…

  3. winnymarlina says:

    baru dengar dah Islam Nusantara ini dyah

  4. Jauharry says:

    Pernah punya buku bacaan Islam Nusantara terbitan NU, kemana yah tuh buku…..

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s