Janji dan Komitmen

Ini tentang sesuatu hal yang sulit menurut saya. Yaitu tentang menunaikan janji dan membayar komitmen. Apalagi jika komitmen dan janji yang ditujukan pada diri sendiri. Misalnya berjanji untuk rajin sedekah, tidak emosional, lebih sabar menghadapi cobaan dan juga orang lain, selalu bersyukur atas apapun ketetapan Allah, tidak mengeluh, lebih berkontribusi lagi, suka menolong, rajin menabung, dan lain-lain.

Komitmen dan janji yang ditujukan pada diri sendiri terasa lebih sulit sebab tiada yang membantu menagih. Alih-alih ada kawan yang mengingatkan, yang didapat justru tersinggung. Serba salah jadinya.

Terserah ya kalian mau berfikir apa terhadap saya. Apakah saya sudah tidak lagi setegar dulu lantas saya menceracau di ruang publik? [lha?] Ehm begini, sebetulnya saya juga tidak enak hati jika terlalu vulgar mengungkapkan perasaan. Tapi bagaimana lagi ya, rasa ini sepertinya sudah di ujung tanduk.

Belakangan ini saya menyaksikan fenomena sodomi marak terjadi. Sejauh yang saya ketahui anak-anak korban sodomi berpotensi menjadi pelaku sodomi saat dewasa. Menurut perhitungan matematis saya, anak-anak korban sodomi itu terluka hati, tapi terpendam, menjadi potensi balas demdam namun itu tidak bisa dilampiaskan pada orang yang melakukan sodomi padanya, sehingga ia melakukan pembalasan pada anak kecil yang lain saat dia telah dewasa.

Dan itu, kata saya persis dengan femomena pembulli jomblo yang seperti tiada habisnya. Sederhana kata saya, fenomena pembuli jomblo ini sudah masuk kategori sebuah penyakit sosial. Lho kok bisa?

Begini, persis seperti sodomi menular. Berawal dari entah siapa yang membuli jomblo, meninggalkan luka terpendam di hati si jomblo. Suatu saat ketika si jomblo ini menikah, euforialah dia. Dia tak tahan menahan hasrat membuli orang lain karena dirinya telah ‘merdeka’. Dia lantas membulli jomblo lainnya. Begitu terus menjadi seperti tali yang entah di mana ujungnya. Mereka sok-sokan berdalih memotivasi jomblo biar menikah. Memburu-buru orang menikah. Kayak dia ga pernah jomblo aja. Lha kalau belum dipertemukan dengan calonnya? Apa tidak mikir, kalau yang dibulli itu terluka hati? Atau bahkan bisa jadi memancing orang membuat keputusan yang salah hanya agar tidak dibulli lagi?

Hmmm. Ini menyedihkan. Menikah, kalau sudah waktunya akan menikah juga. Bukan prestasi yang apalah. Toh banyak tuh yang MBA. Apa itu prestasi? Dan yang sangat saya sesalkan, banyak dari kalangan yang sudah mengaji, tetapi tetap saja membulli kawannya yang masih jomblo. Mentang-mentang sudah menikah?

Maka dari itu, melalui postingan ini, saya sedang membuat janji pada diri sendiri agar besok setelah menikah, saya bisa berkomitmen memutus rantai penyakit sosial di atas. Bismillah.

Akhirnya pecah telor bulan ini dengan tjurhat. Ha!

Cheers,
Dyah Sujiati

Advertisements

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged . Bookmark the permalink.

6 Responses to Janji dan Komitmen

  1. shiq4 says:

    Lha saya dari dulu jompo masih asyik aja. Nggak terlalu mikirin apa kata orang. Yang penting saya bahagia dan nggak seperti yang orang lain kira karena menimbulkan saya.

  2. erzedaily says:

    saya juga jomblo mba, tapi gak tersinggung juga kalo ada yang ngebully tentang jomblo. bahkan saya sendiri sering menertawakan nasib kejombloan saya. 😀

  3. erzedaily says:

    mba, tutor nyantumin tweet di wordpress dong 😀

  4. Puk puk mbak, salam bersatu jomblo sedunia 😹

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s