Pengalaman Mbolang Bandungan (Semarang) 

Terakhir saya mbolang dengan Miya adalah 31 Juli 2016 ke B29 di Lumajang. Lama waktu berselang. Tidak ada waktu yang match untuk mbolang lagi. Padahal di bulan Januari hingga Juli itu, hampir setiap bulan ada agenda mbolang buana. 😍

Tanggal 22 Desember, Mia mengajak mbolang untuk mengisi tanggal merah awal tahun yang menghasilkan libur tiga hari: 31 Desember sampai 2 Januari. Dia mengajak yang agak lama alias menginap. Saya usul Bromo yang transportasinya mudah, penginapan banyak, dan tempatnya tidak membosankan. Yang akan menjadi highlight dalam agenda pembolangan tersebut adalah kami akan tracking ke B29 melalui Bromo. Ini jelas bonex. 🙈

Tanggal 28 Desember tiba-tiba saya punya ide untuk mbolang ke wilayah Kabupaten Semarang (lagi). Saya tawarkan ke Mia. Dia oke. Segeralah saya memburu tiket kereta. Alhamdulillah dapat.

Perjalanan dimulai hari Sabtu 31 Desember. Kami janjian jam 12 pm di stasiun Pasar Turi. Kereta berangkat jam 1 pm. Drama last minutes person selalu terulang. Jam 12 lewat justru saya baru berangkat. Dan tiba di stasiun nyaris saat kereta sudah mau berangkat. Bisa dibayangkan galaunya Mia menunggu saya. 🙈

Kami tiba tepat waktu di stasiun Poncol. Kami belum tau akan menginap di mana. Kali akan hunting secara manual. Gerimis lembut menemani. Di penginapan terdekat yang kami temukan, penuh. Lanjut jalan. Ada bapak tukang becak tua menyapa. Terpikirkan untuk meminta ditemani beliau. Lalu kami mencari penginapan diantar pak becak. Di dalam becak dalam gerimis yang romantis. Kayak scene di novel ‘Habibie & Ainun’. Sayangnya koq ya sama Miya. 😂

Short story, kami dapat penginapan. Agenda berikutnya adalah ke Masjid Agung Jawa Tengah. Saat itu hujan turun lumayan deras. Satu payung berdua. So sweet khan? 😂

Ada taksi yang mangkal. Melihat kami lari-lari dan melambaikan tangan, bapak sopir antusias menyambut kami. Saat Miya sudah duduk manis di dalam, ternyata taksi itu sudah dipesan. -,-
Akhirnya kami menyewa angkot ke Masjid Agung. 😅

Tiba di masjid agung, ternyata masjid tutup. 🙈

Kami pindah haluan. Menuju Simpang Lima Semarang. Naik becak. Dan ternyata, mesin becak tidak bisa dinyalakan. Dan setelah melibatkan begitu banyak orang, barulah mesin bekerja. 🙈😂

Usai dari Simpang Lima kami menuju Lawang Sewu. Naik becak lagi. Puas di sana kami pulang naik taksi.

Hari Minggu kami lanjut perjalanan. Rencananya kami mau menyewa motor lalu keliling dengan bermotor. Sayangnya kami tidak menemukan tempat persewaan. Kami putuskan untuk ke daerah Bandungan. Tujuan pertama adalah ke Candi Gedong Songo. Dari terminal Terboyo naik bus jurusan Solo/Jogja turun di Bandungan. Tarif per orang 7 ribu rupiah. Lalu naik angkutan turun di Bandungan. Tarif 5 ribu rupiah. Lalu naik angkutan lagi turun di pom bensin. Bilang saja pada sopir akan ke Gedong Songo. Tarif 3 ribu rupiah. Lalu naik ojek sampai lokasi. Tarif per 1 januari 2017 Rp. 10.000.

Ternyata Mia ini tidak suka naik angkutan umum. Pantaslah saat saya mengajaknya naik bus, dia koq tidak menjawab “siapppp!” seperti biasanya. 🙈 Mabok dia sejak turun dari bus. Mau ke mana-mana mesti naik angkot. Wah kalau begini keadaannya?

Akhirnya kami menyewa bapak ojek yang tadi mengantar kami. Bersama bapak ojek ini kami membolang buana dan diajak lewat jalan-jalan antimainstream yang pemandangannya MasyaAllaaaaaaaah canteekk sekaleeeeee! Kami mengunjungi air terjun 7 Bidadari lalu ke air terjun Klenting Kuning.

Setelah itu kami mampir sholat dan makan siang. Lalu kami ke Punden Sokorini. Ke Punden ini menyenangkan dengan sedikit tracking. Dan ada sedikit pelanggaran. Kami ke tempat itu atas rekomendasi pak Giatno, driver Mia. Ternyata pak Giatno belum pernah dan tidak berani mengunjungi Punden! 🙈

Setelah itu kami ke kebun bunga Kampung Krisan. Dari sana langsung ke Panorama Umbul Sidomukti. Tapi kami dibawa melintasi jalur ‘belakang’ yang mana pemandangannya syuper cantek. MasyaAllah.. 😍

Kami lalu kembali ke Semarang naik bus. Usai bersih-bersih dan sholat, saya keluar lagi untuk membeli oleh-oleh. Dan Alhamdulillah lagi, saya masih berkesempatan untuk silaturahim dengan teman Bloger yang pernah menginap di rumah saya tiga tahun silam. Alhamdulillah. This is totally enjoy travelling. 

Cheers
Dyah Sujiati

Advertisements

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang blogger yang cuma punya sosmed Twitter, tidak punya Facebook, Instagram, Path, dll*
This entry was posted in My Journey and tagged , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Pengalaman Mbolang Bandungan (Semarang) 

  1. shiq4 says:

    Wah semangatnya luar biasa. Saya paling males tuh mbolang atau travelling. Lebih suka baca buku. Klopun mengunjungi tempat wisata, lebih baik verlama-lama di satu tempat saja agar waktu tidak teebuang di jalan.

  2. winnymarlina says:

    maulah ke air terjun 7 Bidadari

  3. jampang says:

    koq masjidnya tutup?
    kayak toko aja 😀

    itu taksi kenapa bukain pintu kalau sudah dipesan…. salah orang… atau mau menolong supaya nggak basah kuyup?

    mabok naik angkot koq masih mau naik bus di akhir cerita?

    *banyak nanya

  4. awansan says:

    Hehe aku juga dulu pernah kesana, sekitar 5 tahun laluu.. Btw kok ndak ada fotonya ?

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s