Not Fair Enough Between Us

Hubungan antarpersonal di dunia maya ternyata sangat menarik dan beragam. Bagi saya secara pribadi, baik dunia nyata maupun di dunia maya akan berlaku satu hal yang sama dalam hal pertemanan. Yaitu kecocokan satu dengan yang lain.

Sayangnya, di dunia maya ada orang anonim. Orang yang tidak ingin identitasnya diketahui orang lain. Saya yakin mereka pasti punya alasan untuk menjadi seorang anonim. Saya pun menghargai preferensi tersebut.

Dunia maya telah mempersaudarakan saya dengan banyak orang. Baik dari blog maupun dari Twitter. Kalau di blog sih sudah jelas tidak anonim ya yang akhirnya berteman dengan saya. Tapi kalau di Twitter, ada beberapa anonim yang bisa berteman dengan saya. Walaupun sampai saat ini saya tidak tahu pasti nama aslinya. Namun beliau sudah banyak sekali membantu saya. Haha (kayaknya ini saya yang keterlaluan 😁)

Saya adalah orang yang sangat senang berteman dengan siapa pun. Saya sangat terbuka untuk berteman. Termasuk terbuka untuk berteman dengan anonim. Namun, secara pribadi saya tetap ‘mempersyaratkan’ dua hal yang harus saya ketahui dari seorang anonim. Yaitu nama dan usia. Itu preferensi saya. Because this is me.

Di sisi lain, pertemanan dengan seorang anonim di dunia maya rada mirip dengan pertemanan yang berasal dari sms/telpon yang nyasar. Awalnya kita tak tahu siapa dia. Tapi kalau akhirnya dia jujur menyampaikan siapa dia, kita bebas donk menentukan untuk berkawan dengannya atau membiarkannya seperti angin lalu saja. Nah, saya sendiri ketika ada nomer nyasar berupa sms, PASTI akan saya abaikan! Kalau dia butuh dia akan menelpon. Itu prinsip saya. Begitu juga jika ada nomer baru menelpon saya. Kalau saya mengetahuinya, PASTI saya angkat dan bicara baik-baik. Kalau ternyata orang iseng, pasti saya skak sehingga dia kapok. Hahaha.

Lalu jika ada seorang anonim yang ingin bersilaturrahim dengan saya, saya sangat senang. Asalkan dua syarat terpenuhi. Itu saja. Jika tidak, it was not fair enough between us. Dan saya pun tidak mau ‘bermain-main‘ (tebak-tebakan) terlalu lama dengan anonim hanya untuk menyelesaikan dua syarat itu.

Dua syarat yang saya minta sama sekali tidak mengurangi kadar anonimitas seseorang kan? Sebab saya menghargai alasan seseorang menjadi anonim. Cukup adil kan? Namanya juga bersilaturrahim, setidaknya kita tau lah kita lagi ngobrol sama orang seperti apa.🙂

Karena itu, saya menyediakan waktu 24 jam bagi seorang anonim untuk menyelesaikan dua syarat yang saya ajukan. Nggak langsung skip kayak sms nyasar atau skak telpon nyasar. Jadi saya masih membuka ruang kan untuk sebuah persaudaraan?🙂

Lantas jika terlambat, ya wallahu’alam. Apakah kita masih tertakdir untuk bersahabat atau tidak, saya tidak bisa menjaminnya. Saya hanya orang yang berusaha mensinkronkan antara kata dan perbuatan. Dan saya juga berpedoman pada sebuah hadits yang menyatakan bahwa seorang muslim adalah orang yang menghindari kesia-siaan.🙂

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s