Dilema di antara Cinta

Uhuks, judulnya. :p

Belakangan ini, salah satu tema yang sedang ramai diperbincangkan di dunia Twitter adalah tentang boikot kedai kopi Sturbucks. Hesteg-nya #BoikotStarbucks.

Seruan boikot Starbucks ini dimulai oleh KH. Anwar Abbas, (Sekjen MUI sekaligus pengurus Muhammadiyah) yang bersandar pada ucapan eks CEO Starbucks Howard Schultz yang mendukung LGBT. Lalu ramai kemudian. Biasa, pro dan kontra. Dan yang lebih biasa lagi adalah mereka yang menggemakan kebebasan (liberalis, red) marah-marah pada yang tidak sepakat dengan mereka. Oh betapa konsistennya mereka :p

Baiklah, as simple as I want to say to you, setidaknya tiga alasan kenapa boikot Starbucks yaitu:

  1. Boikot Starbucks Tegaskan Identitas Bangsa. Lengkapnya baca di sini atau di sini. Selain itu, LGBT TERLARANG di NKRI. Melawan Pancasila dan UU Perkawinan No.1/1974.
  2. Sebagai muslim, Al Qur’an dengan jelas menyebutkan bahwa homo adalah kemungkaran. Kalau homo bukan kemungkaran, kenapa kaum Luth yang demen homo diazab? Nah, kita mau berdiri di mana? Apakah di pihak yang mendukung kemungkaran atau yang menentangnya? That’s your preference, guys 😉
    Dan dengan mudah bisa ditebak khan, liberalis yang amat konsisten tadi berdiri di mana? :p
  3. Dari dimensi ekonomi, bukankah lebih baik kita mengkonsumsi produk dalam negeri? Katanya aku Indonesia, yuk buktikan! 😉

Itu hanyalah prolog, alasan sebenarnya saya menulis kali ini adalah paragraf selanjutnya. *gubrak, prolog koq sepanjang itu? :p

Ada sedikit kegalauan dalam menjalankan aksi boikot Starbucks. Yaitu daripara mempromosikan #BoikotStarbucks lebih baik kita gaungkan saja cintai kopi Indonesia. Alasannya karena dengan hesteg #BoikotStarbucks justru kita malah mempromosikan si Starbucks itu sendiri. Orang malah jadi penasaran. Lha? *ikon garuk-garuk dagu

Begini, kalau ajakan untuk memboikot kok malah bikin penasaran, itu artinya ada yang salah dengan sistem penerimaan informasi oleh otak dan pengolahannya menjadi tindakan. Analog dengan ada orang yang bilang “jangan pergi ke neraka”, eh malah penasaran pengen nyobain neraka. *twist

Kedua, boikot Starbucks adalah semacam tindakan nahi mungkar. Sedangkan cintai kopi Indonesia adalah bagian dari amar makruf. Dan sebagai muslim, kita diwajibkan both of two: amar makruf dan nahi mungkar. We can’t take only one. 😉

Cheers ^_^
Dyah Sujiati

Advertisements

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang blogger yang cuma punya sosmed Twitter, tidak punya Facebook, Instagram, Path, dll*
This entry was posted in Opini and tagged , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Dilema di antara Cinta

  1. shiq4 says:

    Sulit klo mau boikot merk ternama. Dulu juga gitu tentang KFC dan produk lainnya. Tapi gagal 😀

  2. kang nur says:

    Starbuk seperti apa…. Belum tau sudah disuruh boikot

  3. rizzaumami says:

    Wah bagus. Setuju sekali dg pendapatmu mbak. Suka kalo ada yg berpikiran seperti ini 😊

  4. winnymarlina says:

    klo gitu buat hastag cintai kopi Indonesia

  5. Pingback: Dilema di antara Cinta | DI KARANGANYAR

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s