Konferensi Pers: Pertemuan @dyahsuji dengan @didipras36 Yang Menyebabkan Kegaduhan

Judulnya ampooon!😛

Beberapa waktu yang lalu, beranda Twitter saya diramaikan dengan tantangan debat yang dilayangkan oleh Khoiron pemilik akun @mohkhoiron. Tema yang ingin diperdebatkan tentang pemikiran-pemikiran yang diasongkan JIL aka jaringan islam liberal. Khoiron adalah pendukung pemikiran-pemikiran JIL. Jadi tentu saja yang ditantang debat adalah orang-orang yang tidak mendukung pemikiran JIL atau kontra JIL.

Sayangnya, tantangan debat Khoiron di dunia nyata itu tidak dipenuhi oleh yang ditantang. Sehingga, Khoiron dan kawan-kawannya berfikir bahwa lawan yang ditantang tersebut melipir alias kabur tak punya nyali. Padahal sih, bisa jadi sibuk. Atau memang orang tidak ingin berdebat. Kecuali tantangan debat tersebut merupakan acara yang diselenggarakan resmi baru masuk akal dan bermanfaat. Saya jadi teringat acara debat terbuka yang diadakan di Hardrock FM dan akan disiarkan live antara pengusung JIL vs komunitas IndonesiaTanpaJIL. Sayang sekali perwakilan JIL tidak ada yang datang sehingga debat pun batal.

Posisi saya dalam hal pemikiran, adalah kontra pemikiran JIL.

Suatu hari, saya terlibat percakapan twit dengan Khoiron. Berikut urutannya.

image

Sebagai seorang Blogger yang doyan mbolang *ciee*, saya adalah orang yang amat menyukai pertemuan. Saya senang bertemu dengan siapa pun. Saya senang menambah teman dan bersilaturahim. Waktu itu kebetulan saya ada acara di Surabaya. Sehingga saya pun mengiyakan pertemuan yang ditawarkan. Namun sudah saya tegaskan di awal bahwa pertemuan itu adalah silaturahim. Tidak ada debat.

image

Bertemulah saya dengan pak Didi pemilik akun @didipras36 di hotel Yellow Surabaya. Waktu itu kami bertiga. Saya, teman saya, dan pak Didi. Pak Didi katanya mau datang dengan istrinya, tapi tidak jadi. Waktu itu kami membicarakan hal-hal yang bersifat daily life. Pak Didi kadang suka nyerempet ke dunia Twitter. Tapi secepat mungkin saya alihkan. 😁 Karena bagi saya, saat kita sudah bertemu di dunia nyata, ya kita bahas seputar dunia nyata saja. Kan kita bertemu untuk bersilaturahim, tidak ada embel-embel JIL-antiJIL. Toh pertemuan kami waktu itu bukan untuk debat apalagi forum resmi.

Andai ada rekaman pertemuan itu.. Tapi tak apa lah. Kan ada malaikat yang merekam dengan baik.🙂 Sampai di situ pertemuan saya dengan pak Didi. Setelah itu, antara saya dengan pak Didi biasa dan baik-baik saja.

Akan tetapi….
Saya tidak tahu-menahu ternyata setelah bertemu dengan saya, pak Didi membuat status terkait pertemuan itu. Karena saya tidak folow pak Didi.

Berikut statusnya.

image

Karena dunia maya bisa menjadi sesempit gadget, status pak Didi dua bulan kemudian, terbaca oleh bu Onya pemilik akun @Onyaaza. Kebetulan, bu Onya adalah salah satu orang yang dipaksa-paksa kawan-kawan Khoiron untuk ketemuan. Bu Onya yang mendapati status pak Didi, kemudian jadi merasa perlu memperingatkan saudara-saudara muslimah-nya agar tidak mau diajak ketemuan.

image

Sebab orang pada normalnya, kalau membaca status pak Didi itu ya mengandung kalimat pelecehan. Kalimat “selanjutnya terserah anda…” memberi kesan seolah orang yang ditemui itu bisa diapa-apain. Contohnya dituduh bisa dipoligami atau berani berbagi suami yang terkesan melecehkan. (Walaupun poligami sebenarnya adalah bagian dari syariat islam. Nanti islam-nya yang dibully sama orang yang ngaku islam juga karena gak paham konsep poligami. 😁)

Masalah yang kemudian muncul adalah ketika ada sebuah akun yang penasaran dan bertanya siapa yang telah dilecehkan. Di sinilah mulai gagal paham masing-masing pihak. Masing-masing pihak ngotot dengan persepsinya.

Parahnya, Khoiron malah buka kartu kalau status itu memang dibuat pak Didi usai ketemu saya. Sementara bu Onya tidak menyebut nama.
image

Padahal awalnya, bu Onya juga belum tau kalau status pak Didi itu benar dibuat setelah menemui saya. 😁

Lantas, bagaimana bisa jadi ribut semalaman dan saya kebanjiran mensyen caci maki nggak karuan?

Masalahnya bukan saat pertemuan saya dengan pak Didi terjadi pelecehan atau apa. Tapi setelah pertemuan itulah, pak Didi membuat status seperti yang saya cascus di atas. Akar masalahnya adalah terletak di pelecehan yang berupa “selanjutnya terserah anda…”.

Bagi orang pada normalnya, kalimat: “selanjutnya terserah Anda” itu sebagai bentuk pembuka pintu kepada audiens/pembacanya untuk meneruskan sesuai imajinasinya. Nah di situlah rentan pelecehan. TAPI bagi Khoiron dan kawan-kawannya yang mendukung pemikiran JIL, kalimat tersebut bukanlah pelecehan. Mungkin yang namanya pelecehan itu kalau sudah diperkosa kali ya? Belum tentu juga dink. Kan masih bisa beralasan “suka sama suka”. #Eh

image

Okey, penjelasan saya sampai di sini saja ya. Selanjutnya, terserah Anda… 😁 😁 😁