Above How, There is “Who”

Kisah ini adalah episode kedua drama “Liburan ke Bromo (Lagi)”. Satu episode refer to satu hari maksud saya, haha. Hari itu adalah Senin, 24 April 2017. Rencana kami adalah selepas Subuh kami segera keluar homestay lalu menuju bukit Mentigen untuk berburu sunrise lalu ke Seruni Point. Tapi rencana tinggallah rencana. Usai Subuh saya tidur lagi dan baru bangun jam 5.23. Aini tak tega membangunkan saya dan dia bersabar menunggu saya terbangun. Akhirnya dengan sedikit penyesalan kami berangkat. Lantaran matahari sudah hampir setinggi galah.

Kami bertemu lagi dengan tukang ojek yang dulu pernah mengantar saya dan Mbak Maya. Dia tentu memaksa kami agar memanfaatkan jasanya. Terpikirlah untuk ke Mentigan dan Seruni naik ojek. Kami mendapat harga 25 ribu per orang untuk ke dua destinasi tersebut. Jaraknya memang tidak terlalu jauh. Bonusnya sih kami jadi punya tukang foto yang bisa memfoto kami berdua. Walaupun hasilnya macam di bawah ini. *#:-S whew!

Setiba di Seruni, ternyata Mas ojek dapat order dari pihak lain. Dan dia meninggalkan kami begitu saja di Seruni point dan dia minta dibayar seikhlasnya saja. Jahatnya *:( sedih

Kami pulang harus jalan kaki dari Seruni sejauh 3 kilometer. Tak apa, kami tetap menikmati. Kami berdoa semoga Allah kirimkan malaikat lagi untuk menemani perjalanan kami seperti kemarin yang tetiba kami diberi tumpangan jeep rombongan sekeluarga dari Kediri. Walalupun dari Seruni Point tidak ada sama sekali jeep. *:)) tertawa

Tapi Allah Maha Baik. Dia kirimkan seorang bule tampan dari belakang kami. Hahaha. Sebenarnya kemarin kami satu elf saat berangkat, tapi kami sama sekali tidak peduli padanya. Kami menyapa Mas bule. Dia jawab. Dan ngobrollah kami. Perjalanan dari Seruni Point menjadi sangat menyenangkan dan kami sama sekali tidak merasa lelah. Betapa Dia Maha Penyayang.

Kami bertukar banyak cerita walaupun lebih banyak dengan bahasa isyarat. Karena bahasa Inggris kami sama-sama buruk. Hahaha. Mas bule asli Spanyol dan maaf saya tidak ingat betul namanya siapa. Dan khawatir salah penulisan juga. (Alasan)

Dan segalanya, berjalan dengan baik, seperti ada sutradara yang mengarahkan para pemain film untuk memerankan perannya. Mulai dari saya bangun kesiangan, tukang ojek yang ingkar janji dan meninggalkan kami, lalu pertemuan ini. Seolah semua telah ada skenario yang ditetapkan.

Ketika kami hampir berpisah, Aini meminta saya bertanya pada Mas Bule. Bagaimana pandangan dia terhadap kami? Kami muslimah dengan pakaian syar’i. Kami bahkan mengibar-kibarkan rok lebar kami macam penari sufi. Haha. Tidakkah dia takut kami seorang teroris sebagaimana media mencitrakan muslimah dengan pakaian syar’inya identik dengan teroris?

Dia bilang tidak. Dia menghargai kami. Dia menghargai keberagaman. Dia tidak memaksakan kehendak (macam entuh pendukung penista agama, kalau nggak sependapat ama mereka langsung main cap rasis lah, intoleran lah, embuh lah). Dia ceritakan bahwa pengalamannya mbolang buana selama ini ke berbagai dunia telah mengajarkan dia tentang keberagaman. Ini adalah kunjungannya ke Indonesia yang ketiga.

Lalu seperti ada yang mengatur, sampailah saya pada sebuah pertanyaan. Dengan bahasa Inggris saya yang kacau, saya tanyakan padanya (intinya): selama ini Anda keliling dunia, menyaksikan keindahan alam yang mengagumkan. Tidakkah Anda berfikir siapa yang menciptakannya?

Dia justru balik bertanya kepada saya. Dan menjawab dengan mantap, “jika saya ditanya seperti itu, saya pasti akan menjawab: Tuhanku!”

“Siapa Tuhanmu?” Balasnya

“My God is Allah!” jawab saya sambil tersenyum manis padanya. (tidaaaak)

“I don’t believe God.” Katanya. “Jadi selama ini saya hanya berfikir tentang bagaimana (how) semua itu terjadi.” Dia lalu menjabarkan pemikirannya tentang “how” tersebut. Disambung dengan diskusi dengan Mbak Aini. Saya diam menyimak. Saya sudah paham sih arah pemikirannya, tak jauh dari atheis kebanyakan.

Lalu saya sampaikan padanya, “Okey, I understand what do you explain. For our special meeting here, I want to give you something likes homework.” (bahasanya booo)

“When you see beautiful scenary in this world, you think how there was be. Now, please try to think: who create that. Because, above how, there is who. Who that makes how happen.”

Saya sulit memvisualisasikan kejadian di menit-menit perpisahan kami tersebut. Dia sempat meminta saya buku. Karena tak ada persiapan, saya minta dia belajar Al Qur’an.

Semoga pertemuan kami adalah bagian dari rangkaian takdir yang baik, semoga Mas Bule tertakdirkan mendapat hidayah. Amin.

Cheers ^_^
Dyah Sujiati

Advertisements

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang blogger yang cuma punya sosmed Twitter, tidak punya Facebook, Instagram, Path, dll*
This entry was posted in Hikmah, My Journey and tagged , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Above How, There is “Who”

  1. mawi wijna says:

    Eh yang kalimat ini,
    “Dia tidak memaksakan kehendak (macam entuh pendukung penista agama, kalau nggak sependapat ama mereka langsung main cap rasis lah, intoleran lah, embuh lah).”

    menurutku itu bisa dibilang nggak jauh beda dengan pemaksaan kehendak dari sudut pandangmu. CMIIW

  2. winnymarlina says:

    semoga si mas bulenya dapat hidayah

  3. kok gak difoto mas bulenya??? hehe

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s